Malam ini Geisha diajak oleh Karina untuk melihat-lihat isi didalam kamar Kaivan. Sebenarnya Geisha memang cukup penasaran kenapa tiba-tiba saja Karina mengajaknya kesini. Yang membuatnya salah fokus adalah foto polaroid yang sengaja digantung dan ditempel di dinding-dinding kamar. Foto dirinya dan juga Kaivan saat mereka menghabiskan waktu berdua pun ikut di pajang disana bahkan foto tersebut lah yang paling banyak tertempel.
Kedua sudut bibir Geisha tertarik memperlihatkan senyuman tipis. Ia jadi teringat saat-saat dimana dirinya sering menghabiskan waktu bersama Kaivan.
"Kai, aku rindu," batinnya berucap lirih.
Ia mengusap sudut matanya dengan cepat begitu merasakan cairan yang berasal dari matanya akan jatuh.
Ya, Geisha menangis. Apapun yang berhubungan dengan Kaivan, Geisha pasti akan kembali merasa sedih.
Kenangan bersama cowok itu seakan sulit untuk ia lupakan dan berusaha ia halau agar tak selamanya berada dalam posisi dimana dia masih belum sepenuhnya ikhlas dengan kepergian cowok itu. Semua yang berhubungan dengan Kaivan seolah sudah sangat melekat dalam dirinya. Rasanya sakit sekali ketika dipaksa untuk mengikhlaskan orang yang kita sayang.
Karena ikhlas sejatinya bohong karena yang benar itu terpaksa lalu terbiasa. Dan semuanya itu juga menyangkut tentang waktu.
Untuk saat ini Geisha memang belum sepenuhnya bisa ikhlas tapi ia yakin seiring berjalannya waktu ia bisa mengikhlaskan Kaivan dengan lapang dada. Ia hanya butuh waktu dan dukungan dari orang-orang terdekatnya.
"Nangis aja sayang, mama paham perasaan kamu" Karina mengusap bahu Geisha yang mulai sedikit bergetar.
"Mama, Geisha rindu Kaivan...," ucap anak itu lalu berhambur memeluk Karina.
Karina mengusap punggung Geisha memberi ketenangan untuk menantunya.
"Kamu pasti bisa, kita sama-sama ikhlasin Kaivan ya, mama yakin Kaivan sudah bahagia diatas sana. Dia sudah tidak lagi merasakan sakit atas penyakitnya, dia sudah tenang, Nak." Karina berbisik pelan.
"Geisha nggak bisa, Ma, Geisha pengen Kaivan balik dan temenin Geisha disini."
"Karena cuma Kaivan, Ma, yang selalu ada untuk Geisha setelah ayah."
"Kaivan cowok terbaik setelah ayah Geisha, Ma. Geisha masih butuh Kaivan disini, Geisha pengen dipeluk Kaivan lagi hiks."
Karina memejamkan matanya yang sudah nampak berair itu. Wanita itu juga ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Geisha saat ini. Ia tau sepenting apa Kaivan dalam hidup Geisha begitu pun sebaliknya. Putra bungsunya itu begitu menyayangi Geisha seperti halnya menyayangi mamanya sendiri. Sebab, bisa dibilang Geisha lah cinta pertama dan terakhir untuk putranya itu.
"Kai, lihatlah kesayangan mu kembali menyayangkan kepergian mu. Kamu yang tenang ya, nak, Geisha aman disini, mama akan jaga semampu yang mama bisa."
***
Reygan yang baru saja turun dari lantai dua langsung disambut Mamanya yang sedang duduk berdua dengan Papanya di ruang tamu.
"Rey, sini," titah Karina.
Dengan malas Reygan menurut dan ikut duduk disamping mamanya. Wajahnya terlihat datar sesekali membuang muka saat tak sengaja bersitatap dengan ayahnya.
"Ada apa, ma?" tanya pemuda itu lembut.
Karina sedikit menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan sang putra. "Mama cuma mau tanya, tapi kamu jangan tersinggung."
KAMU SEDANG MEMBACA
REYGANSHA [END]
Roman pour Adolescents[ FOLLOW SEBELUM BACA AGAR PART BARU BISA MUNCUL] ** Sepenggal kisah tentang si pembully yang jatuh cinta dengan gadis yang sering ia bully. Dan ini juga tentang Reygan Jordanio yang hidupnya penuh dengan kepalsuan. Wajah yang terlihat tenang namun...
![REYGANSHA [END]](https://img.wattpad.com/cover/356972339-64-k645209.jpg)