Chapter 70: Akhir Penantian Yang Berbuah Manis

5K 147 7
                                        

Pria berjas hitam itu berlari tergesa di sepanjang lorong koridor rumah sakit yang cukup ramai malam hari ini. Tadi, saat sedang mengadakan rapat penting di kantornya, tiba-tiba saja ia diberi kabar oleh Karina bahwasannya Kania yang merupakan istri pertamanya itu akan segera melahirkan anak pertama mereka yang sudah hampir empat tahun mereka tunggu.

Alasan itulah yang membuat Darius terpaksa menikah lagi atas paksaan dari istri pertamanya yang pada saat itu sudah pasrah jika memang dirinya tidak bisa memberikan keturunan untuk suaminya. Maka dari itu, Kania memohon pada sang suami untuk menikah lagi dengan kakak kandungnya yang memang pada saat itu masih single.

Tentu saja Darius menolak juga dengan Karina, tapi atas dasar paksaan dan juga permohonan yang diajukan oleh Kania, keduanya pun akhirnya pasrah dan berakhir menikah.

Beberapa bulan kemudian Kania dinyatakan hamil anak pertamanya, sungguh kabar baik itu adalah kabar paling mengejutkan bagi Kania dan juga Darius. Setelah mengetahui kehamilan Kania, istri pertamanya, Darius berniat ingin menalak Karina, istri keduanya. Namun, siapa sangka ternyata Karina juga dinyatakan hamil bahkan usia kehamilannya tak jauh berbeda dengan Kania, istri pertamanya. Hanya berjarak dua bulan saja.

Karena hal itulah, mau tak mau Darius harus mempertahankan Karina yang pada saat itu juga tengah mengandung darah dagingnya.

Setiap harinya, Darius harus bisa membagi waktu untuk kedua istrinya yang sama-sama tengah hamil anaknya itu. Meski terkadang ia lebih mementingkan Kania ketimbang Karina, istri keduanya. Sebab, menurutnya Kania memang pantas mendapat itu semua darinya karena ia sendiri begitu mencintai Kania. Namun, tidak dengan Karina, ia menikah dengan wanita itu hanya karena paksaan dari Kania dan pernikahan itu tidaklah pernah didasari oleh cinta ataupun suka sama suka. Lantas untuk apa ia harus terus berpura-pura menjalankan tugasnya sebagai seorang suami yang semestinya? Bukankah itu sama saja akan menyakiti hati istri pertamanya? Terdengar egois memang, tapi menurut Darius itu hal yang sangat wajar, jika cinta dan perasaan memang tidaklah mungkin bisa dipaksa seperti halnya dirinya. Ia tidak mencintai Karina untuk apa ia peduli dengan wanita itu? Dengan memberikan kebutuhan yang diperlukan oleh wanita itu selama kehamilan menurutnya sudah sangat cukup.

Perihal perasaan wanita itu? Darius tak peduli.

Darius tersenyum haru memandang wajah merah putra pertamanya yang kini sudah berada digendongan nya. Setelah menyuarakan azan ia pun kembali menaruh putra kecilnya itu di tempat keranjang bayi yang berada di ruangan khusus bayi.

"Pak, biar saya saja yang menjaga anak bapak di sini, barangkali bapak ingin menemui istri bapak di ruangannya," ucap salah seorang suster yang memang bertugas mengecek keadaan beberapa bayi di sana.

Darius tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan. "Kalau gitu saya temui istri saya dulu, sus, nitip anak saya ya?"

"Iya, pak. Silahkan," jawab ramah sang suster.

Dengan langkah cepat, Darius bergegas ke liar dari dalam sana. Berjalan sangat cepat agar bisa segera sampai di ruangan sang istri.

Baru saja tangannya membuka kenop pintu tersebut tubuhnya langsung di buat menegang di tempat. Suara tangis pilu yang begitu ia kenali adalah hal pertama yang tersugukan di dalam ruangan tersebut juga dengan tubuh lemah sang istri yang baru saja akan di tutup dengan kain putih polos oleh seorang dokter yang sempat menangani istrinya bersalin.

Wajah pucat serta mata yang tertutup rapat itu sukses membuat seluruh aliran darah di tubuhnya berhenti sejenak. Kedua maniknya memanas pertanda cairan bening itu akan segera turun lewat matanya yang sejenak ia pejamkan.

Ia membuka kembali matanya berharap jika ini adalah mimpi namun ternyata dugaan salah, ini benar-benar nyata.

"Dok, istri saya?"

REYGANSHA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang