"Ma..a-ampun."
"Tolong jangan..aku takut gelap."
Geisha yang terus saja meronta tak sama sekali membuat Rissa menghentikan aksinya. Wanita itu sudah gelap mata sendiri dengan anak sambungnya itu.
Brak!
Rissa menendang pintu gudang dengan keras. Menyeret Geisha dengan kasar masuk kedalam.
Dugh!
Geisha menggerang kesakitan lantaran punggung ringkihnya membentur sebuah kursi yang sudah nampak usang di dalam sana akibat dorongan kuat dari Rissa.
Plak!
Plak!
Dua tamparan keras mendarat sempurna dikedua pipi Geisha yang sudah basah karena air mata. Tatapan tajam Rissa seolah menghunus tajam kearah matanya yang nampak sembab. Tatapan yang begitu mematikan seolah ingin menghabisinya saat ini juga.
"Gadis bodoh, buruk rupa seperti kamu memang pantasnya itu mati, sialan."
"Mati seperti ibu kamu," ujar Rissa sarkasme.
Hati Geisha mencelos begitu saja, rasa sesak didalam sana membuat dirinya sedikit kesulitan untuk bernapas. Napasnya sampai tersengal-sengal lantaran terus saja menangis. Ucapan santai yang keluar dari bibir Rissa kembali membuat luka lama dimasa lalu. Perih, seperti ada ribuan pisau yang menikam dadanya.
"Ma, jangan bawa-bawa Bunda aku, bunda nggak salah," ucap Geisha dengan tangisnya yang semakin menjadi.
"Diam kamu! Kamu itu anak kecil yang tidak tau apa-apa. Kamu hanya anak haram! Anak yang tidak diinginkan!" Suara Rissa mulai meninggi.
Wanita cantik itu memang begitu gampang terbawa emosi apalagi ini menyangkut almarhumah Ibunda Geisha.
Dugh!
Rissa menendang kaki Geisha dengan kuat membuat sang empu merintih kesakitan. Rissa tersenyum miring mendengar itu. Hatinya puas saat rasa kesalnya bisa ia lampiaskan pada Geisha, gadis malang itu.
Tak sampai situ, Rissa melirik sekitar senyum miringnya tercetak kala melihat sebuah balok kayu di pojok ruangan. Wanita itu berjalan mengambil balok kayu tersebut.
Geisha mundur beberapa inci, jantungnya berdegup kencang, keringat dingin keluar berangsur-angsur. Kepalanya menggeleng cepat saat Rissa semakin mendekat dengan balok kayu ditangannya.
"M-ma, tolong jangan aku mohon..." Geisha semakin menggeser tubuhnya dengan kepala yang terus menggeleng pun dengan air matanya yang sejak tadi terus berjatuhan.
Entah sudah berapa banyak air mata yang ia keluarkan.
Langkah Rissa semakin mendekat, wanita setengah baya itu menatap Geisha tajam. Rissa mengangkat balok kayu tersebut lalu memukulkannya pada punggung ringkih milik Geisha.
"Akkhh." Geisha mengerang keras.
Rasa sakit yang tak main-main itu menjalar keseluruh tubuhnya yang penuh dengan luka. Luka dipunggung nya belum juga sembuh dan kini luka itu akan ditambah lagi.
Geisha tak bisa melawan, yang bisa Geisha lakukan hanyalah menangis. Ingin mengadu kesakitan pun tidak ada gunanya, Rissa tidak sebaik itu untuk mengasihaninya.
Dugh!
"Akhh"
"Ampun ma...s-sakit!!"
Rissa seolah menulikan pendengaran nya, ia semakin gencar untuk menyiksa Geisha. Wanita itu benar-benar tidak memiliki rasa kasihan sedikitpun pada Geisha.
KAMU SEDANG MEMBACA
REYGANSHA [END]
Novela Juvenil[ FOLLOW SEBELUM BACA AGAR PART BARU BISA MUNCUL] ** Sepenggal kisah tentang si pembully yang jatuh cinta dengan gadis yang sering ia bully. Dan ini juga tentang Reygan Jordanio yang hidupnya penuh dengan kepalsuan. Wajah yang terlihat tenang namun...
![REYGANSHA [END]](https://img.wattpad.com/cover/356972339-64-k645209.jpg)