Chapter 18: Maaf Untuk Mama

6.4K 195 9
                                        

Reygan memarkirkan motornya disamping motor para sahabatnya. Sontak saja kedatangannya itu disambut ricuh oleh para sahabatnya yang tengah duduk di bangku panjang warung tersebut. Warung sederhana yang letaknya jauh dari permukiman itu adalah tempat tongkrongan bagi mereka.

Hampir setiap malam mereka berkumpul disana untuk melihat balap liar atau kadang mereka juga akan mengikut serta jika mereka sedang gabut atau sedang ada masalah. Ditempat itu tidak hanya para sahabat Reygan saja, tapi juga ada anak-anak lain yang ikut memeriahkan balap liar kali ini. Suasana disana cukup bising dengan banyak para remaja yang bersorak mendukung jagoannya.

Reygan menghampiri ketiga sahabatnya dengan wajah datar yang tak sama sekali berubah. Ia duduk disalah satu kursi disana lalu memandangi wajah sahabatnya satu persatu.

"Sorry gue telat, " ucap cowok itu.

Mata Kenzo terlihat memicing saat fokusnya teralihkan pada semburat warna kemerahan di pipi sebelah kiri Reygan. "Abis ditampar siapa lo? Pipi lo sampe merah gitu." Kenzo sangat yakin jika warna kemerahan itu adalah bekas tamparan seseorang.

Raga yang awalnya asik bermain game sontak menatap Reygan, lebih tepatnya melihat pipi cowok itu. "Anjing siapa yang udah berani nampar lo, Rey?" tanya cowok itu heboh.

"Nggak penting, gue mau balap malam ini. Kasih gue lawan yang sepadan," ucap Reygan tak mengindahkan pertanyaan sahabatnya.

"Lo yakin mau balap? Lo aja masih boyok gini," tanya Kenzo memastikan. Pasalnya melihat wajah Reygan yang masih terlihat kebiruan membuatnya sedikit ragu. Apalagi melihat sorot mata Reygan yang terlihat sedang menahan emosi membuatnya semakin ragu. Reygan tidak akan balapan dalam suasana hati yang sedang buruk kan? Jujur saja ia khawatir jika cowok itu terjadi apa-apa nantinya.

"Gue oke," balas Reygan singkat.

Kenzo menatap dua temannya satu persatu seolah meminta tanggapan. "Udah lah kasih aja, lumayan kalo menang kita bisa party," usul Raga dengan santainya.

Kenzo menghadiahi pukulan keras pada lengan cowok itu yang sukses membuat Raga mengadu kesakitan. "Dasar mata duitan lo!" sungutnya.

"Ayo temenin gue bilang kesana." Kenzo menarik paksa Raga seperti menarik seekor kambing karena Raga yang terus memberontak.

"Kenzo sialan! Gue lagi war anjing!" teriak Raga menggebu-gebu.

Kenzo justru tertawa puas, ia menarik Raga lebih kuat alhasil Raga pun pasrah mengikuti cowok itu.

Kini dimeja bundar itu hanya ada Elgara dan Reygan yang sama-sama diam. Namun tak berselang lama suara Elgara terdengar. "Kalo lagi ada masalah tuh ngadu sama yang diatas bukan malah cari kesenangan sesaat kayak gini," ujar cowok itu menatap Reygan dengan wajah datarnya.

"Bacot! Gue nggak perduli," sahut Reygan cepat.

Lantas cowok itu bangkit dan meninggalkan Elgara yang kini tersenyum mengejek menatap kepergiannya.

"Dasar batu," cibirnya dengan malas.

***

Suasana disana semakin riuh karena suara para penonton yang saling bersahut-sahutan guna mendukung jagoan mereka yang sebentar lagi akan saling adu kecepatan dan merebutkan hadiah yang cukup fantastis malam ini.

Reygan tidak tergiur dengan nominal hadiahnya cowok itu hanya ingin melampiaskan rasa kecewa, marah yang sejak tadi ia tahan malam ini dengan cara kebut-kebutan dijalanan. Ia sama sekali tak takut jika akan terjadi sesuatu pada dirinya saat di jalanan nanti.

REYGANSHA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang