Kedua mata milik Geisha perlahan mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya. Perlahan ia memposisikan tubuhnya menjadi duduk. Matanya mengedar menatap sekeliling yang nampak tidak asing lagi baginya. Helaan napas kasar terdengar. Geisha lelah, tubuhnya yang lemah membuat dirinya sering kali keluar masuk UKS tempat yang paling ia benci sejak dulu setelah rumah sakit.
Geisha mengalihkan pandangannya kearah pintu kala mendengar suara pintu yang terbuka. Seorang guru perempuan selaku guru penjaga UKS menyembul dari balik pintu dengan membawa nampan ditangannya.
Guru perempuan itu tersenyum kearah Geisha yang dibalas senyum tipis oleh gadis itu. Bu Desi berjalan pelan menghampiri Geisha lalu menaruh nampan yang ia bawa pada meja kecil yang letaknya didekat ranjang UKS.
"Kamu sudah enakan?" tanya guru itu dengan lembut.
Geisha mengangguk merasa nyaman saat tangan Bu Desi mengusap kepalanya. Ia seolah merasakan kembali sentuhan hangat seorang ibu yang sudah sejak lama ia rindukan.
"Maag kamu kambuh, kamu melewatkan jam makan mu lagi, Gei?" tanya Bu Desi yang kini sudah duduk dikursi yang berada disamping ranjang.
Geisha diam dengan ragu ia mengangguk dengan kepala menunduk.
Bu Desi membuang napasnya kasar, guru yang terlihat masih muda itu sedikit bergeser mengambil bubur yang sempat ia beli di kantin lalu ia sodorkan pada Geisha.
"Dimakan, setelah itu minum obat," titahnya tanpa ingin dibantah.
Geisha mendongak menatap Bu Desi sebentar lalu beralih pada semangkuk bubur didepannya. Ia menelan ludahnya kasar, perutnya tiba-tiba saja terasa seperti diaduk. Karena tak tahan dengan rasa mual diperutnya, Geisha sedikit menjauhkan mangkuk bubur tersebut dari hadapannya.
Bu Desi mengerutkan keningnya heran dengan tingkah laku anak didiknya. "Kenapa, Gei?"
"Maaf, aku nggak suka bubur, Bu, perut aku jadi mual," jawab Geisha dengan jujur.
Sejak kecil Geisha memang tidak menyukai bubur ayam yang menurutnya terlalu lembek seperti muntahan bayi membuat perutnya langsung mual saat melihatnya.
"Yasudah, ibu ganti makanan lain. Mau ibu bawakan apa?" tawar Bu Desi dengan rasa pengertian yang tinggi.
Geisha menggelengkan kepalanya tanda menolak. Bukan apa-apa, ia hanya tidak ingin merepotkan Bu Desi, bagi Geisha Bu Desi sudah mau memperlakukan dirinya dengan baik saja ia sudah sangat-sangat berterimakasih.
"Tidak usah, Bu, saya nggak laper kok," tolaknya seraya tersenyum.
"Ibu nggak usah repot-repot buat lakuin itu, bagi Geisha ibu sudah memperlakukan Geisha dengan baik selama ini sudah sangat cukup. Geisha benar-benar berterima kasih pada Bu Desi. Geisha nggak tau kalo nggak ada Ibu yang nolong Geisha ditoilet tadi apa yang bakal terjadi pada Geisha. Geisha berhutang budi pada Bu Desi," lanjut Geisha panjang lebar.
Bu Desi memandang sendu Geisha yang masih tersenyum begitu manis kearahnya. Salah satu anak didiknya itu sukses membuatnya merasa terharu. Hal kecil yang ia lakukan pada Geisha ternyata memiliki efek besar bagi gadis malang itu.
"Sama-sama Geisha, itu sudah menjadi tugas ibu sebagai orang tua kamu disekolah jadi jangan sungkan sama ibu ya? Tapi tunggu, barusan kamu bilang ibu yang nolong kamu ditoilet?"
Geisha mengangguk cepat. "Iya, ibu kan yang bawa Geisha kesini?"
"Bukan! Bukan ibu, Gei-tapi Kaivan," sahut Bu Desi.
Geisha kontan mematung ditempat. Pikirannya menerawang jauh memikirkan siapa itu Kaivan? Bagaimana mungkin ada murid disekolahnya yang mau menolongnya? Geisha menggeleng pelan menepis pikiran anehnya. Ah, mungkin Kaivan adalah salah satu guru baru disekolah ini-ah, atau mungkin itu satpam baru disekolahnya?
KAMU SEDANG MEMBACA
REYGANSHA [END]
Teen Fiction[ FOLLOW SEBELUM BACA AGAR PART BARU BISA MUNCUL] ** Sepenggal kisah tentang si pembully yang jatuh cinta dengan gadis yang sering ia bully. Dan ini juga tentang Reygan Jordanio yang hidupnya penuh dengan kepalsuan. Wajah yang terlihat tenang namun...
![REYGANSHA [END]](https://img.wattpad.com/cover/356972339-64-k645209.jpg)