Kepalanya menengadah keatas langit cerah diatas sana. "Kenapa hidup gue semenyedihkan ini? Dibuang oleh orang tua gue sendiri dan sekarang dibuat sakit oleh orang yang gue cintai."
"Apa gue bener-bener nggak pantes bahagia?" Kepalanya kembali tertunduk dalam.
Gadis malang itu masih menangis terisak dibawah sebuah pohon berukuran besar. Hatinya terluka dan terasa begitu perih sekarang. Pernah diterbangkan setinggi-tingginya lalu sekarang dijatuhkan sampai kedasar bumi.
"Al," panggil Geisha dengan usapan lembut di bahu yang nampak bergetar itu.
Selepas Alina pergi, Geisha pun memutuskan untuk mengikuti gadis itu karena ia yakin bahwa untuk saat ini suasana hati Alina bisa dibilang kurang baik dan benar saja, yang katanya Alina ingin pergi ke toilet justru berakhir pergi ke taman belakang, menangis seorang diri.
Alina yang awalnya menunduk pun mengangkat pandangannya. "Geisha?" beo gadis itu terkejut.
Dengan gerakan begitu cepat, Alina menghapus jejak air matanya dengan kasar setelah dirasa cukup bibir cewek itu mengulum senyum tipisnya.
Ia harus terlihat baik-baik saja didepan Geisha, meski sebenarnya terlambat, karena ia yakin Geisha sudah mendengar bahkan melihat dirinya menangis. Tapi setidaknya ia harus terlihat lebih kuat didepan Geisha maupun orang-orang.
"Aku boleh duduk?" tanya Geisha.
Alina mengangguk pelan sebanyak dua kali.
Geisha tersenyum tipis, lantas ia pun duduk disamping Alina dengan arah pandang kearah gadis itu. "Al, ada sesuatu yang mau aku beritahu sama kamu."
Alina yang sebelumnya menatap lurus kedepan sontak menoleh menatap Geisha dengan kerutan kecil di dahinya. "Sesuatu?" tanyanya yang dibalas anggukan kecil oleh Geisha.
Sebelum Geisha mengeluarkan suaranya ia lebih dulu mengambil napasnya dalam-dalam lalu meraih tangan Alina. "Ini tentang aku sama Elgara."
Alina diam dengan ekspresi wajah tak terbaca.
"Kamu pasti berpikir yang bukan-bukan tentang hubungan aku sama Elgara 'kan? Apalagi yang aku tahu kamu punya rasa sama Elgara. Aku paham sama perasaan kamu saat ini." Geisha menatap lekat wajah Alina yang tak menunjukkan ekspresi apapun.
"Kalau kamu berpikir Elgara punya rasa sama aku, kamu salah besar, Al."
"Tapi kenyataannya memang begitu Gei, Elgara suka lo, Gei" Alina menyahut cepat.
Geisha menggeleng cepat. "Kamu salah, Al, Elgara itu suka kamu. Aku yakin itu, aku bisa liat sendiri cara Elgara natap kamu dan ngasih perhatian kecil itu udah bisa ketebak."
"Enggak Gei, dia nggak punya rasa sama gue, dia cuma menganggap gue temannya dan selamanya akan terus begitu. Kayak yang dia bilang tadi dikantin."
"Dia itu suka lo Gei, apa lo selama ini nggak nyadar?" Alina memalingkan wajahnya kedepan. Rasa sesak itu kembali datang dan rasanya begitu menyakitkan.
"Al, dengerin aku dulu. Aku sama Elgara itu sepupuan kami berdua itu saudara dekat, Al."
"Maksud lo?" Alina menatap Geisha dengan wajah terkejutnya.
"Elgara sepupu aku, anak dari kakak Bunda aku," jawab Geisha.
"Jadi kalian sepupuan?"
Geisha mengangguk membenarkan.
"Kok bisa? Sejak kapan? Maksud gue kenapa gue baru tahu sekarang dan yang buat gue bingung kenapa kalian berdua dari dulu kayak orang yang nggak pernah saling kenal?" Kedua mata Alina memicing dengan wajah penuh tanda tanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
REYGANSHA [END]
Novela Juvenil[ FOLLOW SEBELUM BACA AGAR PART BARU BISA MUNCUL] ** Sepenggal kisah tentang si pembully yang jatuh cinta dengan gadis yang sering ia bully. Dan ini juga tentang Reygan Jordanio yang hidupnya penuh dengan kepalsuan. Wajah yang terlihat tenang namun...
![REYGANSHA [END]](https://img.wattpad.com/cover/356972339-64-k645209.jpg)