Hujan yang cukup deras, serta angin yang cukup kencang tak membuat gadis itu beranjak dari tempatnya. Duduk di depan sebuah gundukan tanah basah dengan terus menangis tersedu. Beruntung air hujan dan suara guntur berhasil menyamarkan suara tangisnya yang memilukan.
Banyak kata maaf yang ingin ia utarakan, banyak penyesalan yang timbul dari dalam hatinya. Maaf, karena telah menggantung sebuah perasaan dan menyesal karena terlambat mengutarakan perasaannya.
Kini semuanya sudah terlambat. Dia sudah pergi, pergi sangat jauh dan meninggalkan duka yang begitu mendalam bagi orang-orang terdekatnya.
Termasuk Geisha, cewek itu benar-benar merasakan kehilangan yang begitu mendalam. Hingga dua hari ini yang dia lakukan hanyalah menangis dan melamun seperti seseorang yang tak memiliki semangat hidup.
Ia hancur, sehancur-hancurnya. Orang yang ternyata benar-benar tulus mencintainya sudah tidak lagi berada di dekatnya. Mereka sudah jauh bahkan berbeda alam.
"Kai, aku hancur, dia jahat hiks." Ia menangis dengan terus mengusap patok kayu berwarna putih itu.
Cairan bening itu terus saja berjatuhan tanpa henti sejak awal dia datang kemari. Sudah terhitung dua jam lamanya dia menangis di depan gundukan tanah basah tersebut.
Menangis dan meraung di sana seorang diri.
"Rey ingkar janji, Kai. Dia pukul aku, dia tendang kepala aku bahkan dia tega menyalahkan ku atas kepergian mu." Ia kembali terisak pelan.
Potongan adegan dimana Reygan, memukul kepalanya, menampar pipinya bahkan menendang kepalanya tiba-tiba melintas dikepalanya. Hatinya seperti diremas-remas, sungguh sesak rasanya diperlakukan dengan kasar oleh suaminya sendiri.
"Aku takut, Kai, aku butuh kamu disini. Peluk aku sekarang, Kai, peluk tubuh lemah ku ini."
"Aku merindukanmu, juga dengan pelukan hangat mu itu. Semuanya tentang mu aku rindu-" Tenggorokannya tercekat tak mampu lagi mengucapkan banyak kata yang selama ini ia pendam.
Geisha memeluk gundukan tanah tersebut seakan-akan tengah memeluk orang didalamnya. Membayangkan jika gundukan tanah yang sedang ia peluk adalah Kaivan.
Hujan dan guntur siang hari ini menjadi saksi betapa kehilangannya Geisha atas kepergian Kaivan.
"Gei." Suara yang terdengar samar itu sukses membuat Geisha terpaku beberapa detik.
Suara itu, suara yang beberapa hari ini dia rindukan. Suara yang begitu lembut yang membuat hatinya tenang seketika. Dia kembali? Kaivan-nya kembali?
Grep!
"Kaivan, aku rindu," ucapnya lirih setelah berhambur memeluk tubuh seseorang itu dengan begitu eratnya.
"Gei, gue Elgara bukan Kaivan."
Deg!
Tubuh Geisha membeku ditempatnya. Perlahan pelukan itu terlepas begitu saja, wajahnya berubah pias yang sebelumnya nampak berseri.
Apa lagi ini tuhan? Mengapa semenyakitkan ini? Geisha takkan sanggup jika harus terus berada di situasi ini. Sungguh ia takkan sanggup, Tuhan.
***
Kini dua remaja berbeda gender itu tengah duduk saling bersebelahan di bawah halte yang letaknya tak jauh dari pemakaman.
Sama-sama diam dengan pandangan mengarah pada satu titik yang sama yaitu air hujan yang masih setia turun membasahi bumi. Cipratan akibat air hujan itu sesekali mengenai kaki mereka sampai-sampai membuat sepatu yang mereka kenakan ikut basah.
KAMU SEDANG MEMBACA
REYGANSHA [END]
Teen Fiction[ FOLLOW SEBELUM BACA AGAR PART BARU BISA MUNCUL] ** Sepenggal kisah tentang si pembully yang jatuh cinta dengan gadis yang sering ia bully. Dan ini juga tentang Reygan Jordanio yang hidupnya penuh dengan kepalsuan. Wajah yang terlihat tenang namun...
![REYGANSHA [END]](https://img.wattpad.com/cover/356972339-64-k645209.jpg)