Karina menggenggam tangan Reygan yang masih setia menutup matanya sejak satu jam yang lalu, sejak saat di mana dirinya menemukan anak itu tak sadarkan diri di dalam gudang dengan keadaan yang terlihat begitu memprihatinkan.
Darah segar di mana-mana disertai luka lebam pada sudut bibir dan juga pipinya yang berwarna biru keunguan.
Karina yang melihatnya pun meringis ngilu karena memang benar-benar parah dari luka-luka yang sebelumnya. Kali ini Darius sudah benar-benar keterlaluan.
Setelah melakukan hal bejatnya pun, Darius langsung pergi entah ke mana, yang jelas sampai hari menjelang malam pun, pria itu belum juga kembali.
"M-mama." Suara lembut itu, suara yang sejak tadi ditunggu-tunggu oleh Karina.
Wanita itu tersenyum lembut dengan lelehan air mata yang sebelumnya sempat tertumpuk pada pelupuk matanya.
"Akhs." Reygan meringis saat berusaha duduk.
"Jangan dipaksa nak, luka kamu masih basah nanti bisa tambah sakit," ucap Karina dengan suara lembutnya.
Reygan mengangguk, menurut.
"Sakit banget ya? Maafkan mama ya, mama lagi-lagi enggak bisa melindungi kamu dari Papa." Tangan lentiknya membelai lembut pipi Reygan.
Reygan menyentuh tangan Mamanya lalu ia genggam tangan wanita itu cukup erat. "Enggak papa, Ma, mama enggak salah. Rey, baik-baik aja kok, luka kayak gini mah udah biasa bagi, Reygan." Anak itu terkekeh diakhir kalimatnya.
"Anak mama, kuat," ucap Karina dengan haru. Air matanya pun kembali turun berjatuhan yang langsung diusap lembut oleh Reygan.
"Mama jangan nangis, Rey enggak suka liat perempuan kesayangan Rey nangis, apalagi karena Reygan."
Bukannya berhenti, tangis Karina justru semakin menjadi bahkan wanita itu kini sudah terisak sembari memeluk Reygan. "Mama sayang, Reygan. Tetap jadi anak kebanggaan mama, ya?"
"Ma, Rey 'kan bukan anak kandung mama, kenapa mama perlakukan Rey kayak anak kandung mama sendiri?"
Karina terkejut, ia lantas mengurai pelukannya secara perlahan, menatap penuh tanda tanya kearah Reygan. "Rey, kam—"
Reygan mengangguk cepat. "Iya, Rey udah tau dari papa. Berarti bener ya, Rey bukan anak kandung mama?"
"Kamu anak mama kok. Walaupun kenyataannya kamu tidak terlahir dari rahim mama sendiri, tapi mama sudah menganggap kamu sebagai putra kandung mama sendiri. Mama sayang, kamu, Reygan."
"Jadi ini alasannya kenapa dulu Mama suka enggak berlaku adil sama Reygan? Mama selalu saja berpihak pada Kaivan yang anak kandung Mama sendiri. Pantas aja aku selalu di abaikan, ternyata aku bukan anak kandung mama." Ia tersenyum getir setelahnya.
"Maaf, mama sama sekali enggak bermaksud, nak. Mama benar-benar menyayangi kamu, sama halnya Mama menyanyangi Kaivan. Mama enggak pernah berpikir untuk membeda-bedakan kasih sayang untuk kamu sama Kaivan. Pada saat itu mama hanya di tekan oleh suatu hal. Sekali lagi maafkan mama."
"Enggak papa kok Ma, makasih juga atas semuanya, Rey sayang Mama." Reygan tersenyum simpul.
"Mama juga sayang, kamu." Karina kembali menangis haru.
"Rey mau sendiri, Mama bisa keluar sebentar?"
Karina mengangguk pelan. "Mama keluar ya? Kalau ada sesuatu langsung panggil Mama aja." Ia membelai sayang kepala Reygan sebelum benar-benar beranjak dari sana.
Reygan menganggukkan kepalanya sebagai respon.
Ia menatap nanar pintu kamarnya yang sudah tertutup rapat. Tatapan matanya terlihat kosong dan sayu. Hari ini benar-benar melelahkan, luka batin maupun fisik menghajar tubuhnya secara habis-habisan. Rasanya sudah benar-benar lelah dengan semuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
REYGANSHA [END]
Teen Fiction[ FOLLOW SEBELUM BACA AGAR PART BARU BISA MUNCUL] ** Sepenggal kisah tentang si pembully yang jatuh cinta dengan gadis yang sering ia bully. Dan ini juga tentang Reygan Jordanio yang hidupnya penuh dengan kepalsuan. Wajah yang terlihat tenang namun...
![REYGANSHA [END]](https://img.wattpad.com/cover/356972339-64-k645209.jpg)