Bruk
"Ariel!" dengan cepat Adionel menghampiri tubuh Ariel yang tumbang di hadapan lima ekor serigala liar yang kini sudah termutilasi berkat Ariel.
Ya, hal yang sama seperti kejadian maid di kamar Ariel waktu itu. Kuku Ariel yang memanjang dan menghitam pun perlahan memudar dan kembali seperti semula.
"Apa dia masih tidak sadar bahwa dia yang melakukan semua ini?" gumam Adionel, "Sebaiknya kami kembali" lanjutnya dengan sigap mengangkat tubuh Ariel dan kembali ke dalam tenda.
'Ariel, sebenarnya siapa dirimu?'
Di sisi lain hutan itu,
Ivana yang sudah selesai dengan makan malamnya pun menyiapkan tenda untuk mereka bermalam disana. Setelah selesai, ia langsung tidur di dalam tenda itu dan tidak memperdulikan Adrian yang masih tidak sadarkan diri di luar.
Hingga malam pun berlalu, Ivana tidur nyenyak di dalam tendanya dan siap melanjutkan hari terakhir pertandingan ini.
Hari terakhir? Bukankah ini masih hari kedua? Tapi ya, ini jelas-jelas adalah hari terakhir, karena di hadapannya saat ini, Adrian, terkapar tidak berkutik dari tempatnya semalam, namun kini dengan kaki yang sudah menghilang, rongga perut dan dada yang sudah menganga dan tubuh bersimbah darah.
Adrian menjadi mangsa empuk bagi kawanan serigala liar di hutan ini.
Ivana terdiam sejenak, oh betapa bahagia dan puas dirinya melihat pemandangan mengerikan itu. Namun tidak, ia harus melakukan sandiwara terakhir untuk menyempurnakan situasi ini.
"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!"
Singkat cerita, pertandingan takhta pun dihentikan. Karena salah satu pesertanya sudah gugur, dan itu berarti Adionel adalah pemenangnya.
Namun tentu tidak semudah itu, selama Regina masih hidup dan bernafas, maka ia akan terus mempersulit jalan Adionel menuju takhta.
Namun sekarang, mari beristirahat sejenak.
"Apa tehnya sesuai selera anda nona?"
Ariel tersenyum pada Jane, "Ya, terima kasih Jane" ucapnya setelah menyesap teh camomile dengan sedikit daun mint untuk menenangkan malamnya.
Ceklek
Pintu yang menghubungkan kamar itu dan ruang kerja Adionel pun terbuka, menampilkan Adionel yang melangkah masuk dari ruang kerjanya.
"Jane, bisa keluar sebentar? Aku ingin bicara dengan Ariel" ucap Adionel membawa sebuah kota kecil di tangannya.
Jane pun membungkuk sebelum beranjak pergi keluar dari kamar itu. Meninggalkan Ariel dan Adionel sendirian di dalamnya.
"Istirahatmu cukup? Tidurmu nyenyak?" tanya Adionel perhatian. Sejak mereka pulang dari hutan terlarang, Ariel tertidur dan baru bangun beberapa jam lalu.
Ariel mengangguk, "Aku sudah merasa lebih baik" ucapnya.
Adionel tersenyum, "Syukurlah" ucapnya meletakkan kotak kecil yang ia bawa di meja.
Ariel melirik sejenak kotak kecil cantik itu, penasaran ada apa di dalamnya.
"Kalau penasaran buka saja" ucap Adionel seolah mampu membaca ekspresi Ariel.
Ariel tersenyum kecil, "Apa boleh?" tanyanya.
Adionel sedikit membungkukkan posisinya untuk menunjukkan sebuah lubang kunci yang unik, dimana lubang itu berbentuk seperti matahari, yang merupakan bagian dari anting yang Ariel miliki.
"Hanya jika kau memiliki kuncinya" ucap Adionel.
Menyadari bahwa bentuk kuncinya begitu familiar, apalagi saat tangannya meraih kotak itu dan gelangnya berada di posisi yang sejajar dengan lubang kunci itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
I Wrote This Story
Fantasy[Spin off of I Was The Evil Witch] [HIATUS] Tidak mungkin! Aku bergegas keluar dari kamar mewah itu, kaki kecilku berlari tanpa arah dan tujuan, mencari jawaban dari spekulasi gilaku. Tidak mungkin, kau pasti berbohong. "Ah, Ariel? Putri kecilku sud...