The Date

1.3K 121 0
                                    

Siang yang cerah di taman istana utama kekaisaran Eleino. Bunga berbagai warna bermekaran dengan segarnya, para burung bernyanyi di dahan pohon dengan merdunya. Suasana yang indah dan ceria, namun tidak dengan gadis yang satu ini.

Ariel memaki dirinya sendiri di dalam hati, namun senyum manis di bibirnya. Menatap pria yang dengan santai menyesap teh di depannya saat ini.

'TERNYATA DIA PANGERAN ITU!!!' batinnya saat mengetahui bahwa pria menyebalkan di butik kemarin adalah putra mahkota Hasgan.

Adionel menyesap tehnya perlahan, kemudian menatap Ariel yang tengah menatapnya lamat. "Apa anda sudah jatuh cinta lady?" tanya Adionel dengan senyum percaya dirinya.

"Ah hahahahaha, anda bisa saja yang mulia" ucap Ariel tertawa canggung. Sungguh ia masih merasa di dalam mimpinya. Karena terlalu larut dalam pekerjaan di butik, Ariel pun pulang tengah malam dan bangun kesiangan.

Sedangkan jemputan kereta kuda dari istana sudah sampai, dan Ariel baru selesai mandi. Mana sempat ia berdandan yang berlebih. Sedangkan ini undangan dari putra mahkota Hasgan, mana mungkin Ariel berani untuk tampil jelek apalagi terlambat.

Jadi ia melakukan hal yang biasa ia lakukan di kehidupan sebelumnya saat bangun kesiangan untuk kelas pagi. Ariel hanya mandi bebek, membawa semua make up-nya ke kampus dan berdandan di kampus.

Setelah mengenakan gaunnya, Ariel langsung mengajak Hannah untuk ikut dan membawa beberapa yang diperlukan untuk berdandan. Ariel tahu kalau sudah biasa bagi bangsawan yang tingkatnya lebih tinggi untuk sampai terlambat, jadi Ariel memiliki waktu untuk berdandan terlebih dahulu.

Sesampainya di istana, Ariel pun langsung menuju ke taman yang sudah disediakan dan meminta Hannah untuk mendandaninya langsung di taman itu.

Beruntung ia bisa selesai berdandan tepat sebelum Adionel sampai, oh astaga Ariel merasa dengkulnya bisa patah kapan saja.

Kembali ke situasi sekarang, dimana Ariel dan Adionel tengah canggung dalam diam. Tidak, sebenarnya hanya Ariel yang merasa canggung. Adionel memang sengaja tak membuka suara karena ingin melihat wajah menghibur di depannya.

"Lady Aquillio"

Ariel terkesiap saat Adionel tiba-tiba memanggilnya, "Y-ya yang mulia?" jawabnya.

Adionel meletakkan cangkir tehnya, menatap Ariel lamat dengan mata indah menghipnotis itu. "Saya bukan orang yang suka membuang-buang waktu" ucapnya dengan nada serius.

Ariel memaki di dalam hati, 'Tapi kau membuang semua waktuku kemarin sialan!' batinnya tersenyum di luar, "Ah begitu ya? Hahahaha" ucap Ariel tertawa canggung.

"Jadi, saya langsung ke intinya saja" Adionel mengambil sesuatu dari dalam sakunya seraya berdiri dan berjalan ke sebelah tempat Ariel duduk. Mata Ariel yang awalnya menatap Adionel bingung pun sontak membelalak sempurna saat mendapati Adionel berlutut di hadapannya.

"Menikahlah denganku, Arielle Sigrid de Aquillio"

Otak Ariel berhenti bekerja selama sepuluh detik, dan tepat selama sepuluh detik itu Adionel gunakan untuk memasangkan cincin ke jari manis Ariel. Bahkan sebelum Ariel sempat menjawab lamarannya.

"T-tunggu! Yang mulia apa-apaan ini? Kita bahkan belum mengenal satu sama lain" ucap Ariel protes. 'Dan aku tidak ada niat untuk menerimamu!' lanjutnya di dalam hati.

"Saling mengenal itu bisa kita lakukan nanti, yang penting sekarang anda sudah sah menjadi putri mahkota Hasgan" ucap Adionel dengan senyum mempesonanya.

Srak

Ariel sontak berdiri dari duduknya, "Yang mulia, saya tidak peduli jika bagi anda hak berpendapat seorang manusia itu tidak penting. Tapi memaksa apalagi menjebak seseorang ke dalam sebuah kesepakatan sepihak seperti ini adalah tindak kriminal di Eleino" nada bicara Ariel berubah menjadi suram, kesabarannya sudah putus.

I Wrote This StoryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang