Who Sent You?

1K 87 1
                                        

"Hati-hati ya"

Jane menemani Luz untuk berjalan di taman, hanya ini hiburan yang Luz miliki. Anak malang itu bahkan tidak memiliki mainan untuk dirinya sendiri, dan semakin mencelos pula hati Jane saat memikirkannya. Saat Jane tinggal di gubuk tua waktu kecil pun ia memiliki mainan boneka yang dibuat sendiri oleh ibu angkatnya, jadi seharusnya uang bukanlah masalah disini. Memang wanita itu saja yang tidak menyayangi anaknya. 

Dalam misinya, Jane bertekad untuk memperbaiki nutrisi Luz. Sekaligus mencari tahu rencana busuk Ivana. Ia menggunakan segala kuasa yang ia miliki untuk bisa membuatkan makanan yang lebih bergizi untuk Luz ke depannya, sekaligus menjadi pengasuh yang baik dan pengganti sosok ibu yang selama ini merupakan momok bagi Luz. Dan tidak terasa, lima hari sudah berlalu sejak pertama ia menginjakkan kakinya di istana pangeran.

Luz berjalan menelusuri rerumputan, sedang Jane hanya mengikuti dari belakang dan memperhatikan langkah anak yang masih belum terlalu lancar berjalan itu. Jane senang, setidaknya Luz kini memiliki seseorang yang berada di pihaknya. Karena Jane yakin bahwa Nancy, pengasuh asli Luz, juga akan tunduk pada perintah Ivana.

Tapi jika dipikirkan lagi, kenapa mereka harus menurut pada Ivana? Padahal mereka bisa saja mengadukan wanita itu pada raja dan ratu, tapi mereka malah memilih tunduk akan perintahnya. Pasti ada yang tidak beres, seseorang sepertinya mendukung Ivana diam-diam. 'Sebaiknya aku jangan gegabah-'

Bruk

Jane terputus dari benaknya saat punggung lebar seseorang tidak sengaja ia tabrak, "Ah maaf, saya tadi melamun" ucap Jane langsung menunduk meminta maaf.

"Tidak apa, tolong angkat kepala anda"

Suara lembut nan dalam itu membuat Jane mengangkat wajahnya, seorang pria dengan surai gelap yang memanjang hingga ke dadanya, sebagian diikat sedang yang bagian bawah digerai. Pakaiannya rapih lengkap hingga sarung tangannya. Jane tahu orang ini, Nancy yang asli juga sudah menceritakan soal dirinya. "Ah butler, selamat pagi" ucap Jane menyapa pria yang ia ketahui merupakan butler istana pangeran, Theodore.

Pria yang kelihatan masih begitu muda terlepas dari jabatannya yang merupakan seorang butler itu tersenyum manis pada Jane, tahilalat kecil di batang hidung dan mata hijaunya itu menatap Jane begitu ramah, "Pagi Nancy, bagaimana kabarmu?" balasnya. 

"Baik butler, permisi saya harus mengawasi pangeran" ucap Jane hendak pergi.

Theodore pun hanya mengangguk seraya menatap punggu Jane yang perlahan menjauh, "Tinggi Nancy bertambah 3 cm sejak dari istana utama, pasti mereka memberinya makan dengan benar disana" bisik Theodore di dalam hati, ia pun berbalik seraya Jane sudah mulai menghilang dari pandangannya. 

Jane menghela nafasnya pelan, kenapa jantungnya berdegup kencang saat bertemu dengan Theodore? Tidak, ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Yang ia rasakan saat ini adalah rasa takut, seperti sedang melihat hantu. Jane tahu ada yang tidak beres dengan butler itu, tapi apa? 

Wah ya ampun kapan dia datang kesini?
Lihat tangannya begitu kekar
Istana harus sering-sering memperkerjakan tukang kebun yang tampan
Oh keringat mengalir itu membuat wajahnya semakin berkilau
Aku ingin berkenalan tapi aku malu
Ya ampun 

Mendengar suara para maid yang begitu heboh akan sesuatu, Jane tidak mampu menahan rasa penasarannya. Ia pun menoleh ke arah mereka menatap, mendapati seorang pria yang anehnya terlihat familiar di mata Jane. 'Itu...'

Lengan kekar menebas rumput-rumput liar yang langsung terpotong rata dalam sekali ayunan. Keringat yang mengalir memberi kilap menggoda di tubuhnya. Semakin ia bekerja, semakin menggila para pekerja istana dibuatnya. Namun tidak dengan Jane, 'Apa yang dia lakukan disini?' batinnya mengerenyitkan dahi. Namun seorang anak kecil yang berjalan ke arah pria itu memecah pikiran Jane, "Oh, pangeran!" serunya berlari ke arah Luz yang berada terlalu dekat dengan tukang kebun baru itu.

I Wrote This StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang