Ivana, dengan sang putra di gendongannya pun terkejut melihat Ariel dan Adionel di dalma ruang makan, "Ah, s-salam yang mulia. Apa saya menginterupsi sesuatu?" tanya Ivana.
"T-tidak, tentu tidak. Kau sendiri apakah membutuhkan sesuatu?" tanya Ariel ramah. "Sudah lama kita tidak bertemu sejak terakhir kali, bagaimana kabarmu?" ucapnya seraya mempersilahkan Ivana duduk di meja makan.
Ketiganya pun duduk, Adionel di kursi utama dan Ariel di kanan dan kirinya. Ariel bercakap ria dengan Ivana sementara Adionel hanya diam menikmati makan siangnya, sesekali merespon saat ditanya.
"Ah ngomong-ngomong, aku belum mengetahui nama putramu. Apa kau sudah memutuskan nama untuknya?" tanya Ariel.
"Ah, sejujurnya belum, lady. Saya selama ini hanya memanggilnya Luz, artinya cahaya. Karena di dalam kegelapan hidup saya, putra saya menjadi cahaya yang membuat saya tetap bangkit dan tidak menyerah" ucap Ivana menatap sang putra lembut seraya menyapu air liur di pipi gembilnya.
Ariel tersenyum tersentuh, ia pun menoleh ke arah Adionel. "Apakah di Hasgan ada upacara tertentu untuk pemberian nama kepada garis keturunan raja?" tanya Ariel.
Adionel menyesap air putihnya sebelum mengangguk, "Ada, biasanya dilakukan saat anak itu berusia 40 hari atau lebih" jawab Adionel, kemudian menoleh ke arah Ivana, "Berapa usia Luz sekarang?"
Ivana nampak mengingat-ingat, "Kalau tidak salah, baru satu bulan lebih yang mulia" ucapnya.
"Kalau begitu bagus, kita bisa mengadakan pemberkatannya di hari yang sama dengan pernikahan kita" ucap Ariel antusias.
"Hah? T-tapi, a-apa tidak apa-apa? M-maksud saya, itu kan hari penting" ucap Ivana tidak enak. "S-saya rasa tidak perlu, lady. Pemberkatannya bisa dilakukan di hari lain saja" lanjutnya.
"Adionel, bagaimana menurutmu?" tanya Ariel, "Tidakkah semakin cepat semakin baik?"
Adionel berpikir sejenak, sebenarnya tidak ada salahnya menyelenggarakan pemberkatan untuk putra Adrian. Kuil pun tidak akan keberatan karena pemberkatan ini tidak membutuhkan persiapan khusus maupun rumit. Ditambah, hal ini bisa memperbaiki kesan Ivana dan putranya yang selama ini dipandang sebelah mata karena kejahatan yang dilakukan oleh Adrian dan Regina.
Tapi entah kenapa Adionel merasa berat jika harus melakukan semuanya di hari yang sama, "Aku setuju, tapi pemberkatannya akan dilakukan sehari setelah upacara pernikahan dan penobatan" ucapnya.
Senyum Ariel merekah, ia menatap Ivana yang tengah mencium kening putranya lembut, kemudian berlalih menatap Ariel dan Adionel penuh syukur. "Terima kasih, tidak kusangka di dunia yang kukira selama ini tidak ada lagi hal baik untukku, kalian selalu datang menyelamatkanku" ucap Ivana terharu.
Ariel dan Adionel pun hanya membalas dengan senyuman, "Anggap saja ini bentuk pertanggungjawaban Adrian untukmu" ucap Adionel.
Ivana mengangguk, 'Seandainya yang aku temui hari itu bukan Adrian, apakah nasibku akan berbeda?' batinnya sendu, namun ia menggeleng cepat mengibaskan khayalan yang hanya akan menjadi khayalan itu.
"Ah yang mulia, izin bertanya. Karena Luz adalah garis keturunan raja, apakah nama yang akan diberikan juga harus nama-nama tertenu?" tanya Ivana.
Adionel mengangguk, "Secara tradisi, begitu. Tapi jika kau ingin tetap menambahkan nama Luz untuk putramu maka tidak apa-apa, karena seingatku sekitar lima generasi sebelum ayahku, raja Hasgan juga memiliki nama Luz" jelas Adionel.
Ivana tersenyum senang, "Ah begitu, syukurlah. Dan jika ini tidak lancang dari saya, apakah boleh saya meminta yang mulia untuk menamai putra saya? Karena anda sudah banyak berbudi kepada saya, jadi izinkan putra saya memiliki nama dari anda yang mulia. Dengan harapan, kelak anak ini akan menjadi pribadi bijaksana dan bertanggung jawab seperti anda"
KAMU SEDANG MEMBACA
I Wrote This Story
FantasyCOMPLETED [Spin off of I Was The Evil Witch] Tidak mungkin! Aku bergegas keluar dari kamar mewah itu, kaki kecilku berlari tanpa arah dan tujuan, mencari jawaban dari spekulasi gilaku. Tidak mungkin, kau pasti berbohong. "Ah, Ariel? Putri kecilku su...
