TOK TOK TOK
Suara ketukan pintu itu semakin keras, "Kalau tidak dibuka, akan aku dobrak!" ucap pria paruh baya yang nampaknya setengah mabuk.
Ceklek
Pintu itu pun terbuka, Felix menunduk menatap pria yang hanya setinggi bahunya itu. "Kenapa?" tanya Felix dengan nada kesalnya. Rambut cepaknya berantakan, begitupun bajunya yang nampak compang camping.
Pria mabuk itu menoleh mengintip ke dalam gudang dimana ia melihat seorang wanita cantik yang tengah memperbaiki seragam maid-nya, penampilannya pun tak kalah berantakan dengan pemuda kekar di hadapan pria mabuk itu.
"Satu detik lagi kau menatapnya, ku congkel kedua matamu" ucap Felix dengan nada tajam seraya menarik kerah pria baya itu, pria mabuk itu pun terkesiap dan berjalan mundur.
"M-ma-maaf sudah mengganggu, permisi" ucapnya sebelum berlari tidak karuan dan akhirnya menabrakkan diri di pohon dan berakhir jatuh pingsan.
Felix mendengus menggeleng sebelum berbalik dan kembali menutup pintu gudang itu, mereka berdua langsung memberantakkan diri saat mendengar orang di luar sana akan mendobrak pintunya. Dengan alibi mereka adalah dua insan yang 'dimabuk' asmara, alasan yang paling masuk akal untuk situasi ini.
"Jane-"
Swing
Sebuah belati tertancap di dinding kayu yang hampir mengenai mata kanan Felix, ia melirik belati yang nampak telah diolesi cairan kuning terang di mata pisaunya, racun, khas Jane. "Itu karena kau telah menyentuhku tanpa izin" ucap Jane kembali mengenakan jubahnya. "Dan aku tidak peduli kau disini untuk alasan apa, asal jangan kau ganggu misiku" ucap Jane meraih belati yang menancap di dinding dan menyimpannya kembali. "Dan jika kau menyentuhku tanpa izin seperti tadi lagi, belati ini akan benar-benar menancap di kepala batumu itu" tukasnya sebelum menghentakkan kaki keluar dari gudang itu.
Felix yang masih terdiam membatu di tempatnya berdiri pun tiba-tiba terduduk seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan. Gelak tawa kecil terdengar di dalam gudang itu, "Oh astaga, astaga dia begitu menggugah ku" ucap Felix mengusap wajahnya yang kini sudah memerah berkat Jane. Entah kenapa semakin Jane melawan dan memberontak, semakin tergugah pula hasrat Felix akan wanita itu.
"Oh kelinci manisku"
~~**~~
Sudah lama sekali, bertahun-tahun yang lalu, sejak pertama mereka bertemu. Yang Felix tahu, Jane adalah 'mata-mata' lain yang dimiliki Adionel selain dirinya. Tentu Felix tidak pernah bercengkrama maupun menyapa Jane kecuali memang sangat diperlukan. Dan entah sejak kapan Felix mulai memperhatikan wanita itu.
Mungkin saat ia mendapati Jane tengah digoda oleh bangsawan tua di pinggiran hutan yang mengelilingi istana Hasgan waktu itu. Felix yang memang suka berkeliaran di sekitar istana saat tidak ada tugas pun langsung bersiaga, karena ia tahu bahwa Jane adalah orang yang berguna bagi Adionel, ia tidak akan membiarkan wanita itu terluka.
Namun betapa terkejutnya Felix saat Jane dengan mudah membuat bangsawan tua yang sudah mabuk itu terkapar tak berdaya, entah jarum apa yang Jane tancapkan di perut buncit pria itu. Bius? Mungkin. Atau sesuatu yang lebih mematikan?
"Kau bisa dihukum karena telah melukai seorang bangsawan"
Wanita bersurai merah delima itu berbalik pelan seolah tidak terkejut akan keberadaan Felix yang muncul begitu saja. Mata tajamnya menatap Felix rendah seolah tidak suka, "Dia hanya tertidur, aku tidak bodoh" ucap Jane kemudian melenggang pergi meninggalkan Felix dengan wajah datarnya, sorot mata pria itu mengikuti langkah Jane sampai jauh, jauh hingga ia tak melihat wanita itu lagi. Degup tak karuan berderu di dadanya. Apa ini? Wajah garang Jane, nada ketusnya, semakin terbayang di benak Felix.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Wrote This Story
FantasyCOMPLETED [Spin off of I Was The Evil Witch] Tidak mungkin! Aku bergegas keluar dari kamar mewah itu, kaki kecilku berlari tanpa arah dan tujuan, mencari jawaban dari spekulasi gilaku. Tidak mungkin, kau pasti berbohong. "Ah, Ariel? Putri kecilku su...
