BAGIAN DUA DARI BARA [FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA]
Geng besar yang di pimpin seorang Bara Brayudani, membawa namanya melambung di seantero SMA PK di akhir masa jabatannya sebagai ketua G.O.VA. Laki laki yang di sukai banyak perempuan itu telah mema...
"Apa yang ada di hidupmu sekarang, rawat dan jaga. Karna apa yang tidak kamu inginkan, mungkin saja menjadi hal yang di inginkan orang lain"—Bara Brayudani
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Bara memakirkan mobil hitam miliknya di garasi. Laki laki itu keluar sambil melihat ke penjuru garasi, tapi tidak menemukan mobil wuling biru milik Aira. Bara ingat betul tadi pagi iya parkirkan mobil itu di samping motor sport miliknya.
Bara masuk ke dalam rumah sambil melepaskan topi hitam yang sedari tadi bertengger di kepalanya. Laki laki itu baru saja pulang dari bermain golf bersama papahnya pagi hari tadi.
"mobil wuling yang di garasi ke mana ya bi?" Tanya Bara saat asisten rumah tangga di rumahnya lewat di dapur.
"mobilnya mba Aira ya Mas?" Bara mengangguk.
"mba Aira tadi pagi ke sini loh mas untuk ambil mobilnya. Emang ga bilang sama mas Bara?" Bara lagi lagi menggelang.
"makasih ya bi infonya." Bibi hanya menunjukan jari okenya.
Bara menjatukan dirinya di sofa ruang keluarga setelah mengambil segelas air putih. Laki laki itu mendial nomer Aira tapi hanya nada sambung yang terdengar. Membuat Bara bertanya tanya sendiri sambil melihat profil Aira.
Bara memang menyuruh Aira untuk mengambil mobil miliknya ke rumah Bara. Tapi tumben sekali perempuan itu tidak memberikan kabar.
***
Tulisan besar terpampang di depan gedung yang menjulang tinggi di hadapan Aira. Dengan tema baju putih dan rok flora berwarna pink gradasi putih, Aira berdiri di depan perpustakaan nasional republik Indonesia. Hari ini Aira memutuskan untuk pergi sendirian. Tanpa Bara ataupun tanpa teman temannya.
Perempuan itu berkeliling keliling melihat banyak hal yang ada di dalam perpustakaan. Aira sudah cukup sering ke sini walaupun hanya datang untuk melihat lihat saja, tapi entah mengapa ia tidak pernah bosan. Spot terfavoritnya adalah rak buku yang tersusun ke atas.
Menurut Aira, jalan jalan sendiri itu di butuhkan untuk merifresh diri. Terkadang kita terlalu stuk dengan satu hal yang malah membuat kita merasa bosan. Kita butuh sesuatu yang baru, dan berdialog dengan diri sendiri tentang bagaimana hari ini dunia bekerja.
Me time adalah salah satu hal yang paling berharga. Karna dari sanahlah kita bisa memahami diri kita sendiri. Tidak semua orang bisa merasakan me time. Ada dari mereka yang terus bergerak tanpa henti untuk melanjutkan hari esok. Maka apa yang ada pada dirimu hari ini, mari syukuri walaupun itu sangat kecil.
"karna hidup terus berjalan. Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi." Ujar Aira dengan salah satu buku yang ada di genggamannya.
***
Genggaman tangan yang tak terlepas. Suara kaki yang serentak di ubin yang sangat dingin dan mengkilap. Banyak orang hilir mudik dengan id card yang menggantung di leher mereka. Tulisan besar yayasan nawasena, adalah kata yang terpajang dengan elegan di salah satu ruangan yang sangat di segani di yayasan ini. Ruangan ibunda Bara.