MERELAKAN; yang seharusnya
"Kita hanya perlu sadar, bahwa hidup akan selalu berjalan tanpa tau kemana arah melangkah." G.O.VA
"Hidup itu seperti lautan, yang tidak ada tepiannya, tapi banyak ombaknya. Dan kita sendiri adalah wujud dari sebuah kapal itu sendiri." Bara Brayudani.
***
Bara tidak pernah membayangkan akan berada di titik sekarang ini. Berada satu ruangan bersama Beni dan yang lain. Keenam inti G.O.VA termasuk Bams yang ada di ranjang rumah sakit. Laki laki bermulut pedas itu, sudah sadarkan diri pagi hari tadi. Walaupun selang oksigen masih menempel pada hidunyanya.
"Sakit Bams??" Tanya Aira dengan nada prihatin di samping ranjang milik Bams. Dan suara itu yang menyadarkan semua orang akan suasa hening yang mereka ciptakan.
Bams menggeleng dengan senyum lemahnya.
"Halal! Barusan aja nangis nangis liat kakinya patah." Ujar Joko sambil mendengkus.
Kondisi Bams memang tidak bisa di katakan baik baik saja. Laki laki itu mengalami cidera kepala yang di mana kepalanya pecah, sehingga harus di perban. Selanjutnya cidera tangan dan kaki yang mengalami patah tulang. Tapi untungnya tidak ada kerusakan lebih lanjut terhadap organ dalamnya.
"Lo pikir aja bangun bangun kaki gue ga bisa di gerakin. Gue pikir, gue lumpuh anjing!" Umpat Bams walaupun dengan nada lemah dan bibir pucat.
"Ngapain lo di sini?" Tanya Bara kepada Beni yang duduk tenang di sofa
"Menurut lo?!" Ucap Beni.
"Jadi tukang gojek dia Bar." Ucap Joko sambil memperlihatkan bingkisan yang di bawa oleh Beni.
"Oh bangkrut lo," ucap Bara dengan tampang watadosnya. Wajah tanpa dosa.
"Asal aja mulut lo! Gini gini masih jadi kanidat pewaris paling kuat gue!" Ujar Beni sengit.
Bara melengoskan wajahnya pertanda malas melihat Beni. Laki laki itu menyusul Aira yang duduk lesehan di karpet samping Real.
"Lo di sini ga usah cari ribut!" Peringat Cekra yang duduk di sofa depan Beni.
"Enggak ada cari ribut. Ketua lo tuh, mukanya keruh banget liat gue." Ujar Beni mendengkus.
"Orang gila mana yang ga kesel. dulunya sok sokan cari ribut, sekarang mau deket deket. Lo pikir kita bego huh!" Ujar Joko. Laki laki itu duduk di kursi dengan ranjanv Bams.
"Ga ada tuh yang ngomongin kalian bego. Lo aja kali Jok yang bego." Ejek Beni yang membuat Joko naik pitan.
"Jok!" Tegur Kevin sambil melirikan matanya pada Joko.
"Kalo lo mau ribut lebih baik keluar." Ujar Kevin yang menatap Beni dengan pandangan mata yang tajam.
"Bener kata Kevin. Mending keluar aja sana." Ucap Aira.
"Males Ra. Enak di sini, sambil liat muka Bara yang jelek." Ucap Beni. Laki laki itu ikutan duduk di karpet.
"Baru tau gue, kalo lo secerewet ini." Ujar Cekra.
"Lo bawa apaan tu Ra??" Tanya Beni dengan melirik ke bungkusan yang Aira Bawa.
Bara yang ada di samping Aira terus memperhatikan Beni yang persis duduk di depan Aira. Cuman Beni yang mampu membuat Bara waspada jika berkaitan dengan Aira.
"Corndog," jawab Aira dengan membuka bungkus plastiknya.
"Kalau yang satunya??" Tanya lagi
"Duren," jawab Aira.
KAMU SEDANG MEMBACA
BARA BRAYUDANI
RomanceBAGIAN DUA DARI BARA [FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] Geng besar yang di pimpin seorang Bara Brayudani, membawa namanya melambung di seantero SMA PK di akhir masa jabatannya sebagai ketua G.O.VA. Laki laki yang di sukai banyak perempuan itu telah mema...
