46. Tragedi

2.6K 198 36
                                        

Tragedi: Celaka

"banyak tragedi yang menjadi pelajaran hidup. Kini ataupun nanti, hidup adalah kesedihan dan bahagia," G.O.VA

"terkadang kita berhak marah atas hal yang tidak kita suka." Bara Brayudani.

***

Mobil Audi r8 berwarna hitam itu melaju dengan kecang di jalan raya. Pengemudi di dalamnya terduduk santai di balik stir kemudi dengan jaket parasut hitam milik G.O.VA. Bara sesekali melihat ke arah kaca samping mobilnya, melihat teman temannya yang night drive dengan motor mereka. Ada Joko yang tiba tiba melintas di samping mobilnya dengan vespa biru miliknya.

Di depan sana sekumpulan anak anak G.O.VA mengendarai motor besar mereka dengan jaket parasut hitam milik G.O.VA. Ada dua mobil lainnya di depan Bara, yang itu adalah milik Kevin dan juga Arha. Bara memang sengaja berada di posisi paling belakang.

Night drive kali ini mereka lakukan setelah kepulangan mereka dari Solo. Hanya anggota anggota G.O.VA saja yang hadir. Tidak ada satupun perempuan yang ikut kali ini. Mereka semua mengeliling ibu kota sambil melihat hal hal yang jarang mereka temui saat siang hari. Katanya, jika ingin melihat sisi lain ibu kota, maka keluarlah saat malam hari.

Bara menambah laju mobilnya. Dengan satu tangan ia memutar stir kemudi dengan lihai. Satu tangannya ia tumpukan pada sisi jendela. Matanya berkali kali melihat kanan kiri, dimana terdapat beberapa ruko yang sudah tutup, namun di depannya di gunakan untuk tidur, oleh mereka yang tidak memiliki tempat tinggal.

Setelah mereka melewati pusat kota, mereka akhirnya melintasi jalanan jalanan sepi. Keaadaan seperti ini bukan hal yang aneh bagi Bara. Tapi malah hal yang sudah biasa seharusnya. Tapi, ketika rombongan teman temannya berhenti di depan sana, Ia langsung mengernyitkan dahinya heran.

Notif ponsel Bara, yang tertera nama Kevin di buble chatnya, berhasil membuat Bara keluar dari mobilnya. Anak anak yang tadinya duduk di atas motor mereka, kini sudah berdiri saat Bara melewati mereka.

Laki laki dengan perawakan tubuh yang jangkung dan wajah yang tegas itu, menatap orang orang di hadapannya dengan tajam. Santera dan Gimbal kini berada di depan anggota G.O.VA. Mereka sepertinya sengaja memblokade jalan ini. Bara dengan santai menatap Beni dan Leon secara bergantian.

"gimana rasanya, udah berhasil ngejeblosin orang tertinggi Santera?" Tanya Leon dengan senyum miring.

Bara mengangkat alisnya, "seharusnya itu bukan urusan lo!" cemoh Bara.

"liat!" Leon merentangkan tangannya, berusaha memperlihatkan Gimbal dan Santera yang bersatu. "kali ini itu juga jadi urusan gue." Ujar Leon.

Bara melihat ke arah Beni, "kenapa? Lo ga bisa ngadepin gue sendirian?" Tanya Bara. Matanya menyorot tajam ke Beni, "orang yang salah memang tempatnya di penjara!" tekan Bara.

"JAGA UCAPAN LO BARA!!!" teriak Beni setelah diam tanpa suara.

"seharusnya lo Tanya Laksana, gimana rasanya jadi pembunuh dan nyembunyiin ini semua anjing!" umpat Cekra. "mau jadi penerusnya lo?" tantang Cekra sambil menunjuk nunjuk Beni.

"Mereka memang seharusnya mati!" Tekan Beni yang berhasil menyulut amarah Bara. Tangan Bara terkepal erat di bawah sana.

"Lo ga berhak ngucapin hal itu!" peringat Bara dengan tatapan mata yang tajam.

"emang bego! Di kasih fakta kok nolak." Ujar Joko yang rasa sabarnya juga ikut terkuras.

"masuk ke kubangan yang keruh. Seharusnya lo sadar Beni, ga menempatkan Santera pada noda hitam." Ujar Kevin yang ternyata berhasil mengusik ego Leon.

BARA BRAYUDANICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang