PERBEDAAN; Dua kepala
"Ketika kamu jatuh cinta, bukan hanya bahagia saja yang kamu terima. Tapi juga rasa sedihnya,"
***
Bara menatap perempuan yang berdiri di podium lapangan tanpa menghalikan pandangannya sedikitpun.
Aira Almanovan, berdiri dengan senyum yang Bara tau adalah senyum palsu perempuan itu. Perempuan berambut coklat panjang yang selama beberapa hari ini mengabaikan pesan dan telpon darinya. Dan sekarang, perempuan itu ada di depannya.
Dengan memegang mendali perak yang di gantungkan di lehernya. Aira tersenyum, tapi bukan senyum lepas yang Bara temui seperti biasanya.
Jujur, jika di kata Bara kecewa atau tidak? Maka jawabannya adalah iya. Dirinya kecewa dengan Aira. Tapi, rasa bangga untuk perempuan itu jauh lebih besar.
***
Bara berjalan ke arah kelas Aira di saat jam istirahat. Laki laki itu tak sempat menyapa Aira saat setelah upcara tadi.
Banyak sekali pertanyaan dalam diri Bara untuk pacarnya itu. Kenapa ia tidak menghubungi Bara saat kembali pulang, kenapa ia tidak memperlihatkan mendali itu kepada Bara, seperti sebelum sebelumnya. Kenapa Aira tidak berlari dengan semangat ke arah Bara di pagi hari dengan mendali miliknya.
Banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan. Tapi, perempuan kesayangannya itu tidak ada saat Bara mencarinya di kelas.
"Lo cari Aira Bar?" Tanya Ivana yang melihat Bara berdiri di depan pintu dengan mata yang sibuk mencari.
"Lo tau dia dimana?" Tanya Bara.
"Keperpustakaan mungkin," Ivana juga tak yakin dengan jawabannya itu.
Bara langsung pergi dari kelas Aira tanpa mengucapkan apapun. Langkahnya dengan cepat membawa dirinya ke bagian depan sekolah. Perpustakaan, tempat yang jarang ia datangi.
Anak anak lain melihat ke arah Bara ketika laki lako itu masuk dengan langkah tenang dan kedua tangan ia masukan ke saku celananya.
Ia susuri setiap lorong buku untuk mencari dimana seorang Aira Alma menyelami dunianya.
Sampai satu langkahnya terhenti. Ia melihat apa yang di carinya. Perempuan dengan rambut coklat dan cardigan biru putih, sedang duduk membelakanginya.
Aira pintar menyelam di atara buku buku sampai Bara sulit menemukannya. Ternyata di sini, bagian paling pojok belakang dimana tempat yang paling sunyi.
Bara melangkah pelan tanpa suara. Laki laki itu berdiri di samping Aira dan lantas mengambil mendalik perak yang tergeletak di meja.
"Kamu sulit sekali di temukan," ujar Bara dengan melihat bola mata hitam pekat milik Aira karna perempuan itu mendongak padanya.
Tidak ada respon dari sang pemilik surai coklat itu. Aira kembali mengalihkan pandangannya pada buku yang sedang ia buka.
Bara tidak suka itu. Aira tidak menampilkan senyum sama sekali. Bara langsung menarik kursi yang ada di samping Aira.
"Ada banyak pertanyaan yang mau aku tanyain sama kamu. Tapi liat respon kamu kayak gini," Bara mendengkus, "kayaknya ga bakal dapet jawabannya."
"Tanyain apa yang mau kamu tanyain." Ujar Aira terkesan dingin.
"Liat sini," Bara memutar tubuh Aira untuk menghadapnya, "kamu kenapa? Apa yang salah? Kenapa ga kabarin aku?" Tanya Bara bertubi tubi.
Aira menghela napasnya dengan berat. "Pesan kamu udah aku bales kan?" Aira menaikan satu alisnya. "Aku sibuk Bara."
KAMU SEDANG MEMBACA
BARA BRAYUDANI
RomanceBAGIAN DUA DARI BARA [FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] Geng besar yang di pimpin seorang Bara Brayudani, membawa namanya melambung di seantero SMA PK di akhir masa jabatannya sebagai ketua G.O.VA. Laki laki yang di sukai banyak perempuan itu telah mema...
