xxix. after

4.3K 265 2
                                        

Pukul dua malam, Casphia akhirnya sampai di rumah setelah perjalanan panjang, dan Hector langsung membawa pergi mobilnya. Tidak mungkin, kan, Casphia tega hati membiarkan kekasihnya jalan kaki kembali ke rumah dari tempatnya, terutama di malam yang sepi seperti itu?

Kekasih.

Garis lengkungan perlahan nampak di wajah cantik itu. Casphia yang saat ini sudah membersihkan tubuh sedang memukul bantal tak bersalah dikarenakan rasa salah tingkahnya tertunda.

Berkali-kali meremat atau memukul bantal serta gulingnya guna menuntaskan rasa bahagia yang membuncah itu.

Pikirannya kembali terbayang kejadian setelah ia mengatakan jawabannya.

"Sure, Kai."

Entah mengapa Hector langsung memalingkan kepalanya, tetapi Casphia masih dapat melihat dari pantulan kaca bahwa saat ini Hector sedang tersenyum bahagia meskipun bibirnya ditutupi oleh tangannya.

"Tunggu sini, jangan keluar!" perintah Hector tanpa mau melihat ke arahnya.

Merasakan bahwa ada kejadian langka, Casphia tidak menurut dan ikut keluar menyusul Hector yang sedang bersandar di mobil sembari menutupi wajahnya.

"Eh? Seorang Hector bisa salting?" ledek Casphia mulai mengeluarkan ponsel dari tasnya dan melempar tas itu di rerumputan.

"Mana sini kasih liat. Ini momen langka!" tawa Casphia mengudara dikesunyian malam ini sampai entah keberapa kali jarinya memencet tombol potret.

Karena merasa kurang puas, Casphia mengganti ke mode video.

"Ini momen langka di mana Hector salting!" seru Casphia bersemangat. "Mana wajahnya?"

Casphia berusaha melepaskan tangan Hector dan beberapa kali berhasil menangkap wajah Hector yang sudah memerah. Hector juga berkali-kali menepis tangan Casphia.

"Kai," kekeh Casphia merasa sangat puas bisa membalaskan dendam.

Karena merasa geram, Hector pun memutuskan untuk menarik ponsel Casphia dan melemparnya begitu saja.

"Kai! Itu HP gue!" kaget Casphia langsung menolehkan kepalanya ke belakang, tetapi terlambat.

Pinggangnya ditarik dan Casphia sudah berada di dalam pelukan Hector lagi. Ketika menolehkan kepala untuk mencari ponselnya, Casphia bernapas lega sebab ponselnya dalam posisi tengkurap mengarah kepadanya karena mendarat persis di ujung tasnya.

"Lepas," ucap Casphia mendorong bahu Hector.

"Udah puas ketawanya?" Hector berkata seraya menatap Casphia lekat.

Entah mengapa sepertinya Hector benar-benar marah. Ini tidak adil, maka Casphia menjawab, "Puas!"

Hector terdiam, tapi tidak dengan kedua tangannya yang sudah meremas pinggang Casphia. Rasa hangat menjalar di pinggang Casphia sebab ia hanya memakai baju crop top.

"Kai," panggil Casphia menengadahkan kepalanya menatap Hector yang sedang menatapnya lekat.

Bagaimana bisa suasana yang seramai tadi bisa menjadi semencekam ini? Casphia sampai memalingkan wajahnya karena merasa malu seketika.

Introverts to ExtrovertsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang