"You did it, baby."
Satu kalimat itu membuat Casphia tersenyum, lalu masuk lebih dalam ke dalam pelukan Hector ketika ia baru saja bangun. Kepalanya bersandar di dada Hector, mendengarkan detak jantung yang selalu membuatnya merasa tenang.
Waktu menunjukkan pukul sebelas siang, sehari setelah kabar dari LaVida mengguncang media sosial.
"Setelah ini kita tinggal nunggu respons dari vendor," gumam Casphia sambil masih memeluk Hector. "Kalau mereka masih tetep di posisi nggak salah ... honestly, aku no comment."
Ia mendongak sedikit untuk menatap Hector. "Bayi pun tau siapa yang salah."
Hector terkekeh pelan, tangannya mengusap punggung Casphia. "Nggak, sayang. Mereka bakal ngaku juga."
"Pede banget?" tanya Casphia, alisnya naik tipis.
"Soalnya fans kamu pada ganas," jawab Hector ringan. "Dan internet itu nggak kenal ampun kalau ngerasa dibohongin."
"Mhm. That's my family. They protect their own, right?"
Hector tersenyum, lalu mengecup puncak kepala Casphia. "Sounds about right."
Casphia terdiam beberapa detik. Tatapannya tak fokus, pikirannya bergerak ke arah lain. Jarinya bergerak pelan di dada Hector, membentuk pola kecil tanpa sadar.
"Aku nggak mau nuduh," katanya akhirnya, suaranya lebih pelan. "Tapi siapa lagi yang paling diuntungin kalau aku jatuh?"
Hector tidak langsung menjawab.
"Apalagi aku yang nggak pernah nyenggol," lanjut Casphia. "Tiba-tiba disenggol segitunya."
"Karma does exist. Ingat itu," ucap Hector sambil menunduk, menatap Casphia yang sedang menatapnya balik. "Aku yakin, bahkan tanpa kamu atau LaVida bergerak, semuanya tetep bakal terungkap. Semesta punya caranya sendiri buat mengungkap kebenaran."
Ia berhenti sejenak, seolah memilih kata.
"Tapi kali ini," lanjutnya pelan, "kamu nggak sendirian. Dan kamu nggak harus nunggu semesta kerja sendirian."
Casphia tersenyum, tapi senyum itu memudar saat ponselnya tiba-tiba berdering di tengah kehangatan tersebut. Hector, yang paling dekat dengan ponsel itu, meraihnya lebih dulu.
"Your bestie," katanya sambil menyerahkan ponsel itu kembali.
Menghela napas sejenak, Casphia melepaskan pelukan hangat tersebut dan bangkit dari tempat tidur. Ia merapikan rambut khas bangun tidur sebelum akhirnya mengangkat panggilan video dari kedua sahabatnya.
"CASPHIAAA," teriak Giselle lebih dulu, nyaris membuat Casphia menjauhkan ponsel dari telinganya. "GUE BARU BANGUN TERUS LIAT TIMELINE. GILA. GUE MERINDING!!!"
Agnes muncul di kotak sebelahnya. "Lo udah bangun, kan? Jangan baca komentar sendirian."
"Aman," balas Casphia tersenyum kecil. "Gue baru bangun. Belum buka apa-apa. Cuma baca komentar sekilas semalem."
"Bagus," kata Agnes cepat. "Jangan. At least jangan sendirian."
Lagi, Giselle mendekat ke kamera. "Tapi lo liat videonya kan? Yang CCTV itu? TERUS YANG SATU LAGI. YANG LEBIH JELAS???"
Casphia mengangguk pelan. "Iya. Jade sempet kirim ringkasan reaksinya."
"Ringkasan?" Giselle mendengus. "Netizen tuh nggak main-main, Cas. Itu udah level FBI! Gue sampe mikir, ini orang-orang apa pada kuliah jurusan stalking?"
Agnes menimpali, suaranya lebih pelan. "Yang bikin gue nggak enak itu satu hal."
Casphia mengangkat alis. "Apa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Introverts to Extroverts
Teen FictionCassia adalah gadis pendiam dengan trauma masa lalu yang membuatnya sulit mempercayai orang. Namun, hidupnya berubah saat ia tiba-tiba terbangun di dunia yang asing. Bukan ruang kelas sekolah barunya, melainkan ruang kelas perkuliahan yang sama sek...
