xxxix. change

2.9K 164 7
                                        

Debut adalah momen pertama seorang model tampil di hadapan publik, dan bagi Casphia, itu adalah hal yang telah ia persiapkan dengan serius selama enam bulan terakhir. Namun, debut bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan begitu saja. Ada banyak hal yang harus ia lakukan untuk memastikan semuanya sempurna.

Pertama, Casphia harus menurunkan berat badannya secara bertahap. Meskipun berat badannya sudah ideal, agensi menginginkan ia mengurangi tiga kilogram lagi agar sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Kedua, ia harus rutin berolahraga untuk membentuk tubuhnya, terutama di bagian kaki, lengan, dan perut. Bagian-bagian tersebut harus terlihat proporsional dan mempesona di depan kamera.

Ketiga, Casphia harus berlatih berpose agar tidak terlihat canggung. Sebagai seorang pendatang baru di dunia modeling, ia membutuhkan bimbingan intensif. Untuk itu, ia dibimbing langsung oleh Catherine, seorang pelatih model berpengalaman yang telah berusia 43 tahun.

Selama tiga bulan terakhir, jadwal Casphia sangat padat. Ia sering tidur larut malam dan waktu bersama Hector menjadi sangat terbatas. Mereka hanya bisa bertemu sekali dalam sebulan, itu pun hanya setelah kuliah atau ketika Hector pulang dari LN.

Namun, ada hal yang membuat Casphia merasa lega. Setelah pertemuannya dengan Jeniva sebelumnya, tidak ada lagi insiden yang terjadi seperti yang selama ini ia khawatirkan. Casphia bersyukur, pikirannya bisa fokus pada persiapan debut tanpa terganggu masalah lain.

“Aku memberimu waktu libur selama tiga hari. Gunakan waktu itu untuk beristirahat sebaik mungkin karena pemotretan debutmu nanti akan memakan waktu yang sangat panjang,” ujar Stella, Talent Manager-nya, sambil menatap Casphia yang sudah mengenakan mantel tebal, bersiap untuk pulang.

Cuaca hari itu sangat dingin. Hujan deras baru saja berhenti, tetapi angin masih bertiup kencang. Casphia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel. "Baik. Aku sangat pandai dalam hal istirahat," ujarnya ringan dengan senyum kecil.

Stella terkekeh pelan. "Baguslah. Sampai jumpa tiga hari lagi."

“Sampai jumpa,” balas Casphia seraya melambaikan tangan sebelum berjalan menuju mobil yang selama ini selalu menjemput dan mengantarnya. Mobil itu merupakan fasilitas yang disediakan oleh agensi untuk para model mereka.

Dengan jadwal yang semakin mendekati hari besar, Casphia tahu bahwa debut ini akan menjadi langkah pertamanya menuju mimpi yang selama ini ia kejar.

Menatap jalanan yang basah setelah hujan memberikan ketenangan di hati Casphia, hingga getaran ponsel di tangannya mengalihkan perhatian.

“Lagi di jalan?” Suara di ujung sana langsung bertanya begitu Casphia mendekatkan ponsel ke telinganya.

“Lo cenayang?” balas Casphia dengan nada menggoda.

“Pacar lo kan bisa jadi apa aja,” jawab Hector dengan percaya diri, meskipun Casphia tidak bisa melihat ekspresi bangga yang jelas terpancar dari suaranya.

Casphia mendengkus pelan. “Songong.”

“Lo yang songong. Gue chat gak dibales, gue telepon baru dijawab sekarang. Berasa gue yang pengangguran, padahal gue juga sibuk,” sindir Hector sambil bersandar di kursi kebesarannya, menatap jendela kantornya yang masih diterangi langit senja, meskipun waktu sudah menunjukkan pukul enam malam.

“Gue capek, Kai. Pegang HP aja gak sempet,” balas Casphia sambil memijat pelipisnya.

Hector terdiam sejenak sebelum kembali berbicara, “Kapan dimulai?”

Casphia mengerti arah pembicaraannya dan langsung menjawab, “Dua minggu lagi, tapi gue pemotretan tiga hari lagi.”

You did a great job today, Cas. I’m so proud of you. Istirahat yang cukup, karena hal ini penting buat lo,” ucap Hector dengan nada lembut.

Introverts to ExtrovertsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang