Pagi itu datang lebih cepat dari yang Casphia bayangkan. Alarm bahkan belum sempat berbunyi ketika matanya sudah terbuka lebih dulu. Cahaya matahari yang menyusup lewat sela tirai langsung memberi isyarat bahwa hari ini kemungkinan besar tidak akan mudah. Hari ketika ia kembali harus berdiri di hadapan orang-orang yang sudah menilainya selama dua minggu terakhir.
Ia bangun perlahan. Lutut kanannya masih terasa sedikit kaku dan bahunya agak tegang, tetapi tidak sampai mengganggu. Secara fisik ia sudah cukup pulih. Yang belum benar-benar siap justru pikirannya.
Pintu kamar terbuka pelan. Hector muncul dengan wajah setengah sadar. Ia hanya mengenakan celana boxer dan shirtless, cukup untuk menunjukkan bahwa ia baru bangun beberapa menit lalu. Tipikal banyak lelaki pada umumnya yang entah mengapa merasa nyaman tampil half-naked tanpa banyak pertimbangan.
"Tumben?" Hector mengernyit heran saat mendapati Casphia sudah duduk di kasur dengan kaki menyilang.
Casphia menoleh begitu mendengar suara rendah khas Hector yang masih serak karena kantuk. "Nggak bisa tidur."
Dengusan kecil terdengar saat Hector melangkah mendekat. "Nervous?"
"I'm still human, tho," balas Casphia sambil melirik sinis.
Hector terkekeh pelan. "Today's the day, ya?"
Casphia mengangguk.
"I know you can do it." Hector merendahkan tubuhnya hingga jarak mereka menyempit dan membuat Casphia refleks sedikit memundurkan badan. "This is Casphia, right?"
"Mhm."
Usapan lembut di pipinya membuat tubuh Casphia meremang. Detak jantungnya perlahan naik saat manik matanya bertemu dengan tatapan Hector.
"Don't be nervous, baby."
Sial. Sudah berapa lama mereka bersama, tetapi nada suara rendah Hector selalu berhasil membuat dadanya berdebar tanpa aba-aba.
Ia bahkan tidak sempat memproses apa pun ketika bibirnya tiba-tiba terasa hangat dan sedikit basah. Hector menciumnya bersamaan dengan kecupan lama di kening.
"Go get a shower," ujar Hector sambil menunjuk ke arah kamar mandi menggunakan dagunya. "Aku bikinin sarapan. Kamu harus makan."
"Aku nggak laper."
"Cas." Tatapan itu cukup untuk membuat Casphia menghela napas dan menyerah.
Ia akhirnya mengangguk. Lagipula pergi berperang dengan perut kosong terdengar seperti ide buruk, bukan?
"Okay."
Setelah Hector keluar, Casphia menyandarkan punggungnya ke kepala tempat tidur. Setidaknya dengan kehadiran Hector tadi membuatnya tak merasakan gugup lagi.
Beberapa belas menit kemudian, Casphia berdiri di depan cermin panjang di ruang tamu. Ia hanya melihat riasannya sebentar, ingin memastikan riasannya tidak berantakan.
Tiba-tiba pintu apartemen terbuka keras. Jade masuk tanpa menunggu jawaban sang pemilik, langkahnya cepat dan suaranya langsung memenuhi ruangan.
"Cas! Gila, lo udah rapi? Gue kira lo masih gegoleran di kasur!" serunya sambil melepas kacamata hitamnya.
Casphia memutar kedua bola matanya malas ketika mendengar suara nyaring Jade. "Nervous dikit, makanya bangun awal."
"Bisa nervous lo?" tanya Jade, tak percaya.
Casphia hanya merespons dengan tatapan malas, tak berniat menjawab.
"Hehe, peace," kata Jade sambil tersenyum dan mengangkat jari telunjuk serta tengah, membentuk huruf 'v'. Setelah itu, ia segera mengecek penampilan Casphia. Ia melihat rambut, pakaian, dan semuanya dengan cara yang terlihat sudah sering ia lakukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Introverts to Extroverts
Teen FictionCassia adalah gadis pendiam dengan trauma masa lalu yang membuatnya sulit mempercayai orang. Namun, hidupnya berubah saat ia tiba-tiba terbangun di dunia yang asing. Bukan ruang kelas sekolah barunya, melainkan ruang kelas perkuliahan yang sama sek...
