Dipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
Entah apa yang sedang dipikirkan Fira, tengah malam marah-marah dan meminta cerai, Maulana bingung harus bersikap apa.
Tidak ada masalah antara mereka berdua, tidak juga dengan keluarga mereka, tapi tiba-tiba saja minta cerai.
Maulana menaikkan pandangan melihat jam dinding, waktu menunjukkan pukul 1:00, dirinya juga masih ingin tidur lagi, tapi melihat sang Istri duduk dengan air mata mengalir tidak mungkin dirinya bisa terlelap.
"Sayang, apa yang terjadi?" Maulana bertanya dengan lembut, duduk di depan sang Istri, menatap gadis itu bingung.
"Mas sudah tidak cinta lagi padaku! Mas selingkuh dariku! Mas bohong padaku! Mas juga akan menikahi Bu Indri!" Fira berbicara dengan emosi meluap-luap, matanya melirik guling kemudian mengambil guling itu dan memeluknya.
Maulana semakin tidak paham, semua ucapan sang Istri tidak benar."Kapan Mas bilang seperti itu?"
Fira mengusap air matanya lalu menaruh dagu di atas guling, wajahnya cemberut."Tadi, dalam mimpi ku."Suara Fira terdengar lirih, namun masih tersimpan kekesalan.
Maulana menatap malas Istrinya, tengah malam membangunkan orang, minta cerai hanya karena mimpi. Tidak masalah juga kalau ingin menceritakan mimpi, tapi tidak perlu minta cerai juga.
Maulana kembali merebahkan tubuh di atas tempat tidur, menarik selimut lalu memunggungi sang Istri."Mas mau tidur, Sayang. Nanti kalau mimpi Mas selingkuh lagi, kamu minta cerai saja sama Mas yang ada dalam mimpimu. Karena selamanya Mas akan sayang kamu, Mas tidak mau ceraikan kamu." Pria itu tersenyum sendiri melihat sikap sang Istri, dia yang mimpi dirinya yang kena omel.
Fira mengintip sang Suami dari balik poni- poni rambutnya."Tapi kenapa rasanya sakit ya, Mas? Kesal sekali."
Gadis itu masih memikirkan rasa sakit dikhianati oleh pria yang paling dicintai.
Tidak ada jawaban lagi dari sang Suami, gadis itu mengerutkan kening."Apa Mas Ivan sudah tidur, ya?"
"Belum, Istriku. Mas belum tidur, Mas mendengarkan cerita mu." Maulana membalikkan tubuh menatap sang Istri, gadis itu terlihat masih kesal karena mimpi.
Fira melirik ponsel yang ada di atas meja kecil di samping tempat tidur, layar ponsel itu berkedip -kedip, tanda ada panggilan masuk.
Gadis itu menyingkirkan guling yang ada di pelukannya, lalu mengambil ponsel tersebut, sebelum mengangkat panggilan, ia kembali merebahkan tubuh menjadikan dada sang Suami sebagai bantalan.
Maulana pasrah saja dengan sikap manja gadis itu, hanya saja ia penasaran siapa orang yang kurang kerjaan malam-malam telpon Istri orang.
"Dari siapa, Sayang?"
"Antonio." Fira menunjukkan nama seorang yang memanggil di layar ponsel.
"Bolehkah Mas saja yang menjawab?" Maulana meminta ijin, meski jika langsung ambil saja tidak masalah, tapi menurutnya itu kurang sopan.
Fira mengangguk, ia menyerahkan ponsel itu pada sang Suami.
Maulana meraih ponsel tersebut lalu menjawab panggilannya. Belum sempat dirinya bicara, di sebrang telpon Antonio sudah bicara," Malam, Sayang. Bagaimana? Apakah Pak tua itu sudah tidur? Aku sengaja telpon malam-malam, biar kita bisa enak ngobrol."
Maulana menurunkan pandangan, melihat sang Istri yang terlah kembali terlelap dalam tidurnya, seakan tidak peduli dengan apapun yang akan dikatakan Antonio.
Maulana mengalihkan pandangan pada ponsel miliknya, perlahan ia meraih ponsel itu lalu memutar rekaman suara sang Istri saat gadis itu bermanja.
"Hallo, Mas. Aku senang deh Mas telpon, artinya Mas peduli padaku." Itu adalah suara rekaman saat gadis itu meminta ditelpon pas ngambek, hanya mau bicara di dalam telpon.
Antonio sangat bersemangat, ia merubah posisi tidur dari terlentang menjadi miring kiri."Tentu saja, aku sangat peduli sama kamu. Tapi kok tumben kamu panggil, Mas?"
Maulana mematikan rekaman lalu memutar yang lain mencari ucapan sesuai dengan pertanyaan Antonio."Karena aku sayang Mas, apakah Mas sayang padaku?"
"Tentu saja, aku sangat sayang kamu."
"Buktinya apa?"
"Kamu mau apa?"
"Belikan aku liontin dari berlian, aku tunggu besok."
Maulana tersenyum sendiri membayangkan ekspresi wajah Antonio, siapa suruh suka menggoda Istri orang.
"Eh, Sayang. Kamu yakin? Memangnya Pak Ivan tidak marah?"
Maulana mematikan sambungan telponnya lalu mengetik pesan"Tidak kok, Mas Ivan kan tidak tahu"
Setelah mengirimkan pesan itu, Maulana menaruh kembali ponsel milik sang Istri lalu memeluk tubuh mungil tersebut, tidak peduli lagi dengan tanggapan Antonio.
Antonio mengerutkan kening membaca pesan itu."Tidak biasanya Fira mengetik dengan kalimat seperti ini, biasanya hanya g atau y atau g tau."
Sejenak ia curiga kalau yang memberikan pesan adalah Maulana tapi teringat di telpon suara Fira, kecurigaan itu menghilang."Nggak mungkin juga kalau Pak tua itu yang ngirim, mungkin memang Fira. Nggak apa deh, aku belikan berlian besok, sekarang udah malam. Bubuk lagi ah..."
Antonio memejamkan matanya dengan senyum bahagia, tidak tahu saja kalau pengirim pesan adalah Maulana.
Waktu menunjukkan pukul 2:00, Maulana terbangun, ia menoleh pada sang Istri, gadis itu masih tidur dengan lelap.
"Sayang, ayo tahajud dulu?"
Fira melenguh, jemari mungil itu berusaha mengibaskan tangan yang menyentuhnya."Mas sholat saja sendiri, aku tidak sholat." Mata itu masih tertutup saat menolak ajakan sang Suami.
"Kenapa?" Maulana memandang sang Istri penasaran.
"Karena aku nggak sholat, Mas. Ada tamu tiap bulan datang, aku tidak bisa mengusir sesuka hati," jelas Fira dengan kesal.
Maulana mengangguk, pantas saja Istrinya itu tadi tidak mau diajak, saat menolak pun dengan wajah bersemu merah, ternyata alasannya tamu bulanan.
"Baiklah, harusnya tadi kamu bilang saja, Sayang. Jadi Mas tidak akan berfikir negatif." Maulana turun dari tempat tidur lalu berjalan ke kamar mandi.
Fira membuka mata, netra kecoklatan itu memperhatikan sang Suami, pikirannya mencoba mencerna pikiran negatif apa yang tadi dikatakan pria itu.
"Jangan-jangan tadi Mas Ivan mengutukku, tidak mungkin juga. Atau jangan-jangan Mas Ivan mengira aku sudah tidak mau lagi, lupakan saja. Aku yakin Mas Ivan bukan orang yang seperti itu, lebih baik aku tidur. Siapa tahu mimpi bertemu Gong Jun." Gadis itu kembali memejamkan matanya dengan harapan dapat bermimpi bertemu aktor China bernama Gong Jun.
Sebuah bayangan hitam besar dengan mata merah menyala, gigi taring panjang dengan cakar kuku tajam.
Bayangan itu menatap lapar gadis cantik yang meringkuk di dalam kamar, tubuh mungil itu ketakutan dan gemetar, suara lantang tidak lagi terdengar saat dirinya berusaha berteriak.
Perlahan bayangan hitam besar itu semakin dekat, seperti hendak menerkam gadis itu.
"Tidak!"
Fira terbangun dengan mata melotot, keringat membanjiri tubuh, detak jantung berdebar tidak beraturan.
"Sayang, kamu mimpi buruk lagi?" Suara lembut sang Suami perlahan menenangkan gadis itu. Perlahan pandangan mata menggulir pada sosok pria bermata safir yang kini berdiri menatap dirinya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.