Episode 105(115)

23 2 0
                                        

Setelah sholat Isya, Fira mengambil busana muslim warna biru, ia memasangkan kalung dengan bandul berlian Teras of the Cosmos, kemudian menoleh pada sang Suami, seperti biasa Maulana masih membaca Ayat Al Qur'an.

"Mas, aku tunggu di luar."

Maulana menoleh sejenak pada Sang Istri, lalu mengangguk."Iya."

Dengan langkah kaki ringan, Fira melangkahkan kaki menuju pintu, ia meraih knop pintu dan memutarnya.

Di luar kamar terlihat Nita berdiri dengan nampan berisi makanan, kening Fira berkerut melihat sahabatnya itu terlihat cantik.

Nita memakai gaun merah dengan belahan sampai ke paha, hingga memperlihatkan kulit putih mulusnya, tidak lupa dengan bagian kerah turun kebawah hingga hampir menunjukkan buah dadanya.

"Kamu ngapain di depan kamarku?" Fira bertanya dengan heran.

"Tentu saja menunggu Ivan keluar," jawabnya dengan senyum menggoda.

"Ngapain nungguin Mas Ivan keluar? Kamu ini aneh banget si, Nit." Fira semakin merasa heran, seorang wanita bersuami berdiri di depan kamar pasangan suami istri dengan gaun seksi, menurutnya itu sangat tidak pantas.

"Fira, aku tahu kalau kamu itu tidak akan bisa membuat Ivan bertahan lama dengan pernikahan kalian. Karena..." Nita tersenyum mengejek.

Raut wajah Fira berubah kesal."Jangan jadi kompor!"

"Aku tidak jadi kompor, kok. Lihatlah penampilan mu." Ucapan Nita berhenti kala melihat liontin di leher Fira, perlahan tangannya terulur hendak menyentuh liontin tersebut.

Fira segera menutup liontin miliknya dan menyingkirkan tangan sahabatnya itu."Kenapa dengan penampilanku?"

"Kalung mu bagus sekali, kamu beli dimana?" Pandangan mata Nita tidak sedikit pun terlepas dari kalung Hope Diamond itu. Ia pernah melihat kalung di leher Fira itu di Google, saat ia mencari informasi tentang berlian termahal di dunia.

Fira diam dengan tatapan mata curiga, tak lama kemudian pintu kamar terbuka, menunjukkan sosok Maulana dengan baju taqwa berwarna biru.

Maulana melangkahkan satu langkah di depan Fira, menatap Nita jijik."Kamu ingin menggoda siapa?"

Fira mengangkat kepala memandang sang Suami, ia memeluk lengan pria itu, penasaran dengan jawaban Nita.

Nita mundur beberapa langkah dengan kepala menunduk, padahal tadi dirinya sangat yakin Maulana akan tergoda, namun baru ditanya sudah gemetaran.

"Apakah kamu tahu seperti apa penampilan mu sekarang?" Maulana kembali bertanya, kali ini dengan nada lebih merendahkan.

Nita memberanikan diri mengangkat kepala dan memandang paras tampan di depannya, ia menarik sudut bibirnya menciptakan senyum semanis mungkin."Van, apakah aku cantik?"

"Cantik?" Maulana menaikkan sebelah alis dan tersenyum sinis.

"Kamu terlihat seperti seorang pelacur murahan," katanya menghina.

Tubuh Nita menegang, syok mendengar penghinaan dari Maulana, matanya mengembung dengan air mata, tapi Maulana sama sekali tidak peduli.

Maulana mengalihkan perhatian pada Fira, gadis itu memandang Nita sedih. Pria itu tersenyum lembut lalu memutar tubuh, sedikit merendahkan tubuh lalu mengangkat tubuh mungil sang Istri ke dalam gendongannya.

Fira terkejut karena tubuhnya tiba -tiba melayang."Mas, kenapa mengangkat ku seperti balita?"

"Tidak apa-apa, Mas tidak suka saja kamu menaruh rasa iba terhadap seorang wanita yang mencoba menggoda pria bersuami. Itu tidak pantas dan termasuk perbuatan dosa." Maulana melangkahkan kaki dengan Fira masih berada di gendongannya.

"Wanita baik-baik tidak akan menggunakan pakaian minim seperti itu di depan pria lain, apalagi dengan niat menggoda. Dalam Islam itu dilarang, dan hukumnya dosa karena seluruh tubuh wanita adalah aurat." Maulana menekan tombol di lift, ia melangkahkan kaki masuk ke dalam lift lalu menurunkan sang Istri.

Di dalam lift, Fira terus kepikiran ucapan Nita, ia memperhatikan penampilan, busana muslim rapi dengan gaun panjang dan tertutup seluruh tubuh serta mengenakan kerudung.

"Mas, apakah penampilan ku ini jelek?" tanya Fira dengan suara rendah.

Maulana mengalihkan perhatian pada sang Istri, penampilan gadis itu terlihat cantik dan elegan."Siapa yang bilang?"

Fira mengangkat kepala menatap sang Suami."Kata Nita, dia bilang penampilan ku, tapi tidak dilanjutkan."

Maulana menundukkan kepala menatap wajah cantik memakai kerudung biru itu, ekspresi gadis itu terlihat murung."Sayang, sebagai seorang muslimah, menutup aurat itu adalah kewajiban. Allah sendiri yang memerintah dalam Al Qur'an surat Al Ahzab ayat 59.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Wahai Nabi (Muhammad), katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin supaya mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Justru apa yang dilakukan oleh Nita itu tidak boleh sebagai seorang muslimah, ini adalah perintah langsung dari Allah." Maulana menjelaskan dengan sabar, bibirnya tersenyum lembut.

Fira menatap sang Suami dengan sebelah alis terangkat."Mas, Mas sejak kapan bisa hafal Al Qur'an?"

Maulana mengangkat kembali kepalanya, memperhatikan dalam lift tersebut."Mas tidak ingat, tapi sejak Mas bertekad untuk bertaubat, Mas belajar agama dengan sungguh-sungguh."

Fira mengangguk, ia merasa iri dengan sang Suami, mungkin ini yang dinamakan mantan preman.

Terdengar suara ting saat lift terbuka, mereka berdua melangkahkan kaki meninggalkan lift.

Di depan pintu rumah, terlihat Nadia sudah siap dengan gaun biru rapi, bibirnya tersenyum saat Maulana dan Fira muncul.

Maulana tidak peduli, ia tetap melangkahkan kaki melewati Nadia. Fira melirik Nadia heran, tadi di depan kamar ada Nita, sekarang ada Nadia, kenapa di Mension Mizuruky ini dirinya seperti punya banyak madu?

Nadia sedikit syok karena Maulana tidak menoleh padanya sama sekali, pria itu berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman, diikuti oleh Fira di belakangnya.

Nadia menghela nafas kesal, ia pun memutar tubuh lalu berlari mengejar Maulana.

"Van, tunggu!"

Maulana menoleh pada Nadia, menatap wanita itu datar.

"Van, kamu mau kemana? Ini sudah malam, menginap saja di sini?" Nadia menggerakkan tangan hendak menyentuh lengan baju Maulana, namun Maulana menyingkirkan tangannya hingga Nadia seperti memegang angin.

"Mama Nadia, aku dan Mas Ivan mau makan di luar," jawab Fira sopan.

Nadia melirik Fira tidak suka."Tidak tanya padamu."

Fira menghela nafas melihat sikap jutek Nadia, ia pun mengangkat bahu tidak peduli, setelah itu masuk ke dalam mobil menunggu sang Suami.

"Istriku sudah memberikan jawaban, jika Mama Nadia merasa tidak suka, ya sudah, tapi memang itu jawabannya." Maulana mengalihkan perhatian pada pintu mobil, ia menggerakkan tangan membuka pintu mobil.

Nadia kesal dengan Fira, gadis itu selalu membuat Maulana tidak peduli padanya."Van, bagaimana kalau Mama Nadia ikut?"

Maulana mengangkat pandangan menatap Nadia."Tidak perlu."

Maulana menghidupkan mesin mobil lalu meninggalkan Nadia di depan rumah, ia sama sekali tidak peduli dengan perasaan Istri ke 5 Ayahnya itu.

Suami Terbaik 2 Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang