Episode 96(106)

29 2 0
                                        

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Laki-laki (suami) adalah penanggung jawab atas para perempuan (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari hartanya. Perempuan-perempuan saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, berilah mereka nasihat, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu,) pukullah mereka (dengan cara yang tidak menyakitkan). Akan tetapi, jika mereka menaatimu, janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Maha tinggi lagi Maha besar, ayat ini terdapat dalam surat An Nisa Ayat 34."

Setelah berhasil meredakan amarahnya pada Leaf, Maulana membacakan Ayat Al Qur'an kepada Istrinya, meski niatnya hanya membacakan pada sang Istri namun Leaf dan semua anak buah Fransis ikut mendengarkan, meski mereka tidak ingin mendengar namun demi nyawa mereka terpaksa pura-pura senang.

Maulana membawa Fira duduk di salah satu kursi meja makan lalu mendudukkan gadis itu di atas pangkuannya, memeluk pinggang gadis itu dari belakang.

"Mas memiliki tanggung jawab besar terhadap mu, tanggung jawab itu bisa berupa menafkahi mu, menjaga serta melindungi mu. Melindungi Istri Mas dari apapun dan dari siapapun yang membuat Istri Mas tidak nyaman atau yang berani merendahkan mu. Merendahkan mu sama saja merendahkan Mas." Maulana menaruh kepalanya di bahu sang Istri, ia ingin memberikan rasa nyaman dan aman terhadap gadis itu.

Leaf mendekatkan kepalanya pada Tree lalu berbisik,"Tree, kenapa Ketua God Diamonds berubah menjadi Ustadz? Dia bahkan hafal ayat Al Qur'an."

"Diamlah, jangan sampai Ketua mendengar dan kamu jadi masalah." Tree menepis ucapan Leaf tanpa menoleh, pandangan matanya masih fokus pada Maulana seolah dirinya mendengarkan ceramah agama dadakan, walau dalam hati sebenarnya memikirkan hasil penyelidikan tentang 5 orang yang tadi mengintai rumah Maulana.

Telinga Fransis terasa panas setiap kali mendengar sahabatnya itu ceramah, untungnya makannya sudah selesai kalau tidak mungkin sudah dilempar piring itu.

"Van, bisakah kamu ceramah di tempat lain?" Fransis menatap Maulana malas.

Maulana menaikkan kelopak mata menatap Fransis dengan sebelah alis terangkat.

"Lihatlah mereka ini, Van! Mereka ini tidak tertarik dengan ceramah mu." Fransis kembali berkata.

Maulana mengangkat kepala lalu memperhatikan anak buah Fransis, mereka telah selesai makan namun masih duduk di tempat makan sambil memperhatikan dirinya.

Ekspresi anak buah Fransis bermacam-macam, namun dapat dipastikan bahwa mereka hanya pura -pura.

Maulana mengangguk, ia menggerakkan tangan menurunkan tubuh sang Istri dari pangkuannya lalu bangkit dari tempat duduknya.

"Aku menemani Istriku tidur siang dulu, perintah ku tadi dibicarakan di ruang kerja ku."

Mereka semua serempak bangkit dari tempat duduknya lalu mengangkat tangan dan menaruh telapak tangan kanan di dada kiri dengan kepala sedikit menunduk.

Fira tidak mengerti kenapa mereka begitu hormat dan patuh, apa yang mereka lakukan seperti sedang menuruti dan menjunjung tinggi sang Suami, namun ia tidak ingin peduli.

Fira mengangkat kepala menatap sang Suami, mulutnya komat-kamit tidak jelas, pria itu bukan ingin menemani tidur siang melainkan ingin melanjutkan kesenangan sebagai Suami yang tertunda.

Maulana merangkul bahu sang Istri dan membawanya pergi meninggalkan Fransis bersama anak buahnya.

***

Catherine berdiri di depan jendela kamarnya yang terletak di lantai dua, menatap keluar ke taman yang rindang dan hijau di bawahnya. Matahari bersinar cerah, memberikan cahaya lembut pada wajahnya. Angin sepoi-sepoi berhembus, membawa aroma bunga dan tanaman hijau ke dalam kamarnya.

Catherine tampak tenggelam dalam lamunannya, pikirannya melayang jauh dari tempat dan waktu saat ini. Wajahnya mungkin menunjukkan ekspresi yang tenang, namun juga sedikit sedih atau penuh kerinduan, tergantung pada apa yang ada dalam pikirannya.

Taman di bawahnya dipenuhi dengan bunga-bunga yang berwarna-warni, tanaman hijau yang rimbun, dan ada beberapa pohon yang tinggi menjulang ke langit. Suasana yang tenang dan damai mungkin membuat Catherine semakin tenggelam dalam lamunannya.

Sintia masuk ke kamar Catherine dengan langkah yang lembut, tidak ingin mengganggu lamunan temannya. Ia berdiri di samping Catherine, menatap keluar jendela ke taman yang sama, dan memperhatikan ekspresi Catherine yang tenggelam dalam pikirannya.

Setelah beberapa saat, Sintia mungkin memecahkan keheningan dengan suara yang lembut."Mbak, apa yang Mbak pikirkan?"

Catherine tersenyum lembut dan menjawab dengan suara yang pelan, "Aku baik-baik saja, Sintia. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu." Sintia menanggapi dengan empati, "Kalau Mbak ingin membicarakan tentang itu, aku di sini untuk mendengarkan."

Catherine merasa tidak sanggup jika harus menjelaskan pada Maulana tentang hubungan biologis antara Maulana dan Carlos Santana, ia khawatir akan membuat Maulana syok atau bahkan tidak bisa menerima kenyataan bahwa mereka adalah anak dan Ayah.

"Apa ini tentang hubungan biologis antara Ivan dan Santana?" Sintia menebak penyebab kegelisahan Catherine.

Catherine menghela nafas panjang, ia memutar tubuh lalu berjalan ke sofa yang terletak di depan tempat tidur kemudian mendudukkan diri di sofa tersebut.

Sintia memandang prihatin Istri pertama Suaminya tersebut, meski mereka berbagi Suami namun bagi Sintia, Catherine sudah seperti saudara kandung dan Maulana seperti anak sendiri.

Sintia berjalan mendekati Catherine lalu duduk di samping wanita itu."Aku tahu ini tidak mudah, tapi Mbak tetap harus mengatakannya."

"Sintia ... Kamu tahu sendiri Ivan itu sangat keras kepala dan mudah marah, aku khawatir dengan reaksinya." Catherine menoleh pada Sintia, ia tak sanggup membayangkan reaksi Maulana saat mendengar kenyataannya.

Sintia menoleh pada Catherine lalu berkata,"Mbak takut Ivan merasa dikhianati dan dibohongi?"

Catherine mengangguk."Ivan paling benci pengkhianatan dan kebohongan, dulu hanya karena Ayahnya pernah berbohong, dia meninggalkan rumah dan tidak pulang-pulang. Dia bersedia pulang karena aku membujuknya untuk menikah dengan Fira."

"Kalau nanti Ivan pergi lagi, Mbak tahan saja Fira, biar Ivan tidak jadi pergi. Mbak tahu kan kalau Ivan sangat mencintai Fira?" Sintia memberikan ide.

"Antara Istri dan Ibu, seorang pria akan memilih siapa?" Pertanyaan terlontar dari Catherine membuat Sintia jengkel seketika, ia punya anak perempuan dan tidak punya anak laki-laki, kalau anak perempuannya diperlakukan tidak baik demi untuk Ibu dari pihak laki-laki dirinya sebagai seorang Ibu tidak akan pernah bisa menerima itu.

Catherine tersenyum melihat ekspresi jengkel dari Sintia.

Suami Terbaik 2 Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang