"Apa yang ingin kamu bicarakan dengan Mas Ivan? Kan kamu bisa bicara di sana." Fira menunjuk sofa kosong di ruangan itu. Gadis itu menegakkan tubuhnya saat menunjuk kursi tersebut.
Sekilas, Maulana menarik napas lega, menyangka bahwa dorongan dari Fira akhirnya berkurang, tapi harapan itu terlalu cepat.
Dalam hitungan detik, Fira kembali bersandar tanpa banyak pertimbangan. Kali ini, tubuhnya menekan lebih dalam, dan sentuhan itu, meski tidak disengaja, menyulut nyeri yang lebih tajam di perut kanan atas Maulana.
Tegangan kecil muncul di garis rahangnya, napasnya tertahan dalam keheningan yang semakin terasa. Perlahan, kelopak matanya menutup sejenak sebelum ia membuka lagi, berusaha tetap terlihat biasa.
Antonio meliriknya, menghela napas pelan. Sementara Fira kembali fokus pada layar ponselnya, tanpa menyadari bahwa setiap gerakannya seolah menciptakan gelombang kecil dalam tubuh Maulana, gelombang yang, alih-alih mereda, justru semakin menghimpit.
Maulana menarik napas dalam diam, mencoba meredakan gejolak yang semakin sulit diabaikan. Nyeri di perutnya tak lagi terasa sebagai denyutan samar, kini ia tahu bahwa menahannya lebih lama hanya akan membuatnya semakin terkuras.
Tanpa mengubah nada suaranya, ia mengalihkan pandangannya pada Fira, yang masih bersandar tanpa menyadari bahwa keberadaannya begitu dekat telah menjadi tekanan tambahan.
"Sayang." Suaranya lembut, nyaris seperti embusan kecil di antara keheningan ruangan.
Fira mengangkat wajahnya sedikit, hanya sekilas, tapi tetap belum sepenuhnya berpaling dari layar ponselnya.
Maulana melanjutkan, kali ini dengan sentuhan ketenangan yang disengaja.
"Mas mau berbaring sebentar, kamu pindah duduk dulu?"
Ada jeda setelah kata-katanya terucap, ruang kosong di mana ia menanti respons.
Fira mengerutkan kening samar, akhirnya benar-benar menatap Maulana."Kenapa Mas? Biasanya Mas juga bisa tidur sambil senderan gitu."
Alih-alih menjawab dengan keluhan, Maulana hanya tersenyum kecil, ekspresi yang nyaris tak terbaca antara kelelahan dan keinginan untuk tidak membuat keadaan terasa terlalu berat.
Fira menghembuskan napas pelan, lalu akhirnya menggeser tubuhnya. Ia menegakkan badan, berpindah ke posisi yang lebih memberi ruang bagi Maulana.
Tanpa banyak gerakan berlebihan, Maulana membaringkan tubuh di sofa panjang itu, merasakan sedikit kelegaan dari perubahan posisi. Napasnya lebih pelan sekarang, tidak sepenuhnya bebas dari rasa sakit, tapi setidaknya tidak lagi terhimpit seperti sebelumnya.
Sementara itu, Fira masih menatapnya, menyandarkan tubuh ke ujung sofa, seakan baru menyadari sesuatu, bahwa sejak tadi, ada hal yang ia lewatkan dalam diam Maulana.
"Mas kenapa? Apa Mas sakit?"
Maulana menghela napas pelan sebelum menjawab, suaranya tetap tenang, seperti hembusan angin yang nyaris tak bergetar. Tidak ada ketergesa-gesaan, tidak ada nada berat yang bisa memberi petunjuk bahwa ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kelelahan.
"Tidak, Mas hanya sedikit lelah saja. Tunggu beberapa menit, nanti juga baikan."
Kata-katanya meluncur tanpa cela, seolah benar-benar meyakinkan, tanpa satu pun jejak kepedihan yang seharusnya lebih kentara. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis, bukan karena merasa baik-baik saja, tetapi karena itu cara terbaik untuk menjaga keseimbangan.
Tatapannya tetap lembut, sedikit meredup karena waktu, tetapi masih memiliki ketenangan yang sama. Ia tidak ingin siapa pun menyadari bahwa di balik setiap tarikan napas yang terkendali, ada sesuatu yang menekan lebih dalam, sesuatu yang ia pilih untuk tidak tunjukkan.
"Sudah, Fir. Biarkan Pak Ivan istirahat dulu, lebih baik kamu siapkan makanan untuk ku." Antonio menyahuti ucapan Fira, ia tahu apa yang dirasakan Maulana, pria itu sakit dan butuh istirahat.
Fira memperhatikan Maulana, pria itu terbaring di sofa, tubuhnya sedikit meringkuk, seolah berusaha mengurangi rasa nyeri yang masih bersarang di perutnya. Mata terpejam, bukan dalam ketenangan, tapi dalam upaya menahan sensasi perih yang terus menggelayuti. Alisnya sesekali berkerut, bibirnya terkatup rapat, seperti menahan erangan yang ingin lolos.
Sofa di bawahnya terasa hangat, tapi tak cukup untuk meredakan ketidaknyamanan yang mengganggu setiap tarikan napasnya. Udara di sekitar hening, hanya terdengar desah napasnya yang berat dan teratur, mencoba meredam ketidaknyamanan tanpa banyak gerakan. Ujung jemarinya menggenggam pelan bagian sisi sofa, seolah mencari pijakan dalam ketidakpastian rasa sakit yang datang dan pergi.
Fira merasa aneh dengan cara Maulana tidur, di matanya pria itu terlihat menahan sesuatu yang tidak terlihat namun Suaminya mengatakan hanya lelah dan ingin istirahat saja.
"Ngapain masih diam, Fira. Ayo buruan, lihatlah perut Suami kedua mu ini sudah dangdutan." Antonio kembali bersuara, ia khawatir Fira akan melakukan sesuatu yang membuat Maulana semakin tidak nyaman. Misalnya seperti tiba-tiba mengambil bantal dan tidur di atas tubuh Suaminya atau melakukan sesuatu yang lebih ekstrim, kalau Maulana dalam keadaan sehat, apa yang Fira lakukan itu tidak masalah, tapi bagi Maulana sekarang yang merupakan penderita sirosis hati yang sangat parah, sedikit tekanan pada perut kanan atasnya saja akan membuat terasa sangat sakit.
Fira menghela nafas, ia pun mengecup bibir sang Suami sejenak."Mas, sebenarnya kamu sakit apa? Mas sakit parah atau hanya maag?"
Fira bangkit dari tempat duduknya, pergi ke dapur untuk membuatkan makanan untuk Antonio, pria itu selalu banyak bicara.
***
Nyeri yang tadi mencengkeram perutnya seperti genggaman besi kini mulai melemah. Sensasi tajam yang menusuk perlahan berubah menjadi denyutan samar yang datang dan pergi, seolah tubuhnya enggan sepenuhnya melepaskan sisa-sisa penderitaan. Hangat yang menjalar dari titik suntikan mulai meresap, meredakan ketegangan yang tadi mengikat otot-ototnya dalam ketidaknyamanan yang tak terhindarkan.
Seiring waktu berlalu, tekanan di perutnya yang semula terasa menghancurkan mulai melonggar, memberi ruang bagi napas yang lebih tenang, meskipun masih ada jejak kelelahan yang menggantung di sela-sela kelegaan. Kini, alih-alih rasa sakit yang menguasai kesadarannya, yang tersisa hanyalah sensasi samar sebuah peringatan bahwa luka itu masih ada, tapi untuk saat ini, ia bisa bertahan.
Maulana membuka matanya saat aroma wangi dari masakan Istrinya tercium pada indra penciumannya, perlahan ini menundukkan diri di atas sofa empuk ruang tamu.
Maulana menoleh ke belakang, terlihat dari arah dapur, Fira membawa dua mangkuk berisi mie instan, gadis itu berjalan dengan susah payah karena takut mie itu tumpah.
Setelah sampai di meja, Fira meletakkan satu mangkuk mie dengan sedikit kasar di depan Antonio lalu satu untuk dirinya."Makanlah, jangan bilang kamu Suami keduaku. Memangnya aku wanita apaan? Masa aku punya dua Suami?" Fira ngedumel sendiri.
Antonio cengengesan, namun ia merasa bahagia karena Fira membuatkan makanan untuknya meski hanya sekedar mie instan.
Maulana tersenyum melihat ekspresi kesal sang Istri, gadis itu mudah sekali marah untuk hal-hal kecil. Perlahan ia menggerakkan tangan menyentuh kepala Sang Istri, Fira menoleh pada Maulana."Kenapa Mas?"
"Tidak apa-apa, Mas sangat sayang padamu. Mas tidak ingin kamu sedih untuk hal apapun, Mas akan selalu untuk mu."
Fira merasa aneh dengan ucapan Maulana, pria itu seakan memberikan isyarat yang mendalam dan menyedihkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
RomansaDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
