Dalam suasana sunyi setelah mengingat semua masalalu tidak menyenangkan, Sintia dan Nindi dikejutkan oleh suara dering ponsel.
Sintia segera mengambil ponsel miliknya lalu melihat nama pemanggil, ia menghela nafas saat melihat ternyata itu dari Catherine.
Sintia pun menjawab panggilan tersebut."Assalamualaikum, Mbak."
Catherine mengerutkan kening mendengar suara Sintia seperti orang menerima berita buruk, rasa penasaran pun muncul dalam diri wanita itu."Ada apa, Sintia? Kenapa kamu terdengar kaget seperti itu? Apakah di rumah baik-baik saja?"
Sintia menghela nafas, di mansion Mizuruky sangat baik kecuali Nita dan Nadia yang selalu ribut untuk urusan harta, sedangkan yang lain rukun dan baik -baik saja.
Alasan dirinya terkejut tentu saja karena suara dering ponsel miliknya dan itu terjadi lantaran Catherine menelpon dirinya.
"Semua baik, Mbak."
Catherine tidak percaya begitu saja, telinganya masih berfungsi dengan benar hingga mampu membedakan suara orang santai dan terkejut seperti mendapatkan berita duka.
"Kamu yakin, Sintia?"
Sintia merasa aneh dengan Chaterine, wanita itu tidak mungkin menghubunginya hanya karena khawatir pada Sinya bukan?
Sejak mereka akrab, Catherine hanya menghubunginya bila bosan dan ingin ditemani jalan-jalan, menurutnya itu lebih baik daripada sendiri bosan di rumah melihat keributan dua madunya tersebut.
"Iya, Mbak. Di sini semua baik kok, Mbak Catherine telpon bukan karena rindu Mas Sinya bukan?"
Sintia kembali meyakinkan Istri pertama Suaminya tersebut, sekalian memastikan alasan wanita itu menghubungi dirinya.
"Buat apa aku merindukan tua bangka itu, dia sudah menikahi 5 orang, sekarang nambah lagi. Paling parah dia ingin menukar Istri -Istrinya dengan menantunya, apakah pria seperti itu pantas dirindukan?!"
Catherine sangat kesal mengingat serakahnya Sinya terhadap seorang wanita, padahal sudah punya banyak istri, tapi masih berani menginginkan Istri anaknya sendiri.
Sintia mengerti kekesalan dalam hati Catherine karena dirinya juga merasakan hal sama saat Sinya ingin menukar semua Istrinya kecuali Catherine Wilson dengan Fira, sebagai seorang Istri dirinya merasa tidak dihargai.
"Mbak benar, kali ini Mas Sinya sungguh tidak menghargai perasaan kita sebagai seorang Istri... Tapi sudalah, Mbak. Sebenarnya kenapa Mbak telpon?"
Catherine ingat kembali alasan dirinya menelpon Sintia adalah karena ingin mengajaknya jalan-jalan, tapi malah membicarakan Sinya.
"Sintia, apakah hari ini kamu sibuk?" Sebenarnya Catherine tahu kalau Sintia itu tidak pernah sibuk, ia selalu di rumah atau menghabiskan uang untuk shopping.
Meski Sintia juga memiliki sebuah perusahaan kecil-kecilan tapi tidak pernah diurus sendiri karena sudah ada Nindi, apalagi sekarang Nindi memiliki calon Suami pebisnis sukses, Sintia semakin malas untuk mengurus perusahaan.
Catherine bertanya hanya untuk basa-basi bukan serius tidak tahu kebiasaan Sintia.
Sintia tersenyum senang menerima sinyal dari Catherine, ia sudah bisa menebak bahwa wanita itu ingin mengajaknya pergi shopping.
"Mbak dapat uang dari Ivan ya?"
Catherine tersenyum mengejek mendengar tebakan dari Sintia, wanita itu selalu saja mengira bahwa setiap kali diajak shopping artinya dirinya habis menerima uang lagi dari Maulana.
"Kamu ini, anakku itu selalu memberikan kita semua uang ratusan juta tiap bulan, masa aku harus meninta lagi?"
Sintia nyengir meski tidak terlihat oleh Catherine, apa yang dikatakan wanita itu benar, semenjak bisnis perkebunan Sinya bangkrut, Maulana yang menanggung nafkah para Istri Sinya bahkan Nadia pun tetap diberikan jatah tiap bulan.
"Ya iya, Mbak. Jadi Mbak ingin shopping?"
Catherine tersenyum kesal."Tentu saja, aku bosan. Tidak perlu keluar uang, Ivan memberiku kartu hitam miliknya. Eh sebenarnya itu milik Fira, tapi anak itu malah memberikan padaku. Aku tanya pada Ivan, tidak apa-apa katanya yang penting itu kartu untuk Istrinya, karena aku sudah diberikan sendiri."
Nindi merasa tidak setuju dengan cara Maulana bersikap pada Catherine, baginya tidak seharusnya kartu kredit hitam itu hanya dipinjamkan melainkan harus dikasih karena Catherine adalah Ibunya sedangkan Fira hanya orang lain meski telah dinikahi tetap orang lain.
"Mama, kenapa harus seperti itu?"
Catherine tidak mengerti maksud ucapan Nindi, ia merasa tidak mengatakan sesuatu yang salah.
"Apanya, Nak?" Dengan lembut Catherine menanyakan alasan pertanyaan gadis itu.
"Mama adalah Ibu kandung Kak Ivan, seharusnya kartu hitam itu milik Mama, bukan Mama dipinjami melainkan semua milik Kak Ivan adalah milik Mama." Nindi menjelaskan alasan pertanyaan yang dilontarkan.
"Astaghfirullah, Nindi. Kamu tidak boleh bicara seperti itu, meski Ivan selamanya akan menjadi milik Mama, tapi dia punya Istri. Mama sudah diberi kartu kredit sendiri, Mama juga tidak merasa kekurangan apapun. Fira adalah Istrinya, jangan kamu bilang bahwa Istri adalah orang lain, kamu juga akan menjadi seorang Istri. Kalau Suamimu menganggap mu orang lain bagaimana?"
Catherine heran dengan pikiran gadis itu, menurutnya itu cara pikir yang salah mengenai seorang Istri, karena baginya meski Istri adalah orang lain namun Istri adalah orang lain yang diambil dengan jalan berkah yaitu dengan pernikahan, sudah sepatutnya sebagai seorang Suami memperlakukan Istri dengan baik dan tidak menganggap Istri sebagai orang luar.
Sintia membenarkan ucapan Catherine, dirinya juga seorang Istri jika dianggap orang lain pasti sakit hati.
Perjuangan seorang Istri bukanlah sepele, meski Istri tidak pernah melahirkan seorang Suami, tapi demi memberikan gelar seorang Ayah, Istri rela berkorban mempertaruhkan nyawa.
"Itu benar, Nindi. Nanti di depan Kakak Iparmu, kamu jangan asal bicara."
Nindi kesal sendiri karena Sintia dan Catherine justru menegurnya bukan memihak pada dirinya.
"Sudah, ayo kalian berdua kesini. Kita shopping." Catherine kembali berbicara, tidak ingin melihat Ibu dan Anak itu bertengkar.
Sintia dan Nindi mengangguk, setelah itu Sintia mematikan sambungan telponnya dan bersiap kerumah Maulana yang lain.
SMA Dirgantara...
Setelah selesai istirahat, para murid menyiapkan acara pentas seni yang akan diadakan mulai senin depan, karena pada hari Sabtu mereka melakukan lomba gerak jalan tingkat kecamatan.
Kelas 3F
Rangga tertawa terpingkal-pingkal melihat Antonio terjungkal saat mau memeluk Fira, gadis itu menghindar saat adegan berpelukan hingga membuat Antonio terjungkal.
Maulana duduk di salah satu bangku siswa memperhatikan latihan derama murid -muridnya untuk acara pensi.
Andrian berjalan menghampiri Antonio lalu mendorong pelan pria itu lalu berdiri dengan gaya angkuh seakan mengatakan lihat baik-baik dirinya.
Dengan penuh percaya diri Andrian berlari sambil merentangkan kedua tangan ke arah Fira, ini adegan sepasang Suami Istri yang lama tidak bertemu dan melepas rindu.
Fira sangat kesal pada adegan ini, ia tidak suka dipeluk siapapun selain Suaminya meski itu hanya sebuah derama.
"Tunggu!"
Fira meminta Andrian untuk berhenti namun pria itu sudah terlanjur berlari dan susah berhenti hingga akhirnya menabrak Rangga dan memeluk Rangga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
RomanceDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
