Fira baru saja hendak melangkahkan kaki menuju ruang Guru, namun diurungkan ketika melihat Nadia tiba-tiba muncul dari balik pintu gerbang.
Istri ke 5 Sinya itu memakai gaun biru dengan rok selutut dan lengan pendek, berjalan dengan tenang menuju ruang Guru, ia tersenyum manis melihat Maulana duduk di salah satu kursi meja Guru sambil memakan kue brownies.
"Sayang." Nadia memanggil dengan nada manja, bibirnya tersenyum menggoda.
Rangga dan para Guru yang lain mengalihkan perhatian pada Nadia, menatap wanita itu bingung."Siapa dia?" Rangga berbisik pada Ian.
"Saya tidak tahu, Pak Rangga." Ian juga merasa bingung dengan Nadia."Dia lumayan cantik, tapi kenapa memakai baju seperti wanita pelacur?"
"Hus, Pak Ian!" Rangga menegur Ian meski masih menggunakan suara rendah.
Maulana mengalihkan perhatian pada Nadia, ia mendengus sebal melihat Istri Sinya di sekolah tempat dirinya mengajar dengan penampilan terbuka, dirinya merasa sangat dipermalukan.
Tanpa rasa malu, Nadia berjalan masuk ke dalam ruang Guru dan mendekati Maulana."Sayang, kenapa kamu terlihat tidak suka Mama datang kemari?"
"Mama?" Rangga dan para Guru yang lain hampir tidak percaya kalau seorang Ivan Maulana Rizky, seorang Guru Agama memiliki seorang Ibu yang memakai penampilan terbuka.
Maulana bangkit dari tempat duduknya lalu membereskan mejanya."Mama Nadia mau apa?" Ia bertanya dengan dingin.
"Kamu jangan dingin seperti itu pada Mama, nanti kamu jadi anak durhaka." Nadia tersenyum manis.
Maulana menatap Nadia tajam."Kamu bukan Ibu kandungku!" Ia keluar dari kursi meja Guru, berjalan menuju pintu.
Nadia memutar tubuh menatap Maulana kesal."Kamu harus menceraikan Istri mu, Van! Mama tidak setuju kamu bersama Fira!"
Maulana menghentikan langkah kakinya, ia mengepalkan tangan menahan amarah, Nadia selalu sibuk mengganggu hubungan dirinya dengan Fira, wanita itu selalu merasa Fira adalah pengganggu dalam hubungan mereka.
Maulana membalikkan tubuh menatap Nadia tajam."Aku tidak akan menceraikan Istri ku! Seorang Suami yang menceraikan Istrinya tanpa ada kesalahan apapun dari seorang Istri, sama saja dia berbuat dzalim! Dan kamu, Mama Nadia!"
Maulana menunjuk Nadia dengan jari telunjuknya, tatapan mata safir itu berkilat tajam penuh amarah."Jangan mengganggu hubungan ku dan Istriku! Jangan pernah menguji kesabaran ku."
Nadia mengepalkan tangan, takut tapi tidak boleh menyerah."Aku adalah Ibumu, Van! Sebagai seorang anak, kamu harus lebih memilih Ibumu daripada Istrimu!"
Rangga, Ian dan para Guru yang lain merasa tidak enak hati melihat pertengkaran di kantor Guru, tapi mereka tidak tahu harus bagaimana.
Indri dan Rehana seorang Guru perempuan merasa ucapan Nadia tidak masuk akal, bagaimana mungkin seorang Suami harus menceraikan seorang Istri demi seorang Ibu sedangkan si Istri tidak melakukan kesalahan yang melanggar norma hukum dan Agama, itu sangat tidak adil bagi seorang Istri.
"Apa maksud mu, Nadia?" Maulana bertanya dengan dingin, bibirnya tersenyum sinis, kakinya berjalan tenang mendekati Nadia.
"Seorang Ibu kandung pun tidak berhak memisahkan antara Suami dan Istri, Seorang Suami tidak dibenarkan menceraikan Seorang Istri jika Seorang Istri tidak melakukan kesalahan yang melanggar norma hukum dan Agama. " Maulana berhenti di depan Nadia.
"Allah tidak menyukai perceraian, kenapa aku harus menceraikan Istri ku? Kesalahan apa yang dia buat?"
"Dia ..." Nadia sangat takut untuk bicara, terlebih melihat tatapan Maulana seperti mau melenyapkan nyawa orang.
"Apakah Istri ku selingkuh? Apakah Istri ku meninggalkan sholat? Apakah Istri ku pernah tidak hormat pada mu? Justru kamu yang selalu menindasnya. Apakah Istri ku tidak mau melakukan kewajiban sebagai Seorang Istri?!" Maulana sangat kesal pada Nadia.
"Tapi dia menipumu, Van! Dia hanya ingin uangmu, Van! Dia tidak mencintai mu, dia hanya mencintai mantannya dulu! Kamu harus bercerai dengannya, Van. Ini demi kebaikan mu!" Nadia tetap ngotot ingin Maulana dan Fira bercerai.
Plak ...
Ini kedua kalinya Maulana menampar wajah Nadia."Kamu bukan Ibu kandungku! Kamu berani memfitnah Istri ku! Kamu datang kemari dengan penampilan terbuka seperti itu!"
Nadia memalingkan muka akibat tamparan keras Maulana, semua orang yang melihat terkejut melihat Maulana bersikap kasar pada seorang wanita.
"Aku beritahu padamu, Nadia. Jika sekali lagi aku mendengar mu bicara seperti itu, jangan salahkan aku jika aku bersikap lebih kasar padamu!" Maulana memutar tubuh meninggalkan Nadia, tidak peduli dengan pendapat orang tentang dirinya dan pemikiran Nadia mengenainya.
Maulan berhenti di depan ruang Guru, tatapannya terpaku melihat sang Istri, gadis itu tersenyum lalu berlari ke arahnya dan menerjang tubuhnya.
"Aku senang Mas tidak akan menceraikan ku?" Fira mengeratkan pelukannya pada sang Suami, hampir saja tadi dirinya menangis, khawatir kalau Maulana akan menceraikan dirinya.
Maulana membalas pelukan sang Istri."Sayang, kenapa Mas harus menceraikan kamu? Kamu tidak melakukan kesalahan, jadi tidak ada alasan Mas sebagai seorang Suami harus menjatuhkan talak pada mu."
"Tapi zaman sekarang kebanyakan seorang Suami rela menceraikan Istri demi Ibunya." Fira berkata dengan suara rendah.
"Sayang, jika demi kebahagiaan seorang Ibu, seorang Suami harus meninggalkan sang Istri atau menceraikan nya sedangkan Istri tidak melakukan kesalahan besar seperti selingkuh atau melanggar Agama, artinya dia adalah Suami dzalim dan anak durhaka." Maulana semakin mengeratkan pelukannya pada sang Istri.
Fira mengangkat kepala menatap paras tampan sang Suami."Kenapa seperti itu, Mas?"
"Sayang, Allah memang membolehkan bercerai antara Suami dan Istri, tapi tidak serta merta cerai tanpa ada alasan. Dan Allah pun benci perceraian, jadi jika seorang Ibu meminta anaknya bercerai dengan pasangannya tanpa ada alasan yang benar dan si anak tidak menjelaskan atau memberikan pengertian terhadap Ibunya, bukankah sama saja dia membiarkan si Ibu melakukan kedzaliman terhadap wanita lain?" Maulana menundukkan kepala menatap sang Istri.
"Jangan khawatir Mas akan menceraikan mu, kamu tidak akan jadi janda muda."
Naira memandang Fira iri, dirinya bahkan tidak pernah diizinkan menyentuh sedikit pun tubuh Wali Kelasnya itu.
Nadia keluar dari ruang Guru dengan perasaan kesal, ia merasa sangat dipermalukan oleh Maulana."Dasar Ivan, susah sekali dikasih tahu."
Di dalam ruang Guru, Indri dan Rehana memperhatikan punggung Nadia yang semakin menjauh."Dia itu Ibu tirinya Pak Ivan ya?" Rehana bicara dengan kesal.
"Sepertinya begitu, Bu." Rangga membereskan meja kerjanya.
"Kenapa dia ikut campur sekali urusan rumah tangga orang? Bisa-bisanya dia menuduh menantunya seperti itu, bagaimana jika dia sendiri disuruh cerai sama Suaminya?" Rehana mengalihkan perhatian pada meja kerjanya.
"Dia pasti suka sama Pak Ivan, jadi cemburu sama Fira." Indri menimpali.
"Kenapa kalian pada bergosip?" Yusuf keluar dari ruang kepala sekolah saat mendengar suara Maulana marah-marah, ternyata ada Nadia yang membuat keributan.
Indri, Rehana, Ian dan Rangga mengalihkan perhatian pada Yusuf."Pak, Bapak tahu siapa Mama Nadia tadi?" Rangga bertanya dengan penasaran.
"Nadia?" Yusuf menghela nafas, ia tidak tahu harus menjelaskan bagaimana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
RomansDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
