Episode 141

67 4 0
                                        

Lapangan masih sepi, hanya beberapa murid dari sekolah lain yang datang lebih awal, berdiri dalam kelompok kecil di kejauhan. Mesin motor Maulana masih menyala, dengungnya samar seperti latar tanpa makna, mendengarkan, tapi tidak berbicara. Antonio diam di sampingnya, sama seperti dirinya, membiarkan waktu berlalu tanpa perlu banyak bicara.

Di belakangnya, Fira belum turun. Pelukannya tetap di pinggangnya, hangat dan tak tergesa-gesa, seolah menikmati keberadaan mereka dalam kesunyian yang belum terganggu. Tapi ada sesuatu dalam diam itu ,gerakan kecil, isyarat yang tak langsung.

Maulana merasakannya. Tarikan di punggungnya, tidak kuat, tapi cukup untuk memberinya kesadaran bahwa Fira sedang bermain-main. Gadis itu menarik tubuhnya sedikit ke belakang, menciptakan jarak hanya untuk menghapusnya kembali. Berulang, seperti gelombang kecil yang menguji batas-batas keseimbangan tanpa pernah benar-benar berpindah dari tempatnya. Tubuhnya masih melekat di jok motor, tetapi pelukannya menguat, merapat, seolah memastikan bahwa meski ia bermain, ia tak akan membiarkan dirinya jatuh ke belakang.

Maulana tetap diam, membiarkan permainan itu berlangsung. Ia tidak menegur, tidak bertanya. Hanya merasakan ritme yang begitu kecil namun begitu nyata, bagaimana tubuhnya bereaksi pada setiap tarikan dan dorongan. Sesekali, ototnya menyesuaikan, mencari keseimbangan tanpa berpikir terlalu jauh. Ia tahu Fira tidak akan jatuh, tetapi tetap saja, genggaman itu memberi tuntutan tersirat.

Udara pagi terasa ringan, tanpa angin yang cukup untuk mengganggu. Tapi bagi Maulana, ada sesuatu yang bergerak bukan di udara, bukan di lapangan yang masih sunyi, tetapi di antara mereka.

Dan untuk saat ini, ia membiarkannya begitu saja.

Antonio mengalihkan perhatian pada Fira, melihat gadis itu bermain di atas motor membuat rasa cemburu dalam hati kian terasa."Ngapain si Fir, main-main gitu?"

"Aku bosan, di sini panas. Kalian hanya bicara sedikit lalu diam, setidaknya cari tempat sejuk." Fira menjawab tanpa menoleh pada Antonio, terakhir ia merapatkan tubuh pada sang Suami, lalu menempelkan pipinya pada punggung Suaminya.

Maulana mengedarkan pandangan matanya mencari tempat sejuk yang diinginkan oleh sang Istri."Di sana." Maulana menunjuk sebuah pohon besar dan lebat daunnya.

"Sambil menunggu yang lain datang, kita berteduh di sana dulu."

Antonio mengangguk."Tapi setidaknya kamu bisa bermain seperti itu denganku, tapi kamu di depanku." Antonio langsung melajukan motornya sebelum mendapatkan tatapan tajam dari Maulana.

Maulana kembali melajukan motor ke arah pohon besar dan daunnya lebat itu, setelah sampai disana, Maulana menarik tuas rem dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memutar grip gas sedikit sebelum melepasnya sepenuhnya. Motor melambat, lalu berhenti dengan satu hentakan lembut, kedua kakinya segera menjejak tanah untuk menjaga keseimbangan. Dengkuran mesin masih berputar sebentar sebelum akhirnya terdiam saat ia memutar kunci dan mencabutnya.

Ia tidak langsung berbicara, hanya diam, merasakan hembusan nafasnya sendiri yang perlahan menyesuaikan dengan kesunyian setelah mesin berhenti. Lengan Fira masih terasa di pinggangnya, belum dilepaskan, seolah menunggu sesuatu.

Maulana tetap duduk, tidak terburu-buru, memberi waktu untuknya. Ia bisa merasakan sedikit pergeseran di belakang , sentuhan ringan dari tubuh Fira yang mulai bergerak, bersiap turun, tapi tidak dengan tergesa-gesa. Ada ritme dalam kebiasaannya, sesuatu yang tidak dibuat-buat tetapi selalu ada.

Ia hanya menunggu. Diam. Sampai akhirnya ada kelegaan kecil saat genggaman di pinggangnya mengendur, memberi tanda bahwa Fira siap melepaskan diri dari punggungnya.

Maulana mematikan mesin motornya, ia menarik standard samping menggunakan kaki kirinya sebelum turun dari motor.

Pria itu duduk bersandar menyamping pada motor, matanya memperhatikan sang Istri yang berjongkok sambil mencorat-coret tanah menggunakan ranting kering berukuran pendek dan kecil yang ditemukan di sekitar tempat itu.

Antonio memandang Fira heran, gadis itu tidak seperti seorang gadis yang tinggal di kota besar,  melainkan seperti di desa kecil, ia lugu dan polos.

Fira jongkok di dekat Maulana, tubuh Maulana yang tinggi dan tegap serta pohon besar yang rindang membuat cahaya panas sinar matahari tidak terlalu menyusahkannya.

Hanya saja, bagi Antonio itu sangat memalukan, terlebih peserta lomba gerak jalan mulai berdatangan, ada beberapa dari mereka yang memperhatikan ke arah mereka.

"Fir, bangunlah. Ngapain kamu jongkok di situ? Seperti orang nggak guna saja, malu-maluin."

"Aku lagi neduh, Ant. Panas tahu, Mas Ivan kan tinggi. Mas juga punya postur tubuh tinggi tegap, jadi aku bisa sedikit terlindungi." Fira menjawab dengan kesal, bisa-bisanya Antonio menganggap dirinya memalukan.

"Kamu aneh, Fir. Yang sejak pagi sakit itu, Pak Ivan, bukan kamu. Yang sakitnya baru reda juga Pak Ivan, bukan kamu. Harusnya kamu cari payung buat Pak Ivan." Antonio memberikan penekanan pada setiap ucapannya, ia lupa bahwa Fira tidak pernah tahu tentang kondisi Maulana, dan Maulana juga tidak pernah memberitahunya.

Rahang Maulana mengencang disertai bibir sedikit mengerucut, ia menggelengkan kepala melihat Antonio membongkar Sesuatu yang ia sembunyikan dari sang Istri.

Fira diam sejenak, terkejut memikirkan ucapan Antonio, ia mengangkat kepala menatap sang Suami."Mas sejak pagi sakit?"

"Tidak, Sayang. Mas baik-baik saja, nyatanya tadi Mas bisa gendong kamu." Suara Maulana tetap lembut dan penuh kepastian, seakan apa yang dikatakan Antonio hanya kebohongan belaka, meski sebenarnya, dirinyalah yang sedang menipu diri sendiri.

Antonio menatap Maulana tanpa berkedip, matanya melebar sedikit, seolah mencoba memahami absurditas di depan dirinya. Sorot matanya bukan sekadar tajam, ia dipenuhi dengan keterkejutan yang nyaris menggelitik batas kemarahan, tetapi tertahan oleh ketidakpercayaan yang lebih besar. Ada sedikit ketegangan di otot-otot wajahnya, di sudut matanya yang tertarik, menunjukkan bahwa dia sedang menahan dorongan untuk mengucapkan sesuatu, atau mungkin, tidak tahu apa yang bisa dikatakan dalam situasi semacam ini.

Sekejap, tatapan itu berubah. Dari tajam menjadi lebih samar, lebih dingin. Seperti orang yang tiba-tiba menyadari bahwa kata-kata tidak akan mengubah apa pun. Sorot matanya kehilangan kilatan emosi yang awalnya membara, berganti dengan ekspresi kosong yang lebih berbahaya bukan karena kehilangan rasa, tetapi karena dia mulai meragukan segalanya. Dan di dalam keheningan yang tercipta, hanya napasnya yang terdengar, pelan, hampir tak terdengar, membaur dengan ketegangan yang menggantung di udara.

Ekspresi Maulana tetap tenang seperti air mengalir, tanpa sedikit pun gelombang atau ketidak pastian dalam tatapan mata safir itu.

Ia bahkan tidak sedikit pun menoleh pada Antonio, tatapan mata tajam namun teduh itu masih mengunci mata kecoklatan sang Istri, seakan ingin meyakinkan bahwa apa yang dikatakan itu semua benar.

Maulana masih bernafas dengan teratur, tanpa ada guncangan, hanya lebih lambat dari biasanya.

Mata safir itu tidak sedikitpun berkedip, tidak pula mengalihkan pandangan pada yang lain, seakan membiarkan Antonio dalam ketidak percayaan serta mungkin ada rasa kekecewaan terhadap dirinya.

Ketenangan, ketegasan serta keteduhan dalam pancaran mata safir itu seakan menarik diri seseorang untuk lebih percaya padanya dari pada percaya pada ucapan Antonio.

Episode selanjutnya sudah saya up di Suami Terbaik seri ke dua

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 02, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Suami Terbaik 2 Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang