Nadia berdiri dengan tatapan kesal, cemburu, dan marah, matanya terpaku pada mobil sedan hitam milik Maulana yang baru saja keluar dari pagar. Wajahnya terlihat tegang, alisnya berkerut, dan bibirnya terkatup rapat. Ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang terganggu oleh perhatian Maulana terhadap Fira. Nadia merasa seperti ada yang tidak beres, dan kecemburuan itu semakin membara di dalam hatinya. Ia memandang mobil yang semakin menjauh dengan rasa kesal yang semakin meningkat.
"Aku pasti akan membuat kalian berpisah." Tangannya mengepal menahan kekesalan.
Nadia memutar tubuh lalu berjalan masuk ke dalam rumah, tidak sengaja melihat Catherine berjalan ke arah dapur, ia tersenyum licik kemudian berjalan mengejar Catherine.
Catherine mengulurkan tangan membuka kulkas, setelah pertengkaran dengan Sinya, ia perlu menenangkan diri.
"Mbak."
Nadia berdiri di samping Catherine, Istri pertama Sinya itu hanya menoleh sekilas kemudian berjalan ke salah satu kursi meja makan lalu duduk di salah satu kursi.
Nadia mengikuti Catherine, duduk di depan wanita itu."Mbak, apakah Mbak bertengkar dengan Mas Sinya?"
Catherine menghela nafas."Aku tidak ingin malam ini bersamanya."
"Mbak tenang saja, biar aku yang akan menemani Mas Sinya." Nadia menggerakkan tangan menyentuh pelan tangan Catherine.
Catherine mengerutkan kening, ia yakin pasti Nadia sedang merencanakan sesuatu yang tidak benar.
"Apakah kamu cemburu pada Ivan dan Fira lagi?"
Nadia menarik tangannya kembali, ia menghela nafas."Mbak harus membantu ku, Fira itu tidak bisa dibiarkan lagi, Mbak. Dia sudah membuat Ivan lupa pada kewajiban sebagai anak."
Catherine menaikkan sebelah alis."Kenapa kamu bicara begitu?"
Nadia kembali menghela nafas."Mbak, aku sebagai Mamanya sangat tidak suka dengan sikap Fira. Malam-malam Fira mengajak Ivan keluar, itu tidak pantas, Mbak."
"Apanya yang tidak pantas? Mereka Suami Istri, kalau Fira tidak mengajak Ivan, apakah harus mengajak Suami tetangga?" Catherine bangkit dari tempat duduknya, ia sudah kesal dengan Sinya sekarang dibuat kesal dengan setiap aduan Nadia tentang keromantisan antara Maulana dan Fira.
Catherine menatap Nadia dingin."Nadia, kamu tidak perlu ikut campur dalam urusan rumah tangga Ivan dan Fira. Ivan bukan anak kecil lagi, Ivan tahu apa yang baik dan tidak baik untuknya."
Nadia sangat kesal, lagi-lagi Catherine tidak bisa diprovokasi, namun ia tidak akan menyerah begitu saja.
"Tapi Mbak, Fira bilang bahwa Ivan hanya boleh perduli padanya dan tidak boleh peduli pada wanita lain."
"Lalu kenapa? Fira itu Istrinya, lagipula untuk apa Ivan harus peduli pada wanita lain?" Catherine semakin merasa heran.
"Wanita lain itu adalah Mbak Catherine, Fira melarang Ivan untuk peduli pada Mbak." Nadia bicara dengan sungguh-sungguh.
Catherine menggelengkan kepala melihat Nadia berusaha keras untuk menjelekkan menantunya."Fira bukan wanita seperti itu? Aku lebih percaya pada menantuku dari pada ucapan mu."
Catherine memutar tubuh meninggalkan Nadia di meja makan, entah kenapa Nadia selalu berusaha membuat dirinya benci pada Fira sedangkan dirinya sendiri yang menikahkan Maulana dengan gadis itu.
Nadia sangat kesal karena Catherine sangat susah diprovokasi dan diadu domba dengan Fira, kalau saja mereka bisa diadu domba, maka sangat mudah membuat Fira dan Maulana berpisah.
"Aku tidak akan menyerah, aku pasti bisa membuat Ivan dan Fira bercerai." Nadia bicara dengan nada kesal.
***
Mobil hitam mewah melaju dengan anggun di jalan raya yang sepi pada malam hari. Lampu depan mobil menerangi jalan, menciptakan sorotan cahaya yang memantulkan ke aspal basah. Suara mesin mobil yang halus dan stabil terdengar saat mobil melaju dengan kecepatan yang stabil. Udara dingin malam menyelimuti sekitar, membuat kabut tipis terlihat di sekitar lampu mobil. Mobil mewah ini memberikan kesan elegan dan kuat, meluncur dengan mulus di jalan yang gelap.
Fira menoleh ke arah Ivan Maulana Rizky, suaminya, dengan senyum manis di wajahnya. "Mas, berhenti sebentar yuk, aku lihat ada warung makan di sebelah kiri," katanya sambil menunjuk ke arah warung makan yang terlihat sederhana namun menarik di pinggir jalan.
Maulana memperlambatkan laju mobil dan melihat ke arah warung makan yang dimaksud Fira. Setelah memastikan bahwa tempat itu terlihat cukup aman dan menarik, Ivan Maulana Rizky memutuskan untuk berhenti. "Baiklah, Mas juga lapar," katanya sambil tersenyum dan mengarahkan mobil ke sisi jalan. Mobil berhenti tepat di depan warung makan, dan Fira langsung membuka pintu mobil dengan antusias.
"Aku turun dulu ya, sepertinya tempat ini menarik," katanya sambil melangkah keluar dari mobil. Ivan Maulana Rizky mengikuti di belakangnya, dan bersama-sama mereka memasuki warung makan yang sederhana namun hangat.
Suasana di dalam warung makan terasa nyaman, dengan aroma makanan yang lezat dan suara percakapan pelanggan yang santai. Fira dan Ivan Maulana Rizky memilih tempat duduk di pojok warung, siap untuk menikmati makan malam yang lezat.
Di atas meja terdapat buku menu makanan, Fira mengambil buku menu tersebut, lalu membaca daftar menu yang terdapat dalam buku menu itu.
"Mas mau makan apa?" tanya Fira kepada Maulana.
"Bagaimana kalau kita pesan lalapan dengan sate ayam? Atau mungkin bakso juga?" jawab Maulana.
Fira tersenyum dan mengangguk. "Bagus banget! Aku juga ingin mie ayam dan seblak."
Mereka memesan beberapa menu dan menunggu dengan sabar sambil menikmati suasana warung makan yang sederhana namun hangat.
Setelah beberapa menit, menu mereka tiba. Fira dan Ivan langsung menikmati makanan yang lezat itu. Lalapan dengan sambal yang pedas, sate ayam yang gurih, bakso yang lezat, mie ayam yang nikmat, dan seblak yang pedas membuat mereka merasa puas.
"Rasanya enak banget!" kata Fira dengan senyum.
"Iya, Mas juga merasa begitu," jawab Maulana sambil menikmati makanan.
Mereka berdua menikmati makan malam yang lezat di warung makan sederhana itu.
Di bawah gemerlap lampu warung yang temaram, Maulana meletakkan sendoknya perlahan, meski makanannya masih tersisa. Wajahnya mengabur di antara bayangan redup, semakin pucat dari sebelumnya. Setetes keringat jatuh dari pelipisnya, mengukir jalur kecil di kulitnya yang dingin.
Fira mengangkat wajah, keningnya berkerut. “Mas?”
Pria itu hanya mengangkat kelopak mata, menatapnya dengan kelembutan yang dipaksakan. Sudut bibirnya bergerak, mencoba menghadirkan senyuman yang gagal menyembunyikan rasa sakit.
Fira meraih tangan Maulana yang terkepal di atas meja. Jemarinya yang hangat menyentuh kulitnya yang terasa lebih dingin dari biasanya. “Mas, kenapa? Mas sakit?”
Maulana menggeleng pelan. “Tidak apa-apa. Mas baik-baik saja. Kamu lanjutkan makan.” Suaranya melemah, nyaris ditelan riuh rendah suara pelanggan lain.
Fira tidak percaya. Ada sesuatu yang tidak beres. “Mas yakin?”
Maulana mengangguk sekali lagi, menggerakkan tangan dengan perlahan, seolah beban berat menghambat gerakannya. Ia merogoh saku, menarik keluar sapu tangan, lalu menutup mulutnya ketika rasa mual tiba-tiba menghantam perutnya.
Tak ingin membuat istrinya semakin khawatir, ia menyingkir dengan segera. “Mas keluar sebentar.”
Tanpa menunggu jawaban Fira, Maulana berdiri, berjalan dengan langkah yang tidak sepenuhnya stabil menuju mobil yang terparkir di bawah cahaya jalan yang remang. Begitu masuk, ia menutup pintu dan menarik napas panjang, mencoba menenangkan gejolak dalam tubuhnya.
Tangan gemetarnya menjauhkan sapu tangan dari bibir, dan seketika dunia seolah terhenti.
Noda merah pekat tertinggal di serat kain itu.
Ia terpaku. Napasnya terasa lebih berat dari sebelumnya.
Apa yang terjadi pada tubuhnya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
RomanceDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
