Jantung berdebar kencang, nafas terasa sesak bahkan tenggorokan terasa kering. Ponsel di tangannya tidka pernah sedetikpun diletakkan meski hanya di sebelahnya, berkali-kali Fira menghela nafas panjang.
Catherine memperhatikan Fira diam-diam, ia juga sama dengan gadis itu, khawatir dan ingin segera tahu bagaimana kondisi Maulana sekarang.
Fira menoleh ke luar jendela mobil, memperhatikan kondisi jalan raya yang ramai dengan lalu lalang kendaraan bermotor dan mobil, baru beberapa menit, ia sudah sangat ingin bertemu dengan sang Suami dan melihat pria itu dalam keadaan baik-baik saja.
Catherine membiarkan Nindi mengemudikan mobil, setidaknya gadus itu lebih tenang dari para dirinya.
Catherine mengangkat tangan meraih tangan Fira, Fira mengalihkan perhatian pada telapak tangannya merasakan tangan dingin Catherine, kelopak matanya terangkat ke paras cantik Catherine.
"Apakah kamu mencintai Ivan?" tanya Catherine dengan suara berat.
Fira mengangguk sambil menjawab,"Iya, Ibu. Kenapa Ibu bertanya seperti itu?"
Fira penasaran dengan alasan mertuanya tersebut, tidak pernah selama dirinya menjadi seorang menantu diberikan pertanyaan seperti itu, wanita itu hanya bersikap lembut dan memperlakukan dirinya dengan baik.
Catherine menari nafas dalam lalu mengeluarkan perlahan."Ibu ingin mengatakan padamu tentang siapa Suami mu di masa lalu, sebelum bertemu dengan mu dan sebelum dia menjadi seorang Muslim juga sebelum dia tinggal di Indonesia."
Fira mengangguk tanpa sedikitpun keraguan, baginya masalalu setiap manusia tidak perlu dirisaukan, dirinya juga punya masalalu, jadi kenapa ia harus takut dan tidak bisa menerima masalalu Suaminya.
Nindi dan Sintia melirik Fira, berharap gadis itu bersedia menerima Maulana meski sudah tahu siapa pria itu yang sebenarnya.
"Kamu yakin tidak akan minta cerai?" Catherine tidak ingin rumah tangga anaknya hancur hanya karena masalalunya, sebagai seorang Ibu dirinya bisa melihat bahwa Maulana sangat mencintai dan memanjakan Fira.
"Apakah Mas Ivan pernah mencuri Istri orang? Dan sekarang Suaminya tidak terima lalu datang melabrak Mas Ivan?" Fira menebak masalalu sang Suami, dalam hati akan tetap menerima jika itu hanya masalalu meski berat.
Catherine tersenyum kecil lalu menjawab,"Tidak, Ivan hanya mencintai mu. Kamu satu-satunya wanita yang dicintai, Ivan tidak pernah jatuh cinta pada wanita lain selain kamu."
Fira menghela nafas legas, ia pun membalas senyuman Catherine dengan senyum manis, namun ekspresi wajah wanita itu masih belum berubah tetap khawatir seakan masalalu Maulana tidak akan bisa diterimanya.
"Kak Ivan itu mantan Mafia kejam." Nindi berkata sambil mengemudikan mobil, rasanya tidak sabar melihat reaksi Fira mengetahui masalalu Suaminya.
Fira terkejut dan tidak bisa percaya, ia memikirkan kekejaman apa yang dilakukan Suaminya, selama menjadi Istri, dirinya tidak pernah melihat sisi kejam itu.
"Ivan pernah tinggal di Jerman, disana dia menjadi seorang Mafia demi bisa menafkahi ku. Sinya menikah lagi dan kami tidak dinafkahi, perusahaan Sintia bangkrut hingga Ivan pergi ke Jerman." Catherine menjelaskan, pandangan mata wanita itu nampak sendu, ada penyesalan dan ketakutan yang sangat dalam terlihat di raut wajah cantik itu.
Fira tidak mengerti maksud ucapan Catherine, di Indonesia ini banyak TKW dan TKI, tapi tidak menjadi seorang Mafia juga di negara orang, bukankah itu sama saja mempermalukan negara sendiri?
"Kami tidak punya uang hanya untuk daftar ke pusat TKI, Ivan menjadi TKI ilegal. Dia bertemu dengan Carlos Santana dan ditawari pekerjaan, namun entah bagaimana ceritanya Ivan berubah menjadi Mafia kejam karena ternyata Carlos Santana adalah seorang ketua Mafia."
Catherine meremas pelan tangan Fira, ia merasa lega setelah menceritakan ini namun khawatir kalau Fira tidak akan bisa menerima kenyataan bahwa Suaminya mantan Mafia.
Ketakutan dan kekhawatiran Catherin perlahan menghilang melihat senyum terhias di wajah gadis itu, Catherine membalas senyum itu dengan senyum lega.
"Ibu, itu masalalu. Sekarang Mas Ivan bukan Mafia, lagipula kita tidak tahu kenapa Mas Ivan menjadi Mafia. Lebih baik bersama mantan penjahat dari pada mantan Ustadz," kata Fira dengan riang.
Nindi dan Sintia ikut tersenyum lega, kebencian di hati Nindi pun perlahan menghilang, ia yakin kalau Fira tidak akan pernah berkhianat pada Maulana.
***
Susana hening sejenak di dalam rumah Maulana, pria itu mempersilahkan Carlos Santana dan anak buahnya duduk di sofa ruang tamu, ia juga meminta pelayan untuk memberikan makanan ringan serta minuman untuk menjamu mereka setelah itu meminta para pelayan itu untuk menyingkir.
Carlos Santana menaikkan sebelah alisnya melihat Maulana menjamu dirinya selayaknya seorang tamu, ia menarik sudut bibirnya hingga membentuk seringai tipis, dia bahkan mengira kalau Catherine telah menceritakan hubungan mereka.
Carlos Santana mengulurkan tangan meraih gelas berisi sirup di atas meja, ia menyandarkan tubuh di sofa dan mengangkat gelas itu di depan wajahnya.
Carlos Santana menggoyang -goyangkan gelas itu di depan wajahnya dengan seringai merendahkan.
"Jhon, kamu yakin memberikan Ayahmu minuman seperti ini?"
Kening Maulana berkerut mendengar Carlos Santana menyebut kata Ayah untuk dirinya, tidak pernah ada hubungan antara anak dan Ayah antara dirinya dan Carlos Santana.
Pandangan mata Carlos Santana fokus pada sirup warna merah dalam gelas, sesekali melirik Maulana.
"Ayah? Hmmp." Maulana menyeringai dingin, ia meraih gelas berisi minuman jus di atas meja lalu meneguknya sedikit kemudian menaruh kembali gelas itu.
"Jangan pernah bermimpi menjadi Ayahku!" Suara Maulana memberat dengan kelopak mata terangkat secara perlahan menatap dingin Carlos Santana.
Carlos Santana meletakkan gelas di atas meja dengan kasar, ia langsung bangkit dari tempat duduknya dan menatap bengis Maulana yang masih duduk di sofa di depannya.
Maulana ikut bangkit dari tempat duduknya menatap Carlos Santana tanpa rasa takut, Fransis dan anak buahnya serta anak buah Carlos Santana menyembunyikan tangan di balik jas, siap mengambil senjata api bila dibutuhkan.
Carlos Santana menghela nafas panjang, kemudian kembali duduk, ia pikir Catherine sudah menjelaskan tentang siapa sebenarnya dirinya dan apa hubungannya dengan Maulana namun rupanya wanita itu masih bungkam.
"Jhon, aku pikir Catherine sudah menjelaskan padamu." Carlos Santana menyandarkan punggungnya pada sofa, netra biru itu masih menatap Maulana.
Dahi Maulana berkerut setiap kali Carlos Santana mengisyaratkan sesuatu, tadi pria itu memperkenalkan sebagai Ayahnya sekarang mengenai penjelasan Catherine, Maulana semakin tidak mengerti maksud ucapan Carlos Santana.
Maulana kembali mendudukkan diri di sofa, memandang Carlos Santana serius.
"Katakan! Sebenarnya apa yang kalian sembunyikan dariku?!" Maulana bertanya dengan nada menuntut, ia penasaran dengan identitas Carlos Santana dan hubungan dengan dirinya.
Maulana mengamati muka Carlos Santana, mata pria itu berwarna safir mirip dengannya, juga hidup mancung hanya saja warna kulit Carlos Santana merah seperti pantan babi sedangkan dirinya putih bersih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
RomanceDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
