Episode 110(120)

27 2 0
                                        

Maulana menuliskan nama-nama regu gerak jalan di papan tulis menggunakan spidol, setelah itu memutar tubuh memperhatikan para murid di dalam kelas.

Ada yang masih mengerjakan soal, ada yang sudah selesai, ada pula yang sibuk menjahili temannya.

"Regu gerak jalan tingkat Kecamatan untuk SMA di kelas ini dibagi menjadi dua, yaitu regu putra dan putri. Besok kalian ingin memakai seragam seperti apa?" Tatapan Maulana menajam saat melihat Zayda melemparkan gulungan kertas pada Andrian.

"Zayda!"

Zayda terkejut, ia langsung memutar tubuh dan duduk dengan rapi di bangkunya, bibirnya membentuk senyuman saat melihat tatapan tajam Maulana.

"Maju ke depan." Maulana menyembunyikan tangan di belakang punggung.

Dengan berat hati dan jantung berdebar Zayda bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan maju ke depan, berdiri di depan Maulana dengan kepala tertunduk.

Maulana memperhatikan Zayda dari ujung kepala sampai kaki."Kenapa kamu memakai baju kurang bahan?"

Zayda terkejut dan langsung memperhatikan bajunya, menurutnya tidak ada yang salah dan tidak kurang bahan juga, sementara murid yang lain juga memperhatikan penampilan Zayda.

"Kurang bahan bagaimana, Pak?"

"Memakai rok di bawah lutut, memperlihatkan bentuk kakimu. Kamu juga tidak memakai kaos kaki, kerudung mu juga kamu lilitkan di leher, kalau bukan kurang bahan lalu apa?!" Maulana bertanya dengan nada dingin.

Murid kelas 3F lainnya tersenyum meremehkan, meski kelas 3F adalah kelas khusus namun dalam berpakaian tetap harus rapi tidak boleh menunjukkan aurat bagi seorang wanita, atau memakai baju terlalu ketat.

Maulana menggerakkan tangan menunjuk lekuk tubuh Zayda dengan spidol di tangannya."Baju terlalu ketat seperti ini, mempertontonkan bentuk tubuh, apa bedanya dengan tidak memakai baju?!"

Tidak ada yang berani bicara saat Maulana marah, kelembutan pria itu seakan lenyap berganti dengan bentakan pada setiap nada bicaranya.

Zayda terdiam dengan kepala tertunduk, takut bahkan hampir menangis.

"Selain itu, kamu berani mengabaikan saya saat saya sedang menjelaskan sesuatu! Saya tahu kamu dan Andrian pacaran, tapi bukan berarti di dalam kelas kamu bisa tidak memperhatikan saat saya menerangkan sesuatu di dalam kelas, apa kamu paham?!" Maulana mendelik galak membuat Zayda semakin ketakutan.

Pandangan mata Maulana beralih pada seluruh murid dalam kelas."Sekali lagi saya dengar dan saya lihat ada yang berani bermain sendiri, membuat keributan atau tidak mendengarkan saat ada Guru menjelaskan di dalam kelas, saya akan menghukumnya dengan berlari memutari lapangan 10 kali. Jika masih belum jera, saya akan tambahi dengan pus up 100 kali. Mengeti?!"

"Mengerti, Pak." Serempak seluruh murid menjawab, inilah alasan mereka tidak ada yang berani membuat kegaduhan dalam kelas jika Maulana berada di sekolah.

Fira ketakutan sendiri melihat Maulana marah-marah, tidak berani membayangkan jika dirinya membuat kesalahan.

Setetes air mata Zayda jatuh tanpa bisa dicegah, ia segera menghapusnya sebelum Maulana melihat, namun pria itu telah melihat.

Maulana kembali mengalihkan perhatian pada Zayda, melembutkan pandangan matanya serta nada bicaranya."Zayda, Bapak hanya tidak ingin kamu menjadi seorang gadis yang mengumbar aurat. Jika di luar sekolah, itu terserah padamu. Tapi di sekolah, kamu dan anak-anak lainnya adalah tanggungjawab Bapak."

Maulana mengangkat tangan menepuk pundak Zayda."Sudah, jangan menangis lagi. Kamu bisa kembali ke tempat duduk."

Zayda mengangguk, ia pun membalikkan tubuh dan berjalan menuju tempat duduknya.

Suami Terbaik 2 Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang