Fira mengambil kotak makanan, setelah itu kembali melangkahkan kaki menuju ruang kerja sang Suami.
Terlihat pria itu sedang mengevaluasi hasil ulangan harian, entah kenapa ia merasa deg-degan, khawatir kalau hasil ulangannya buruk.
Gadis itu berjalan menghampiri sang Suami lalu menaruh kotak makanan itu di atas meja Suaminya.
"Mas, nilai ulangan ku bagus tidak?"
"Belum Mas lihat, Sayang. Nanti dulu, ni masih melihat hasil ulangan Matematika kelas 2A," jawab Maulana tanpa menoleh pada sang Istri.
Fira menghela nafas, ia pikir tadi pria itu mengoreksi hasil ulangan harian Bahasa Indonesia kelas 3F.
"Mas, makanlah dulu. Aku belum melihat isinya."
Maulana menaruh terlebih dulu pekerjaannya lalu menarik kotak nasi tersebut dan mendekatkan pada diri, ia membuka bekal tersebut.
"Sayang, apa kamu sudah makan?"
"Sudah, tadi aku sudah makan. Mas jangan telat makan," kata Fira sambil menarik salah satu kursi lalu menaruhnya di depan meja sang Suami, ia duduk di atas kursi tersebut.
"Mas, kenapa Mas sangat tampan?"
Maulana tersenyum sendiri, ia menyendok makanan lalu memasukkan ke dalam mulut.
Antonio semakin dongkol dengan sikap Fira, gadis itu terang-terangan memuji rivalnya.
"Fir, ke sini dong. Bantu aku menulis."
Fira menoleh sejenak ke arah Antonio kemudian kembali memperhatikan sang Suami.
Antonio semakin kesal karena tidak dihiraukan."Fira! Aku sedang bicara denganmu! Kau sama sekali tidak peduli!"
Pria itu berdiri dari tempat duduknya, menunjuk Fira dengan jari telunjuk.
Maulana mengambil pena lalu melemparkan pada Antonio, pena itu tepat mengenai jari telunjuk Antonio.
"Aduh!"
Antonio mengadu kesakitan, ia menarik jarinya lalu meniupnya, tatapan mata memicing sinis pada Maulana.
Dengan perasaan kesal Antonio kembali duduk, bibir terus komat kamit tidak jelas.
Tak lama kemudian Indri datang, tanpa salam ia langsung masuk dan menghampiri pria itu.
"Pak Ivan."
Maulana mengalihkan perhatian pada wanita itu."Bu Indri, apa Ibu ada perlu? Atau ingin membahas masalah Kevin?"
"Oh bukan, Pak. Ada yang ingin saya bicarakan dengan Bapak," jelas Indri.
Maulana mengangguk."Silahkan, Bu."
Indri mengalihkan perhatian pada Fira, ia merasa tidak nyaman kalau bicara dengan Maulana ada gadis itu ikut serta.
Fira pura-pura tidak peduli, ia tahu bahwa wanita itu ingin dirinya pergi, tapi tidak akan dilakukan.
"Begini, Pak."
Indri semakin mendekat pada Maulana, begitu ada kesempatan ia pura-pura tersandung dan jatuh dalam pelukan pria tersebut.
Indri tersenyum puas, menikmati berada di pelukan pria tercintanya.
Maulana merasa sangat tidak nyaman dengan posisi itu, sedangkan Fira sangat marah.
Ia bangkit dari tempat duduknya lalu mendekati Indri dan menariknya menjauh dari sang Suami.
Maulana bangun dari tempat duduk dan sedikit menjauh, baginya itu hal memalukan meski tidak sengaja.
"Bu Indri murahan banget si! Jangan Bu Indri kira saya tidak tahu kalau Bu Indri hanya pura-pura jatuh agar dipeluk Mas Ivan!"
Fira mendelik tajam, darah seakan naik ke ubun-ubun.
Antonio dan ke empat temannya menggelengkan kepala melihat sikap Indri.
"Ternyata murid dan gurunya sama-sama tidak tahu malu," celetuk Antonio.
"Fira! Kamu kalau bicara dijaga ya! Tadi aku benar terjatuh! Lagi pula aku dan Pak Ivan itu saling cinta!" Indri kembali mengarang cerita untuk membuat gadis itu semakin murka.
Fira mengalihkan perhatian pada sang Suami."Apakah Mas cinta Bu Indri?"
Maulana berjalan mendekati sang Istri lalu memeluknya dari belakang."Mas hanya sayang kamu, anggap saja hari ini terakhir Mas di sekolah. Mas akan berhenti jadi Guru."
Indri dan Antonio serta Fira terkejut, Fira melepaskan pelukan Suaminya lalu menatap pria itu dengan terkejut.
"Mas, kenapa Mas seperti itu?"
"Karena Mas tidak ingin melihat mu marah dan tidak sopan pada Gurumu, Mas juga tidak ingin kamu sedih karena sikap Bu Indri yang tidak punya rasa sopan." Maulana mengangkat tangan membelai lembut wajah cantik Istrinya.
"Sayang, Mas adalah seorang Suami, Mas memiliki kewajiban menjaga dan melindungi mu, baik jiwa dan ragamu."
Fira terharu mendengar ucapan sang Suami, tanpa terasa air mata mengalir."Mas, kenapa Mas sangat baik. Padahal aku selalu galak pada Mas."
"Kamu bukan galak, kamu hanya masih remaja. Kamu belum tahu tugas dan kewajiban seorang Istri, Mas paham itu." Maulana mengusap air mata sang Istri.
Indri merasa malu sendiri, ia pikir Maulana percaya alasannya tapi ternyata tahu bahwa dirinya hanya pura-pura.
"Pak Ivan, saya sungguh tidak sengana."
Maulana menoleh pada Indri."Bu Indri, saya menghormati Anda sebagai rekan kerja. Tapi saya bukan orang bodoh yang tidak bisa membedakan mana tindakan yang disengaja atau tidak sengaja, tapi sudalah. Lagipula saya akan berhenti mengajar di sini."
"Pak, saya tidak setuju Bapak berhenti kerja!" Antonio menyela pembicaraan mereka.
"Saya juga, Pak. Sekarang Bapak sudah menikah, artinya Bapak harus ngasih nafkah pada Istri Bapak. Kalau Bapak berhenti kerja, Bapak mau ngasih Istri Bapak makan apa?" sahut Arvan yang masih tidak tahu indentitas asli Maulana.
Maulana mengalihkan perhatian pada Arvan dengan senyum simpul."Bapak bisa cari pekerjaan lain, yang penting Istri Bapak tidak merasa terganggu."
"Mas tidak perlu berhenti jadi Guru, Mas hanya perlu jaga diri," kata Fira penuh pengertian.
Maulana kembali mengalihkan perhatian pada sang Istri."Istri ku terbaik, Sayang, kamu harus yakin kalau Mas tidak akan berkhianat."
Fira mengangguk.
Tet...
Tet...
"Itu terdengar suara bel masuk, kamu masuk dulu. Setelah ini jam pelajaran siapa?" tanya Maulana.
"Mas, tapi karena masih ada Guru PPL, jadi Pak Ian yang ngajar," jelas Fira.
Maulana mengangguk." Baiklah, kamu masuk kelas dulu. Ingatlah untuk selalu menghargai dan menghormati Guru, kalau kamu ada masalah dengan Guru mu, kamu bisa cerita sama Mas."
Fira kembali mengangguk."Iya, Mas. Kalau begitu aku masuk kelas dulu."
Fira mengambil tangan sang Suami lalu mencium telapak tangan pria tersebut."Mas aku masuk dulu."
Maulana tersenyum."Iya, Sayang."
Gadis itu membalikkan tubuh meninggalkan sang Suami, sementara itu Antonio kembali menyalin ayat Al Qur'an sedangkan Indri masih enggan pergi dari ruan kerja Maulana.
Maulana menoleh pada Indri dengan tatapan penuh tanda tanya."Ada apa, Bu Indri? Kenapa masih di sini?"
Indri tersentak, entah kenapa sekarang ia merasa sungkan pada Maulana, pria itu menatapnya datar tidak ramah seperti biasanya.
"Pak Ivan, ada yang ingin saya katakan pada Bapak."
"Hm, silahkan." Maulana kembali duduk di kursinya.
"Pak Ivan, apakah Bapak tidak ingin memiliki Istri lebih dari satu?"tanya Indri memberanikan diri.
"Lebih baik Bu Indri mengatakan hal lain, kita hanya rekan kerja, tidak perlu membahas yang seperti itu." Maulana mengalihkan pandangan pada Indri, menatap wanita itu tidak suka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
RomantikDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
