Di dalam mobil, Sui memantau situasi melalui layar monitor laptopnya. Ia melihat Maulana yang sedang berusaha menyelamatkan Sean dan mengalahkan penjaga. Sui mengamati dengan seksama, siap memberikan informasi yang dibutuhkan oleh Maulana.
Fira, yang duduk di sebelah Sui, tidak bisa menonton adegan kekerasan di layar monitor. Ia lebih memilih untuk berdzikir, memohon keselamatan untuk suaminya, Maulana. "Ya Allah, lindungi suamiku, berikan dia kekuatan dan keselamatan," bisiknya.
Fransis, yang mengemudi mobil, menghentikan mobil di tempat yang aman, jauh dari pandangan musuh. Ia memastikan bahwa mobil tidak terlihat oleh penjaga atau musuh lainnya. "Sui, bagaimana situasi di lapangan?" tanya Fransis.
Sui memantau layar monitor, "Jhon berhasil mengalahkan beberapa penjaga, dia sekarang mendekati tempat Sean disekap," jawabnya.
Fira membuka mata."Alhamdulillah, semoga Mas Ivan berhasil menyelamatkan Kak Sean," katanya dengan harapan.
Fransis mengangguk."Kita harus siap untuk membantu Ivan jika dia membutuhkan kita," katanya.
Sui mengangguk setuju."Aku akan memantau situasi dan memberikan informasi yang dibutuhkan," jawabnya.
Maulana berhasil menemukan tempat Sean disekap dan membuka ikatan tali yang mengikat tubuhnya. Sean terlihat lelah dan lemah, tetapi dia tersenyum saat melihat Maulana. "Terima kasih, Adik Ipar," katanya dengan suara lemah.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari luar ruangan. Maulana langsung waspada, dia menarik pistolnya dan siap menghadapi apa pun yang datang.
Geits dan Grand, anak buah Carlos Santana, muncul di pintu ruangan bersama beberapa anak buahnya. Mereka membawa senjata api dan terlihat siap untuk menyerang. "Jhon, kamu tidak akan pernah keluar dari sini hidup-hidup," kata Geits dengan senyum sinis.
Maulana tidak terpengaruh oleh ancaman Geits. Ia memandangi mereka dengan dingin. "Kalian tidak akan pernah menang melawan ku," jawabnya dengan percaya diri.
Sean, yang masih lemah, mencoba berdiri dengan bantuan Maulana. "Kita harus keluar dari sini," katanya.
Maulana mengangguk. "Tunggu, aku akan mengurus mereka," katanya sambil menatap Geits dan Grand.
Geits dan Grand tertawa. "Kamu tidak akan pernah bisa mengalahkan kami semua," kata Grand.
Maulana tersenyum. "Kita lihat saja," katanya sambil menyiapkan diri untuk menghadapi mereka.
Pertarungan semakin sengit, Maulana bertarung dengan anak buah Geits dan Grand. Mereka saling adu tembak, suara tembakan bergema di ruangan. Maulana menggunakan kemampuan bertarungnya untuk menghindari tembakan dan membalas dengan tembakan yang tepat.
Geits dan Grand terlihat berpengalaman dalam bertarung, mereka bekerja sama dengan baik untuk menghadapi Maulana. Namun, Maulana tidak terkalahkan, ia menggunakan strategi dan kemampuan bertarungnya untuk menghadapi mereka.
Sean, yang masih lemah, berusaha untuk tidak mengganggu Maulana. Ia bersembunyi di balik tembok, menunggu kesempatan untuk melarikan diri.
Maulana terus bertarung dengan gigih, ia berhasil mengalahkan beberapa anak buah Geits dan Grand. Namun, Geits dan Grand masih bertahan, mereka terus menyerang Maulana dengan sengit.
Pertarungan semakin sengit, Maulana mulai merasa bahwa dia perlu menggunakan strategi lain untuk mengalahkan Geits dan Grand. Dia memikirkan rencana untuk mengalihkan perhatian mereka dan mendapatkan keuntungan.
Maulana berhasil melumpuhkan Grand dan Geits beserta anak buah mereka. Dia kemudian membawa Sean keluar dari tempat penyekapan, Sean terlihat lelah tetapi selamat.
Di luar, mobil yang dinaiki Tree dan Leaf, anak buah Fransis yang lain, sudah menunggu. Mereka siap untuk membantu Maulana dan Sean melarikan diri.
Setelah Maulana dan Sean naik ke mobil, Tree dan Leaf segera mengemudi mobil menjauh dari tempat penyekapan. Sementara itu, anak buah Fransis yang lain membakar tempat penyekapan hingga tidak ada jejak yang tersisa.
Kebakaran hutan yang sengaja dibuat membuat sulit untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di tempat penyekapan. Api menyebar dengan cepat, menghancurkan bangunan dan menghilangkan bukti-bukti yang mungkin dapat digunakan untuk mengetahui identitas pelaku.
Maulana, Sean, dan Tree serta Leaf melarikan diri dengan aman, sementara anak buah Fransis yang lain memastikan bahwa tidak ada yang dapat menghubungkan mereka dengan kejadian di tempat penyekapan.
Fransis dan Fira, yang menunggu di tempat yang aman, menerima kabar bahwa misi penyelamatan berhasil. Fira merasa lega karena suaminya, Maulana, selamat dan kembali dengan selamat. "Alhamdulillah, terima kasih ya Allah," katanya dengan senyum.
Fransis mengangguk. "Kita harus memastikan bahwa Sean mendapatkan perawatan yang tepat," katanya. "Kita tidak bisa membiarkan dia dalam kondisi seperti ini."
Maulana mengangguk setuju. "Aku akan memastikan bahwa Sean mendapatkan perawatan yang terbaik." katanya.
"Sekarang kita pergi dari tempat ini." Maulana kembali tukar posisi menjadi duduk di tempat kemudi dan Fransis pindah ke mobil yang dibawa Leaf dan Tree bersama Sean untuk memberikan pertolongan pertama pada Sean.
Maulana melepaskan masker di wajahnya, kemudian menyisir rambut dengan jari sejenak sebelum kemudian memasukkan gigi dan melajukan mobil meninggalkan tempat tersebut.
Di jok belakang, Fira masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat di layar monitor laptop di tangan Sui, semua nyata bukan adegan dalam sinetron atau drama action di tv.
Fira mengalihkan perhatian pada punggung sang Suami, punggung tegap itu adalah seorang yang mampu menembak orang lain tanpa kedip, ia tidak tahu apakah mereka tadi selamat atau tidak, apalagi tempat itu sudah dibakar.
"Dalam peperangan, kalau kita tidak membunuh, makan kita akan dibunuh." Maulana membuka suara menyadari ketegangan sang Istri.
"Apakah orang-orang tadi itu selamat?" Fira bertanya dengan suara gemetar.
Maulana tersenyum sinis."Jika mereka hebat, pasti bisa kabur. Karena Mas tidak membunuh mereka, hanya membuat mereka pingsan."
"Bagaimana jika mereka lapor polisi?" Fira kembali bertanya dengan khawatir.
"Lapor polisi? Jika mereka lapor polisi, sama artinya mereka mengakui kejahatan sendiri. Mereka bisa menyeret Carlos Santana dalam kasus ini, dan tidak akan bisa lagi kembali ke Jerman dengan keadaan selamat." Maulana melirik sang Istri dari kaca spion mobil.
"Ini pertama kali aku melihat Mas Ivan yang berbeda, Mas Ivan begitu mahir menggunakan senjata api, bahkan bisa melumpuhkan mereka seorang diri." Fira menundukkan pandangan, antara senang tapi takut kalau berita ini sampai ke telinga polisi.
"Sayang, jangan khawatir. Tidak akan melibatkan aparat kepolisian dan yang lain, palingan besok warga akan berbondong-bondong datang dan kebingungan karena ada kebakaran hutan." Maulana menoleh sejenak pada sang Istri, lalu kembali fokus pada kemudinya.
Fira mengangguk, namun pengalaman ini adalah pengalaman yang tidak akan terlupakan.
Maulana melirik jam di pergelangan tangannya, waktu menunjukkan pukul 8 malam, ia ingat ada janji dengan Sinya akan menemui pria itu.
"Sui, kamu bawa kembali mobil ini. Aku akan menghentikan mobil di depan, aku harus ke Mansion Mizuruky." Maulana menoleh pada Sui.
Sui mengangguk."Ok."
Maulana menepikan mobil di depan Koramil kemudian segera turun, Sui segera berpindah tempat duduk di kursi kemudi.
Fira ikut turun dan berjalan mendekati sang Suami, ia memperhatikan sekeliling tempat itu, menatap takut pada Koramil, di luar terlihat sepi tapi pasti di dalam banyak orang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
Roman d'amourDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
