Dipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Suasana malam di atas balkon lantai 25 dengan taman bunga yang indah sangatlah menakjubkan. Bunga-bunga yang bermekaran di taman menambahkan warna-warna cerah dan aroma yang harum ke udara malam. Lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di bawah memberikan latar belakang yang indah, sementara suara-suara alam seperti jangkrik dan angin malam menambah kesan yang damai.
Di atas balkon, angin malam yang sejuk membawa aroma bunga dan membuat suasana semakin nyaman. Bintang-bintang di langit malam terlihat jelas, menambah kesan magis pada suasana. Suasana ini sangat ideal untuk relaksasi dan menikmati keindahan malam.
Antonio dan Maulana duduk di kursi taman, di atas meja terdapat cemilan ringan dan minuman.
Antonio memakan cemilan dengan diam, hatinya sesak mengingat pertengkaran Ayah dan Ibunya, setiap kali dirinya di rumah, selalu mendengar pertengkaran mereka.
Meski Ayah dan Ibunya sudah bercerai, namun Ibunya masih sering berkunjung ke rumahnya untuk menemui dirinya.
Maulana diam memperhatikan bunga-bunga, ia tidak bertanya namun memberikan kesempatan Antonio untuk memikirkan dan menenangkan diri.
"Pak Ivan, saya ingin tinggal di rumah Bapak saja." Antonio menaruh minuman di atas meja, tatapan mata itu menyembunyikan kesedihan dan rasa putus asa.
"Tidak masalah, kamu boleh tinggal di sini. Tapi di rumah Bapak ini, Bapak yang membuat aturan." Maulana memandang langi malam.
"Saya tidak akan mengkhianati Bapak, saya hanya berteman dengan Fira, meski dalam hati saya, saya sangat menyukai Fira." Antonio bicara dengan sungguh-sungguh.
"Baiklah." Maulana menoleh pada Antoni."Tidak masalah, biar nanti Bapak yang bicara sama Ayahmu."
Antonio kembali mengalihkan perhatian ke arah lain."Tidak perlu, Pak. Saya kecewa pada Ayah dan Ibu, setiap kali bertemu hanya bertengkar. Mereka sama sekali tidak memikirkan perasaan saya." Ia bicara dengan suara lirih.
Maulana mengangkat tangan menepuk bahu Antonio pelan."Perbanyak sholawat, istighfar. InsyaAllah, Allah akan menolong mu."
Antonio mengangguk."Terimakasih, Pak."
Maulana mengangguk, ia kembali memandang langit malam." Istirahatlah, besok kamu harus sekolah."
Antonio menoleh pada Maulana, dahinya berkerut melihat cairan merah keluar dari hidung mancung pria itu."Pak Ivan."
Maulana kembali mengalihkan perhatian pada Antonio, menatapnya penuh tanda tanya.
"Pak Ivan mimisan?" Antonio panik dan khawatir, ia beranjak dari tempat duduknya lalu masuk ke dalam rumah mencari tisu, setelah itu keluar memberikan tisu itu pada Maulana.