15 menit Fira menunggu, ia merasakan firasat tidak enak pada sang Suami, setelah membayar pesanan, gadis itu berjalan menuju mobil.
Fira terkejut melihat Maulana pingsan di dalam mobil, pandangannya beralih pada sapu tangan di tangan pria itu, terdapat noda darah cukup banyak.
Panik dan cemas, tubuhnya menegang tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia tidak bisa mengemudikan mobil, juga tidak punya nomer mobil ambulance.
Pandangan Fira beralih pada sosok pria muda yang duduk di atas jok motor bersama seorang gadis cantik, kemungkinan mereka adalah sepasang kekasih.
Fira memberanikan diri mendekati mereka."Mas, Mbak. Bolehkah saya minta tolong?"
Seorang pria mengangkat pandangan menatap Fira, ia menganggukkan kepala begitu juga sang wanita.
"Suami saya pingsan di mobil, saya tidak bisa membawa mobil. Saya panik dan cemas, tolong bawa Suami saya ke rumah sakit, bisa pakai mobil Suami saya." Fira menunjuk pada mobil Maybach hitam terparkir di depan rumah makan itu.
Pria itu memandang kekasihnya, sang kekasih mengangguk."Kita bantu saja, Yang. Kamu kan bisa mengemudi mobil," kata wanita itu.
Pria itu mengangguk kemudian mengalihkan perhatian pada Fira."Baik, Mbak. Mari, saya antarkan Suami Mbak ke rumah sakit."
Fira mengangguk, ia segera berjalan dengan cepat mendekati mobil. Pria bernama Ari itu membantu memindahkan tubuh Maulana di jok belakang, Fira pun duduk di jok belakang membiarkan kepala Sang Suami berada di pangkuannya.
Ari dan Sinta nama kekasih Ari segera membawa Maulana ke rumah sakit terdekat, sepanjang perjalanan Fira terus memeluk kepala Maulana, air matanya tidak bisa mengalir karena ketakutan.
15 menit dalam perjalanan, mereka tiba di Rumah sakit terdekat, Ari dan Sinta membantu memanggil kan perawat untuk membantu membawa tubuh Maulana.
Tak butuh waktu lama, perawat di IGD segera mengeluarkan brankar rumah sakit, lalu meletakkan tubuh Maulana di atasnya, setelah itu membawanya ke dalam IGD untuk segera ditangani.
Fira berdiri, terdiam saat melihat tubuh Suaminya dipasangi alat-alat medis.
Sinta berjalan mendekati Fira, menepuk bahu gadis itu."Sabar, Mbak. Berdoalah, pasti Suami Mbak sembuh."
Fira tidak mengatakan apapun, ia terlalu syok melihat seorang pria tampan perkasa bahkan mampu melawan banyak musuh kini harus terbaring di ranjang rumah sakit dengan berbagai macam peralatan medis.
Melihat Fira tidak merespon, Ari membantu mengurus apapun keperluan rumah sakit bahkan saat Maulana dibawa ke ruang ICU.
Ari teringat pada Adiknya, seumuran dengan Fira namun kuliah di luar kota.
Sinta membawa Fira duduk di depan pintu ICU, membiarkan gadis itu tertidur di bahunya.
Ari duduk di samping Sinta."Sepertinya mereka bukan orang sembarangan." Ari menunjukkan dompet Maulana, terdapat banyak uang ratusan ribu dan kartu ATM.
Sinta membaca KTP Maulåna, mereka terkejut saat membaca kartu nama Maulana.
Mizuruky Ivan, pemilik perusahaan Mizuruky.
"Yank, ternyata mereka orang kaya," kata Sinta.
Ari mengangguk."Iya, Alhamdulillah kita bisa menolong mereka. Tadi kata dokter, Suaminya dia sudah stabil hanya menunggu sadar."
Sinta menoleh pada Fira, gadis itu tertidur dengan wajah ketakutan."Pasti sangat takut kehilangan."
Ari mengangguk."Aku jadi ingat Zayda, Adik kecilku, sekarang pindah sekolah."
Sinta mengangguk."Sabar, Yank. Zayda pasti baik-baik saja."
Ari dan Sinta tertidur di depan ICU bersama Fira hingga subuh.
Fira terbangun dengan kaget saat sebuah tangan menyentuh bahunya, ia menoleh pada pemilik tangan tersebut, terlihat sebuah rambut berwarna blonde dengan mata hijau menatapnya iba.
"Bangunlah, sudah subuh. Kamu sholat subuh dulu."
Perlahan Fira menegakkan tubuhnya, ia mengalihkan perhatian pada Ari dan Sintia, mereka masih tidur dengan posisi duduk."Mereka yang menolongku dan Mas Ivan semalam."
Fransis mengangguk."Agama mereka apa?"
"Islam," jawab Fira tanpa menoleh pada Fransis.
"Yakin? Tapi wanita itu tidak pakai kerudung, Ivan selalu ceramah kalau wanita muslimah itu harus mengulurkan kerudungnya sampai menutupi dada." Dahi Fransis berkerut melihat penampilan Ari dan Sinta.
Fira mengalihkan perhatian ke arah lain kemudian berdiri, perlahan ia berjalan mendekati pintu ruang ICU, gadis itu ingin bertemu dengan sang Suami.
"Ivan sudah siuman di dalam, dia masih butuh istirahat. Lebih baik kamu cepat pergi ke Musholla atau Masjid, Sui dan Reksi akan mengantar mu." Fransis berjalan mendekati Fira.
Fira mengangguk, Sui seorang pria berambut hijau dan Reksi gadis cantik dengan rambut pirang panjang berjalan mendekati Fira.
"Kamu tenang saja, kami akan memastikan kamu aman saat sholat," kata Reksi riang.
Fira mengangguk."Lalu bagaimana dengan Mas Ivan?"
"Aku yang akan mengurusnya, kamu tunaikan saja kewajiban mu sebagai seorang hamba pada Tuhannya." Fransis menepuk pelan bahu Fira.
Fira mengangguk, ia memutar tubuh dengan tidak rela dan pergi meninggalkan tempat itu mencari tempat untuk sholat.
Sui berjalan di belakang Fira dan Reksi berjalan di depan Fira menunjukkan jalan ke Mushola.
Setelah sholat subuh, Fira ingin kembali melihat Maulana, namun Sui dan Reksi memberikan saran agar Fira kembali ke rumah lebih dulu untuk Istirahat, karena Maulana sudah sadar dan stabil hanya menunggu untuk dibawa ke ruang rawat.
Fira tidak ingin kembali ke rumah dulu, ia ingin menunggu sang Suami, hatinya tidak tenang kalau kembali, Sui dan Reksi hanya bisa menuruti.
**
Sekitar pukul 8:00, Maulana sudah dipindahkan di ruang rawat kelas VVIP, pria itu masih tidur saat perawat memindahkannya.
Fransis, Sui dan Reksi duduk di dalam ruang rawat inap menunggu Maulana, mereka menempatkan beberapa pengawal dengan pakaian biasa di depan pintu depan dan belakang.
Fira duduk di sofa yang ada di depan ruang rawat inap, tak lama kemudian Nadia, Nita dan Catherine datang berkunjung.
Nadia berjalan cepat menghampiri Fira, pandangan matanya menatap dompet milik Maulana yang ada di tangan Fira.
Tatapan mata Nadia sinis dan penuh kebencian."Mbak Catherine, lihatlah kelakuan gadis miskin ini!"
Suara Nadia menggema memenuhi tempat itu, Fira mengangkat kepala menatap Nadia dengan tatapan bingung.
Catherine berjalan lebih cepat mendekati Fira lalu duduk di samping gadis itu dan menatap Nadia tajam."Kamu ini kenapa, Nadia?!"
"Lihatlah, Mbak! Suaminya masih hidup tapi sudah ingin menguasai harta miliknya." Nadia menunjuk dompet di tangan Fira.
Fira memperhatikan dompet milik Maulana di tangannya, ia merasa tidak ada yang salah dengan dompet itu.
"Seharusnya yang paling berhak atas harta Ivan itu adalah aku, Ibunya. Kamu hanya anak miskin yang hidup numpang di rumah kami!" Nadia lanjut bicara dengan bengis.
Catherine bangkit dari tempat duduknya, wajahnya merah padam menatap Nadia."Kamu bicara apa, Nadia?!"
Nadia mengatupkan mulutnya rapat, sepertinya ia sudah salah bicara.
"Kamu sama sekali tidak berhak apapun atas harta anakku, bahkan Fira jauh lebih berhak atas harta milik Ivan! Karena dia Istrinya, dan kamu bukan Ibunya Ivan! Ingat itu, Nadia!" Suara Catherine penuh dengan kemarahan namun tetap tertahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
RomantikDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
