Nindi duduk di sebelah Fransis di ruang nonton TV, dengan sengaja dia mendekatkan dirinya sehingga jarak antara mereka berdua sangat dekat. Dia tersenyum manis sambil melihat Fransis yang tampak malu dan berusaha menghindari tatapan matanya.
"Hey, kuning, apa yang kamu pikirkan?" Nindi bertanya dengan suara yang lembut, sambil memainkan rambutnya dengan jari-jarinya.
Fransis berusaha untuk tidak menatap Nindi secara langsung, tetapi dia tidak bisa tidak memperhatikan betapa cantiknya Nindi saat ini. "Tidak ada, aku hanya sedang menonton film ini," jawabnya dengan suara yang agak terbata-bata.
Nindi tersenyum lagi, dia tahu bahwa Fransis sedang mencoba untuk menyembunyikan perasaannya. "Oh, film apa ini? Aku tidak terlalu memperhatikan," katanya sambil mendekatkan dirinya lebih dekat lagi ke Fransis.
Nindi tidak memperhatikan film karena selera mereka tidak sama, Fransis lebih suka menonton film perang atau yang berhubungan dengan Mafia sedangkan Nindi lebih suka sinetron.
Fransis merasa semakin tidak nyaman, tetapi dia tidak bisa tidak menikmati kehadiran Nindi di sebelahnya. Dia tahu bahwa Nindi masih memiliki hubungan dengan Devan, Fransis merasa heran dengan Nindi, menurutnya Devan bukan pria yang baik dan suka kasar pada Nindi, tapi gadis itu masih tetap bertahan meski sering dikasari.
Nindi memperhatikan reaksi Fransis dan tersenyum dalam hati. Ia tahu bahwa Fransis memiliki perasaan padanya, dan dia menikmati situasi ini. "Kuning, kamu tahu aku masih memiliki hubungan dengan Devan, kan?" Nindi bertanya dengan suara yang lembut.
Fransis mengangguk, ia tahu bahwa Nindi masih memiliki hubungan dengan Devan. Tetapi dia tidak bisa tidak merasa ingin tahu tentang Nindi dan Devan. "Ya, aku tahu," jawabnya dengan suara yang pelan.
Nindi tersenyum lagi, dia tahu bahwa Fransis sedang mencoba untuk mengetahui lebih banyak tentang hubungannya dengan Devan. "Apa yang kamu pikirkan tentang hubungan kami?" Nindi bertanya dengan suara yang menggoda.
Fransis merasa semakin tidak nyaman, tetapi dia tidak bisa tidak menikmati situasi ini. "Aku tidak tahu, Nindi. Aku hanya ingin tahu apa yang kamu rasakan tentang hubungan kalian," jawabnya dengan suara bohong, ia tahu tapi malu untuk mengatakannya, karena ini sangat tidak normal untuk dirinya.
Nindi tersenyum, ia tahu bahwa Fransis memiliki perasaan padanya. Dan dia menikmati situasi ini, karena dia bisa melihat Fransis malu dan berusaha untuk menyembunyikan perasaannya.
Suara dering ponsel mengagetkan mereka, Fransis merasa tergolong dengan dering ponsel itu, ia segera meraih ponselnya lalu menjauh dari Nindi.
Nindi tersenyum sendiri melihat tingkah Fransis, menurutnya itu sangat lucu.
Fransis berdiri di teras saat menjawab panggilan telefon."Ya."
"Frans, minta anak buahmu memeriksa sekitar rumah ku." Maulana masih berdiri di depan jendela sambil memperhatikan orang -orang yang sedang memperhatikan rumahnya.
Fransis membalikkan tubuh kemudian memanggil anak buahnya dengan beberapa tepukan tangan, tak lama kemudian anak buah Fransis berkumpul dan berbaris dengan rapi di hadapan Fransis.
"Kalian periksa sekitar rumah ini, katua bilang ada beberapa orang sedang mengintai rumah." Fransis bicara dengan nada serius.
Para anak buah Fransis mengangguk, mereka pun bergegas dengan teratur dan terarah keluar dari rumah.
Fransis kembali menempelkan ponsel di telinga lalu berkata,"Aku sudah memerintahkan mereka, sekarang kamu dimana, Van?"
Maulana masih berdiri di dekat jendela memperhatikan seorang pria memakai jaket kulit hitam duduk di atas motor sport, pria ini memakai kacamata hitam namun terlihat mencurigakan.
Ceklek ...
Maulana menoleh ke belakang saat mendengar suara pintu kamar mandi dibuka, terlihat sang Istri masih mengenakan handuk dililitkan di dada, rambut hitam panjangnya masih basah.
Gadis itu berjalan dengan telanjang kaki mendekati sang Suami, memeluk pinggang pria itu dari belakang, matanya murni memancarkan sinar cinta, bibir mungil tersenyum menggoda.
Maulana tersenyum, sebelah tangannya menutup gorden dan tangan yang lain memeluk pinggang ramping sang Istri.
Maulana tidak ingin Istrinya melihat pria yang sedang memata-matai rumahnya, ia tidak ingin gadis itu khawatir dan merasa terancam.
Maulana menundukkan wajah, mendekatkan bibirnya pada bibir sang Istri lalu mencumbunya dengan lembut.
Maulana mengangkat tubuh mungil sang Istri dengan mudah dengan satu tangan, lalu berjalan selangkah demi selangkah dengan lembut ke arah tempat tidur.
Maulana melempar ponsel miliknya dan milik sang Istri ke tempat tidur, kemudian dengan kedua tangannya ia meletakkan tubuh mungil sang Istri dengan hati-hati.
Maulana menatap Fira dengan penuh cinta sarta hasrat, perlahan jemari lentik itu menurunkan kain yang membungkus tubuh Istrinya.
Namun hasrat sebagai seorang pria itu harus ditahan ketika mendengar suara pintu kamar diketuk, Maulana mengeraskan rahang menahan kekesalan, rasanya ingin melempar orang yang mengetuk pintu itu ke benua Antartika.
Fira terkekeh geli melihat ekspresi kesal sang Suami, dengan lembut jemari mungil itu mengusap lembut pipi putih Suaminya sambil berkata,"Mas jangan marah, sejak tadi Mas sudah tegang dan marah-marah. Bukankah nanti bisa dilanjutkan?"
Maulana menghela nafas meredakan kekesalan, ia pun tersenyum lembut lalu bangkit dari tubuh sang Istri, dengan hati-hati ia menutup kembali tubuh sang Istri menggunakan kain selimut.
"Mas buka pintu dulu."
Fira mengangguk, ia sangat senang setiap kali melihat Maulana kesal karena tidak bisa melepaskan hasratnya, namun kasihan karena bagaimanapun juga seorang pria sangat bahagia jika melakukan itu dengan Istrinya.
Maulana berjalan mendekati pintu, mengulurkan tangan memutar kenop pintu.
Terlihat Leaf dan Tree berdiri di depan pintu dengan pandangan mata tertunduk, takut kalau telah membuat Maulana marah.
"Ketua, kami sangat senang bisa bertemu Ketua lagi. Saat itu kami masih kecil, Ketua menyelamatkan kami, kami-." Ucapan Leaf terhenti karena langsung dipotong oleh Maulana.
"Katakan!" Perintah Maulana serius.
Leaf dan Tree merasakan aura tidak menyenangkan, sepertinya mereka telah membuat mantan ketua Demon God itu marah.
Fira turun dari tempat tidur setelah berganti baju dan memakai kerudung, ia berjalan mendekati sang Suami, kemudian berdiri di samping pria itu.
Fira memiringkan kepala dengan mendongakkan wajah menatap paras tampan sang Suami, pria itu terlihat masih kesal bahkan menatap kedua anak buah Fransis itu galak.
Fira mengalihkan perhatian pada kedua anak buah Fransis, pria itu terlihat sangat dingin dan gagah perkasa namun sekarang terlihat menunduk ketakutan.
"Ketua, kami sudah menyelidiki orang-arang tadi," kata Tree berharap Maulana tidak lagi marah padanya.
Fira mengerutkan kening."Orang -orang ... Siapa?"
Maulana mengalihkan perhatian pada sang Istri, tersenyum lembut membelai lembut puncak kepala gadis itu."Sayang, bukan siapa-siapa, kamu tidak perlu khawatir."
Fira menoleh pada sang Suami, ia mengangguk percaya, namun dalam hati masih penasaran dengan siapa yang dimaksud oleh Suaminya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
RomanceDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
