Siang itu, sinar matahari menembus kaca-kaca besar rumah Maulana, memantulkan kilauan lembut di lantai marmer yang berkilau. Udara hangat menyelimuti lorong panjang yang membentang dari ruang tamu menuju area parkir, sebuah jarak yang terasa semakin jauh bagi Maulana, yang harus membawa tubuhnya dan Fira melewati setiap langkah yang semakin berat.
Rumahnya berdiri megah seperti istana bangsawan Eropa, langit-langit tinggi dengan ukiran klasik, pilar-pilar kokoh yang seolah menjadi saksi perjalanannya. Tapi kemewahan itu tidak menghapus rasa lelah yang kini mengakar dalam tubuhnya, setiap tarikan napas adalah perjuangan, dan setiap langkah terasa seperti ujian batas kemampuannya.
Fira berada di gendongannya, tubuh mungilnya terasa ringan, tetapi bagi Maulana, beban itu bertumpuk bersama dengan keletihan yang tak bisa ia hindari. Napasnya terdengar sedikit berat, keringat mengalir di pelipisnya meski ruangan ber-AC memberikan kesejukan yang seharusnya membantu. Sesekali, pandangannya sedikit kabur, seakan cahaya yang memantul dari lantai marmer terlalu menyilaukan bagi matanya yang mulai kehilangan fokus.
Antonio mengikuti di belakangnya, diam namun penuh perhatian, memastikan langkah Maulana tetap stabil. Di kejauhan, pintu besar menuju area parkir mulai terlihat, di baliknya berjejer motor-motor sport dan mobil mewah yang tertata rapi di bagasi khusus. Udara mulai berubah ketika mereka semakin mendekat, bau aspal, aroma bensin yang samar, dan ruang yang lebih terbuka dibandingkan koridor panjang rumahnya.
Maulana tetap melangkah, mempertahankan keseimbangan, meski tubuhnya mulai terasa kosong dari tenaga yang tersisa. Tangannya masih erat menggendong Fira, melindunginya, tetapi dalam dirinya, ada batas yang semakin mendekat, dan ia hanya bisa berharap bahwa langkahnya cukup kuat untuk mencapai tujuan sebelum tubuhnya benar-benar menyerah.
Setelah sampai di parkiran itu, Maulana menurunkan Fira dengan hati-hati seakan gadis itu adalah hal paling berharga bahkan lebih berharga dari nyawanya sendiri.
Maulana menarik napas pelan, mengumpulkan sisa tenaga yang masih bisa ia gunakan. Dengan gerakan yang sedikit lebih lambat dari biasanya, ia mengayunkan kakinya ke atas motor sport itu, merasakan getaran halus dari mesin yang masih belum dinyalakan. Dudukannya terasa kokoh, tetapi tubuhnya sendiri tidak, kelemahan yang telah menumpuk sejak pagi masih mengendap dalam setiap sendinya.
Tangannya bertumpu sejenak di pegangan motor, memastikan keseimbangan sebelum ia benar-benar mengatur posisi. Fira, yang sudah lebih dulu duduk di atas motor, sesekali meliriknya, mungkin menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dalam cara Maulana bergerak. Antonio tetap mengamati dari belakang, diam dalam posisinya, seolah menunggu apakah Maulana mampu mempertahankan stabilitasnya tanpa gangguan.
Udara hangat bercampur dengan bau mesin dan aspal yang mulai menguap, menambah atmosfer yang seakan menekan tubuh Maulana lebih jauh. Tapi, meski lelah, meski tubuhnya terus berjuang melawan batasannya, ia tetap naik ke motor itu ,tetap berada di posisi yang ia perlukan untuk membawa Fira pergi.
Begitu Maulana telah duduk di atas motor, Fira langsung merapat, melingkarkan lengannya dengan erat di pinggangnya, refleks yang muncul bukan hanya karena keseimbangan, tetapi juga karena kenyamanan dan kepercayaan yang telah terbentuk di antara mereka.
Pelukannya hangat, kontras dengan tubuh Maulana yang masih terasa lemah. Dada pria itu naik dan turun dalam ritme napas yang berat, sedikit tersendat, tetapi tetap berusaha mempertahankan ketenangannya. Sentuhan Fira di punggungnya memberikan sedikit tekanan, tidak menyakitkan, tetapi cukup untuk mengingatkannya bahwa tubuhnya belum sepenuhnya pulih.
Antonio masih berdiri di belakang mereka, mengamati tanpa banyak kata, mungkin memperhatikan bagaimana Maulana mencoba menyesuaikan diri dengan beban tambahan. Udara siang yang hangat mengalir di sekitar mereka, membaur dengan aroma bensin dan aspal dari tempat parkir.
Mesin motor sport Maulana menggeram halus saat ia mulai melaju meninggalkan rumah megahnya. Bangunan itu berdiri menjulang di belakang mereka, dengan arsitektur bangsawan Eropa yang megah, pilar-pilar kokoh, jendela besar dengan ukiran klasik, dan lantai marmer yang memantulkan kilauan sinar matahari siang.
Udara hangat menyelimuti perjalanan mereka, terik mentari memantulkan cahaya di permukaan jalan yang membentang luas menuju lapangan. Fira tetap merapat di punggung Maulana, kedua lengannya melingkari pinggang pria itu dengan erat, seolah memastikan dirinya tetap aman dalam gendongan motor yang melaju stabil.
Maulana berusaha menjaga keseimbangan. Meski nyeri di tubuhnya telah diredam oleh injeksi, kelemahan yang mengakar tidak bisa begitu saja diabaikan. Setiap getaran dari jalan yang mereka lalui terasa menyusup ke tulang-tulangnya, seperti bisikan samar dari tubuhnya yang mengingatkan bahwa batasnya semakin dekat. Napasnya masih sedikit berat, tetapi ia tetap tetap fokus membawa Fira menuju lapangan seperti yang telah direncanakan.
Antonio mengikuti di belakang mereka dengan motor sportnya sendiri, melaju dengan kecepatan yang selaras, tidak pernah terlalu jauh ataupun terlalu dekat. Sorot matanya tajam, sesekali berpindah dari jalanan di depan ke tubuh Maulana, memastikan bahwa pria itu masih bisa bertahan tanpa kehilangan kendali.
Jalanan yang mereka lalui terbentang luas, dihiasi dengan pepohonan di beberapa sisi, memberikan sedikit keteduhan dari panas yang mulai menyengat. Angin yang berhembus membawa aroma tanah dan dedaunan yang tersapu oleh laju kendaraan, memberikan nuansa perjalanan yang kontras antara ketenangan dan ketegangan yang tetap menyelimuti Maulana.
Lapangan mulai terlihat di kejauhan, permukaan hijau membentang luas di bawah langit biru yang cerah. Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan biasa bagi Maulana, ini adalah perjuangan untuk tetap bertahan, untuk tetap membawa dirinya dan Fira ke tempat tujuan tanpa menunjukkan betapa rapuhnya tubuhnya sebenarnya.
Lapangan Dirgantara
Sinar matahari menancap lurus ke permukaan bumi tanpa belas kasihan, susana panas menyengat menyelimuti seluruh tempat itu, seakan tidak membiarkan siapapun untuk kabur.
Lapangan Dirgantara masih terlalu sepi, hanya ada beberapa murid dari berbagai sekolah SMA yang telah datang.
Di sisi kanan dan kiri lapangan banyak para penjual yang menjajahkan barang dagangan, para panitia lomba telah datang untuk persiapan.
"Panas full." Antonio mengeluh, ia mengusap pelipisnya dengan lembut.
"Bukankah tadi kamu sangat ingin ke sini?" Maulana bertanya dengan nada mencibir.
"Ya, tapi ..." Antonio menghentikan ucapannya saat melihat sosok musuh bebuyutannya ada di sudut lapangan bersama beberapa murid sekolah lain, ternyata musuhnya itu juga ikut lomba gerak jalan.
"Tapi apa?" Maulana menunggu kelanjutan ucapan Antonio.
"Tidak apa-apa, Pak." Antonio mengalihkan perhatian ke arah lain, ia sangat ingin pergi dan membuat perhitungan dengan musuhnya itu, tapi sekarang dirinya bersama Wali Kelasnya.
Tidak masalah kalau dirinya harus berkelahi, tapi bagaimana dengan Maulana? Pria itu mungkin pasti tidak akan membiarkan dirinya berkelahi tapi bila musuhnya itu tetap menyerang, pasti juga Maulana akan ikut terlibat.
Antonio tidak yakin kalau fisik Maulana untuk saat ini mampu untuk berkelahi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
RomanceDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
