Suara gelak tawa terdengar di ruang kelas 3F, semua orang menertawakan Antonio dan Rangga terkecuali dengan Maulana.
Pria itu hanya diam tanpa ekspresi melihat suasana dalam kelasnya, sementara itu, Fira mengerutkan kening melihat sang Suami hanya diam memperhatikan suasana kelas.
Gadis itu memutar tubuh lalu melangkahkan kaki mendekati Suaminya, ia duduk di samping pria itu, memiringkan kepala menatap paras tampan tersebut.
"Kenapa Mas hanya diam?"
Maulana mengalihkan perhatian pada Fira, menatap gadis itu dengan senyum manis.
"Tidak apa-apa, Sayang. Mas hanya merasa tidak ada yang lucu saja."
Fira mengalihkan perhatian ke arah lain, menurutnya ucapan sang Suami sangat tidak masuk akal, kalau tidak lucu, pasti seisi kelas tidak akan tertawa.
"Tidak lucu? Tapi kenapa mereka tertawa?"
Dahi Fira berkerut, matanya melirik teman-temannya, mereka terlihat masih tertawa hanya sang Suami saja yang diam dengan pandangan menerawang.
Fira kembali mengalihkan perhatian pada sang Suami, menaruh kepalanya di bahu pria tersebut, dalam hati penasaran apa yang sedang difikirkan Suaminya.
Maulana menoleh sejenak pada sang Istrinya, bilamana kondisi tubuhnya semakin lemah, bagaimana dengan gadis kecil manja di sampingnya tersebut, apakah mampu menemukan pengganti yang lebih baik serta lebih mencintai gadis itu.
"Sayang, apakah kamu tidak memiliki perasaan khusus terhadap Andrian atau Antonio lagi?"
Nada bicaranya terdengar perih, tidak ingin melihat gadis itu bersama yang lain namun takut meninggalkannya sendiri tanpa ada yang menjaga.
Fira terkejut mendengar pertanyaan sang Suami, ia mengangkat kepala menoleh pada sang Suami, tatapan mata kecoklatan itu tidak mengerti.
"Kenapa Mas tanya seperti itu?"
Tatapan mata itu berubah penuh selidik."Jangan bilang Mas mau derama, menikah dengan wanita lain lalu meninggalkan ku sendiri."
Bibir Maulana sedikit terangkat, pikiran sang Istri terlalu aneh menurutnya, sedikit pun tidak ada niat dirinya untuk menduakan gadis itu, dirinya telah sayang dan sangat mencintai Istrinya tersebut.
"Sudahlah."
Maulana mengalihkan perhatian pada jam tangan di pergelangan tangannya, waktu menunjukkan pukul 12:25 menit, artinya sudah waktunya istirahat di rumah.
Pria itu bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan ke depan kelas meninggalkan Fira yang masih curiga.
"Latihan untuk pensi sampai di sini dulu, sekarang kalian boleh berkemas sebentar lagi pulang."
Rangga mengangguk namun masih belum bisa menghentikan tawanya, sedangkan Andrian sangat dongkol karena tadi tanpa sengaja memeluk Rangga, Antonio memperhatikan Fira, gadis itu bisa-bisanya menghindar hanya karena ingin dipeluk Andrian.
Fira kembali ke tempat duduknya lalu merapikan peralatan sekolahnya, Andrian menoleh ke arah Fira, kemudian berkata,"Fir, nanti malam aku ke rumahmu, ya?"
Fira menoleh pada Andrian dan mengembalikan pertanyaan itu,"Ngapain? Nanti malam aku sibuk."
Fira menjawab dengan dingin, namun Andrian tidak menyerah begitu saja, ia yakin pernikahan Fira adalah karena terpaksa meski gadis itu mengatakan sudah mencintai Suaminya tapi dirinya tetap tidak akan percaya begitu saja.
"Sibuk apa, Fir? Bukankah biasanya kamu kalau malam hanya nonton Dracin atau tiktok?"
"Aku sibuk bersama Mas Ivan, aku mau makan malam bersama Mas Ivan. Lagian ngapain juga kamu ke rumah ku?" Fira nampak tidak suka dengan Andrian, antara kecewa dan masih sakit hati karena dulu pernah ditolak cintanya padahal dirinya telah merendahkan harga diri di depan Andrian.
Maulana mengalihkan perhatian pada sang Istri, dirinya tidak merasa menjanjikan makan malam bersama, bisa saja nanti malam dirinya ada acara di luar tapi biarlah sepertinya gadis itu benar-benar membenci Andrian.
Antonio tersenyum remeh melihat Andrian, dalam hati berkata,"Salah siapa dulu kau abaikan, sekarang dia sudah bersama Pak Ivan."
"Baiklah anak-anak, jangan ribut lagi. Kita baca doa dulu sebelum pulang, untuk Fira dan Andrian, jangan bermesraan di sini."
Rangga gemes terhadap mereka berdua, bisa-bisanya bicara dengan keras di dalam kelas saat masih ada Guru dan Wali kelasnya.
"Siapa yang mau mesra -mesraan, Pak?! Pak Rangga kali yang mau melanjutkan pelukan dengan Kak Andrian."
Fira tidak terima bila dirinya disebut mesra-mesraan dengan Andrian, kesal dan ingin marah setiap kali bertemu dengan Andrian namun harus pura-pura baik.
Seisi kelas kecuali Maulana menahan senyum mengingat kejadian tadi, Rangga terkekeh pelan.
"Kamu ini bisa saja, Fir. Jelas-jelas Andrian ingin memelukmu, Bapak jadi penasaran seperti apa kisah cinta kalian dulu."
"Fira adalah gadis yang selalu mengejar pacar saya, Pak. Tapi pacar saya tidak tertarik karena bagaimana pun juga keluarga kami beda, Fira dari keluarga miskin."
Ezra menyahuti perkataan Rangga, Rangga mengangguk ia melirik Maulana, tatapan pria itu sangat dingin seakan ingin memakan orang.
Rangga menelan ludah, ternyata telah membangunkan singa tidur.
"Benar, dulu aku memang miskin. Tapi sekarang, aku orang kaya... Bukannya aku sombong, tapi nyatanya memang aku orang kaya. Jadi karena itu Kak Andrian ingin mendekati ku?"
Fira menoleh pada Andrian dengan tatapan dingin sedingin salju, dirinya sudah dihina dan direndahkan di depan umum karena status keluarga, tiada salahnya juga membalas.
"Aku bahkan lebih kaya dari kalian." Dari ucapannya terlihat jelas bahwa Fira ingin memberitahukan bahwa dirinya sekarang telah memiliki kuasa.
Seisi kelas terdiam bahkan Rangga pun seakan tidak percaya bahwa muridnya bisa berkata dengan nada angkuh dan dingin seperti itu, mereka semua terlihat menunggu kalimat Fira selanjutnya.
Ezra tersenyum remeh mendengar pengakuan Fira, ia tidak akan percaya sama sekali dengan ucapan teman sekelasnya tersebut.
"Kau yakin? Ayahku punya pabrik kerupuk, Ayahmu punya apa?"
Tatapan Fira beralih pada Ezra dan menatap gadis itu sinis."Itu punya Ayahmu bukan milikmu! Sedangkan aku... Aku memiliki lebih dari apa yang kau miliki!"
"Apa?" Ezra menatap Fira penasaran.
"Aku punya Suami yang selalu mencintai ku dan memanjakan ku, apa yang dia miliki, itu akan menjadi milikku. Apakah kau punya? Bahkan pacar yang kau banggakan juga sekarang malah ingin mendekatiku."
Fira menyeringai kecil melihat ekspresi dongkol di wajah Ezra, sedangkan Rangga menggelengkan kepala melihat Fira sangat terang-terangan membanggakan Maulana.
Maulana merasa malu sendiri dengan ucapan sang Istri, rupanya gadis itu bukan membanggakan harta melainkan membanggakan dirinya, ia tersenyum sendiri.
"Sudah, sudah. Kalian jangan bertengkar lagi, kasihan teman-teman yang lain mendengar pertengkaran kalian."
Fira dan Eza langsung diam tidak berani membantah, masing-masing mengalihkan perhatian ke depan meski dalam hati masih sama -sama kesal.
Setelah berdoa, Maulana salam mereka pun satu persatu meninggalkan kelas hingga menyisakan Fira dan Antonio.
Fira bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan mendekati sang Suami yang masih duduk di bangkunya berbincang dengan Rangga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
RomanceDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
