Episode 135

20 3 0
                                        

Maulana terbaring di atas ranjang UKS, tubuhnya menggigil pelan saat nyeri menusuk perutnya seperti belati yang ditanam dalam-dalam. Setiap tarikan napas terasa menyiksa, menjalar dari tulang rusuk hingga ke pangkal pahanya, membuatnya tanpa sadar mengepal seprai di bawahnya. Tapi  Fransis hanya bersedekap, rahangnya mengeras dalam ekspresi jengkel yang tak berusaha ia sembunyikan.

Maulana mengerjapkan mata, pandangannya buram oleh rasa sakit yang terus menghantam. "Kenapa tidak segera?" Suaranya keluar sebagai gumaman lemah, nyaris tenggelam di antara denyutan yang terus bertambah di tubuhnya. Namun, Fransis tetap diam, hanya melirik sebentar sebelum kembali menatap meja perawatan dengan ekspresi dingin.

Udara terasa berat. Nyeri terus mencengkeram, menusuk-nusuk hingga membuat Maulana sulit berpikir. Ia tahu jika ia terus berdiam, Fransis tak akan bergerak. Maka, dengan satu tarikan napas yang menyesakkan, ia membiarkan tubuhnya mengendur. Kelopak matanya perlahan menutup, napasnya melambat seperti api yang hampir padam.

Fransis tersentak. Ekspresi jengkel itu runtuh, berganti dengan kepanikan yang merayap cepat ke matanya. "Van?" Suaranya terdengar lebih tajam, dengan nada khawatir yang tak ia sadari. Tidak ada jawaban.

Tangan Fransis bergerak tanpa diperintah, meraih suntikan injeksi di meja sebelum pikirannya sempat menimbang. Cairan pereda nyeri mengalir melalui jarum yang menembus kulit Maulana, dan di balik kelopak matanya yang masih terpejam, ada kepuasan samar yang ia simpan sendiri.

Di sudut ruangan, Sui menyilangkan tangan, pura-pura tak acuh saat menyaksikan drama kecil yang berlangsung di depan matanya. Ia tahu Maulana tidak benar-benar pingsan. Cara napasnya yang masih terlalu teratur, ketegangan samar di jemarinya, semua itu tanda yang terlalu kentara bagi seseorang yang mengenalnya begitu lama. Tapi justru itulah yang membuatnya ingin tertawa.

Tatapan Sui beralih ke Fransis, yang kini panik, terburu-buru mengambil suntikan injeksi dan menyuntikkannya ke lengan Maulana. Dahi lelaki itu berkerut, raut wajahnya yang tadi dingin kini penuh kekhawatiran. Ah, betapa menyedihkan melihatnya jatuh dalam perangkap sederhana seperti ini.

Sudut bibir Sui tertarik ke atas, senyum kecil yang ditahan agar tak mencuri perhatian. Ia menggelengkan kepala sedikit, tidak sepenuhnya percaya bahwa Maulana bisa secerdik ini dalam kondisi kesakitan. Licik, iya, tapi brilian.

Dan di balik kelopak mata Maulana yang masih terpejam, Sui bisa merasakan kepuasan kecil yang mereka bagi bersama, tanpa sepatah kata pun.

***
Maulana mengerjapkan matanya, mengatur napasnya yang sempat tertahan saat gelombang nyeri di perutnya masih menguar, membuktikan bahwa injeksi dari Fransis belum sepenuhnya bekerja. Namun, ketidaknyamanan itu menjadi hal sekunder ketika ponselnya, yang tergeletak di sampingnya, mulai bergetar tak henti-henti, memuntahkan notifikasi yang berdentang keras di ruangan.

Fransis, yang masih berdiri di sisi ranjang dengan wajah menegang, mendadak menegakkan punggungnya. Matanya yang semula dipenuhi kekhawatiran kini menyipit tajam, menyapu wajah Maulana dengan tatapan yang nyaris membakar.

“Kamu... tidak pingsan?” Suaranya setengah berbisik, setengah tertahan di tenggorokannya.

Maulana, yang masih merasakan sisa nyeri menjalar, mengangkat satu tangan perlahan, seolah hendak menenangkan atmosfer yang mulai berubah tegang. Bibirnya menarik sedikit senyum lemah, sebuah pengakuan tanpa kata bahwa ya, Ia telah memperdaya Fransis.

Fransis mengepalkan rahangnya. “Aku benar-benar sudah." Ia mengembuskan napas kasar, menghentikan dirinya sebelum sumpah serapah keluar.

“Dan ponselmu... Ini dari murid-muridmu, bukan?” Tatapan tajamnya beralih ke layar yang masih berkelip, memperlihatkan puluhan pesan masuk tentang lomba gerak jalan.

Sebersit kelegaan muncul di wajah Fransis bahwa Maulana ternyata masih sadar, masih bisa merespons. Tapi bersamaan dengan itu, amarahnya kembali mencuat, bercampur dengan perasaan tertipu.

“Kamu keterlaluan.”

Maulana hanya menghela napas pendek, masih berusaha menahan nyeri yang tak kunjung surut.

**
Dentuman notifikasi masih bergema dari ponsel Maulana yang tergeletak di sampingnya, seolah-olah setiap getarannya menambah beban di tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih. Ia mengerjapkan mata, mengatur napas yang terasa berat di dadanya. Nyeri di perutnya masih menekan, obat yang diberikan Fransis jelas belum cukup lama bekerja.

Fransis, yang berdiri di sisi ranjang, mendadak menarik napas tajam begitu melihat Maulana mulai bergerak. “Jangan bilang kau berencana bangkit sekarang?” Nada suaranya masih dipenuhi ketegangan antara marah dan lega.

Maulana tidak menjawab segera tubuhnya merespons lebih dulu. Ia mencoba mengangkat sedikit punggungnya dari matras, tetapi gerakan itu langsung mengirimkan gelombang nyeri yang menusuk ke dalam perutnya. Ekspresi wajahnya mengeras, rahangnya mengatup rapat menahan rasa sakit yang menyengat. Napasnya terdengar lebih berat, seperti seseorang yang harus mengumpulkan kekuatan hanya untuk sekadar duduk tegak.

Ponsel masih bergetar. Dengan satu tarikan napas yang tidak stabil, ia menggerakkan tangannya, jari-jarinya sedikit gemetar saat akhirnya berhasil meraih perangkat itu. Cahaya layar menusuk matanya, tetapi ia tetap memaksa diri menekan tombol penerima panggilan.

“Ya...” Suaranya lebih serak dari biasanya, hampir kehilangan tenaga.

Fransis melipat tangan di dada, ekspresi kesalnya masih jelas. “Jadi kamu benar-benar lebih peduli dengan telepon daripada kondisi tubuhmu?”

Maulana hanya bisa menghela napas perlahan, masih berusaha menenangkan napasnya yang tersengal. Ia harus menjawab meskipun tubuhnya belum sepenuhnya sanggup.

"Assalamualaikum, Pak." Antonio nampak semangat di sebrang telpon.

“Walaikumsalam...” Suara Maulana keluar dengan serak, hampir kehilangan tenaga, sementara napasnya masih sedikit tersengal. Ia tetap berbaring, hanya mampu menggeser tubuhnya sedikit agar lebih nyaman, ponsel tergeletak di dadanya, jemarinya masih menggenggamnya lemah.

Di ujung telepon, suara seorang muridnya terdengar penuh rasa tidak sabar untuk segera kumpul di lapangan agar bisa bertemu dengan Fira. “Pak, Pak Ivan kemana saja? Kami sudah beberapa kali mencoba menghubungi... Lomba gerak jalan sebentar lagi dimulai, kami butuh arahan.”

Maulana menelan ludah, mencoba menguatkan suaranya meskipun rasa nyeri masih menguasai tubuhnya. “Bapak masih di UKS... tapi tenang, semua sudah sesuai rencana, kan?”

Fransis, yang berdiri di samping ranjang dengan tangan terlipat di dada, hanya mendengarkan dengan ekspresi yang sulit diartikan, campuran kesal dan heran bahwa di tengah kondisi seperti ini, Maulana masih bisa memikirkan urusan lomba.

Di seberang telpon, Antonio terdengar ragu."Anu ..." Ia ingin membahas soal Fira, tapi yang keluar malah." Saya ke sekolah lagi saja menemui Bapak."

Maulana menarik napas dalam sebelum menjawab, mencoba meredam denyutan tajam di perutnya. “Tidak perlu khawatir. Jalankan sesuai arahan yang sudah  Bapak berikan sebelumnya...  Bapak percaya pada kalian.” Ia mengira Antonio ingin menemuinya karena ingin membahas tentang gerak jalan itu.

Fransis mengangkat alisnya, lalu mendesah pelan, seakan pasrah menghadapi sikap keras kepala Maulana yang tetap ingin menangani urusan sekolah meskipun masih terbaring lemah.





Suami Terbaik 2 Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang