Episode 92(102)

33 2 0
                                        

Udara semakin tegang, anak buah Carlos Santana bersiap dengan senjata api di balik jas hitam mereka begitu pun anak buah Fransis.

Catherine cemas dan khawatir kalau anaknya akan menanyakan mengenai hubungan antara Carlos Santana dan dirinya, ia yakin Carlos Santana sengaja datang ke Indonesia dengan tujuan itu dan membawa Maulana kembali ke Jerman.

Carlos Santana menghela nafas kemudian mundur beberapa langkah lalu memutar tubuh memunggungi Maulana dan berkata,"Jhon, kamu penasaran bukan tentang apa hubungan kita? Tanyakan pada Ibumu."

Carlos Santana menaikkan sudut bibirnya dan memperlihatkan seringai iblisnya."Hari ini sampai di sini dulu, aku akan sering -sering berkunjung."

Carlos Santana mengangkat tangan melambaikan tangan memberi isyarat pada anak buahnya untuk meninggalkan rumah Maulana tanpa membuat keributan.

Tatapan mata Maulana mengikuti setiap gerakan Carlos Santana dan anak buahnya, bukan tidak mungkin jika mantan ketuanya itu akan berbuat buruk dan merusak, meski kemungkinan itu kecil mengingat Carlos Santana bukanlah orang bodoh, dia pasti tidak akan mengambil tindakan yang memancing TNI di koramil ikut bergabung dengan keributan jika dia melakukan itu.

Maulana memutar tubuh memandang punggung Carlos Santana yang mulai masuk ke dalam mobil hingga mobil Carlos Santana dan anak buahnya meninggalkan sekitar rumahnya.

Maulana menghela nafas lega, bukan mengkhawatirkan dirinya melainkan Istri juga keluarganya, sang Istri begitu polos dan lugu, tidak pernah terlibat dalam dunia gelap. Berbeda dengan dirinya yang pernah menjadi pemimpin kelompok Mafia dengan nama God demonds.

Melihat situasi lebih aman, Fira berjalan mendekati sang Suami lalu mengulurkan tangan meraih tangan sang Suami.

Maulana menoleh pada sang Istri, ekspresi dingin dan tatapan tajam dalam sekejap berubah lembut dan penuh kasih sayang.

Anak buah Fransis tercengang melihat perubahan wajah Maulana, mereka semua kenal dengan Jhon William ketika pria itu remaja, bengis dan sadis, tidak pernah menunjukkan ekspresi wajah lembut atau ramah.

"Apakah ketua God Demonds bisa menunjukkan ekspresi ramah seperti itu?" Leaf salah satu anak buah Fransis berbisik pada temannya, tatapan matanya masih tidak beralih pada sosok Maulana yang tersenyum manis pada Istrinya.

"Aku tidak pernah melihat itu, Ketua Dewa Iblis terkenal bengis dan sadis, aku melihat sendiri bagaimana dia menyiksa pengkhianat." Tree teman Leaf memberikan tanggapan, bukan hanya Leaf, Tree juga tercengang seakan tidak percaya dengan apa yang dilihat.

"Sayang, kamu pasti lelah dan lapar setelah pulang sekolah. Kamu bisa mandi dan ganti baju, setelah itu makan siang." Maulana mengangkat tangan mengelus kepala Fira dengan lembut.

Fira mengangguk, sebenarnya ia ingin mengajukan banyak pertanyaan tapi melihat betapa tegang antara Maulana dan Carlos Santana tadi, rasanya dirinya tidak tega, selain itu mungkin Suaminya itu ingin bicara dengan Catherine Wilson.

Maulana tersenyum dan membiarkan Fira memutar tubuh lalu melangkahkan kaki menuju lantai atas dimana kamar mereka terletak.

Fransis berjalan mendekati Maulana, berdiri di samping pria itu dengan sebelah tangan dimasukkan ke dalam saku calana, mata jamrud itu memperhatikan arah pandang sahabatnya, rupanya pria itu masih memperhatikan Istri kecilnya.

"Van, bagaimana kamu akan menghadapi Carlos Santana?"

Maulana memutar tubuh lalu berjalan ke salah satu sofa dan mendudukkan tubuhnya di sofa tersebut, tatapan mata safir menerawang jauh memikirkan cara melindungi sang Istri dari Carlos Santana dan anak buahnya.

Fransis sedikit memutar tubuh lalu berjalan mendekati Maulana, ia duduk di dekat pria itu, tangannya meraih segelas jus melon yang ada di atas meja lalu meneguknya perlahan.

Fransis menoleh pada Maulana, terlihat gurat kekhawatiran di wajah tampan sahabatnya tersebut, pasti sangat khawatir pada Istrinya.

"Fira adalah gadis kecil yang lugu dan polos, dia tidak pernah berada di dunia yang kelam. Tapi ..." Fransis mengalihkan perhatian ke arah tangga, di tangga paling atas itu Fira menghilang di balik dinding.

"Apakah kamu tidak merasa kalau sebenarnya dia sudah tahu tentang masalalu mu?"

Maulana tertegun sejenak, ia mengalihkan perhatian ke arah Fransis.

Fransis mengalihkan perhatian ke arah Maulana, ia menganggukkan kepala lalu berkata,"Pasti Ibumu sudah memberitahu Fira tentang masalalu mu."

Dahi Maulana berkerut."Tapi dia masih sangat manja dan tidak terlihat rasa takut dalam pancaran matanya terhadap ku."

Maulana merasa tidak mungkin kalau Fira tahu tentang masalalunya, gadis itu masih tetap tidak berubah.

Semua orang juga tahu kalau seorang Mafia itu pasti sangat kejam dan bengis, orang normal pasti merasa jijik dan takut kalau berhadapan dengan seorang Mafia.

"Kak Fira lebih percaya pada Kak Ivan."

Suara renyah dari arah lain terdengar di telinga Maulana, terlihat Nindi berjalan ke arah salah satu sofa lalu duduk di sofa depan Maulana, meletakkan kaki kanan di atas kaki kiri.

Maulana mengalihkan perhatian pada Nindi dan menatap gadis itu penuh tanda tanya.

"Kak Fira hanya tahu Kak Ivan sangat mencintainya, Mama Catherine sudah menjelaskan tentang siapa Kakak pada Kak Fira, namun Kak Fira justru lebih memilih ingin selalu bersama Kak Ivan." Nindi menjelaskan sambil mengambil segelas jus apel, bibirnya tersenyum senang karena Fira ternyata wanita setia.

Maulana mengalihkan perhatian pada Catherine, ia jadi teringat ucapan Carlos Santana namun dirinya tidak ingin menanyakan hal itu di depan banyak orang.

Maulana bangkit dari tempat duduknya, kelopak mata itu merendah ke arah Fransis lalu berkata,"Aku lelah, jika kalian ingin menginap, tidak masalah. Di rumah ini banyak kamar kosong."

Fransis mengangguk, ia meletakkan kembali gelas berisi jus melon di atas meja lalu mengalihkan perhatian pada anak buahnya dan berkata,"Rumah mu ini kan sangat besar, isinya juga hanya beberapa pelayan dan kalian bertiga. Aku berencana mempekerjakan mereka di sini."

Sudut bibir Maulana berkedut, ingin rasanya menghajar sahabat blondenya itu, seenaknya saja membawa orang dan meminta izin agar mereka tinggal di rumahnya.

Maulana mengalihkan perhatian pada anak buah Fransis, mereka segera menunduk ketika bertemu mata dengannya, ia kembali melihat pada Fransis.

"Selama ini mereka tinggal dimana?"

Fransis bangkit dari tempat duduknya, bibirnya tersenyum dan berjalan beberapa langkah di depan Maulana.

"Leaf dan Tree, mereka dulu adalah anak buahmu. Mereka kerja apapun demi mencari mu, tapi  mereka tidak tahu kalau kamu ganti nama." Fransis mulai menjelaskan tentang anak buahnya.

Maulana menoleh pada Leaf dan Tree, ia mengangguk meski tidak begitu mengingat mereka lagi, dulu anak buahnya lebih dari 1000, itu juga tidak di satu negara.

"Yang lain?" Maulana kembali bertanya.

Fransis nyengir mendengar pertanyaan nada kesal dari Maulana."Mereka semua ingin menjadi anak buah God demonds. Aku sudah melatih dan mengajari mereka, tenang saja, aku tidak mengajarkan pada mereka tentang dunia gelap kita dulu."

Fransis segera menjelaskan sebelum Maulana mengusirnya.

Suami Terbaik 2 Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang