Dalam perjalanan, Maulana mengemudikan motor dengan hati-hati, berusaha menahan sakit di perutnya yang masih terasa nyeri. Tangan kanannya menggenggam stang kemudi dengan erat, sementara tangan kirinya memegang perutnya untuk mengurangi rasa sakit. Pandangannya fokus ke jalan di depan, tapi matanya sedikit berkunang-kunang karena sakit.
Setiap kali motor melewati jalan yang tidak rata, Maulana merasakan sakit yang menusuk di perutnya. Ia menggigit bibirnya untuk menahan erangan, tapi keringat dingin mulai membasahi dahinya. Meskipun sakit, Maulana tetap mengemudikan motor dengan stabil, berusaha untuk tidak memperlihatkan kelemahan.
Motor itu melaju dengan kecepatan yang stabil, tapi Maulana bisa merasakan setiap guncangan dan getaran yang memperparah sakit di perutnya. Pria itu berharap bisa segera tiba di tujuan dan mendapatkan bantuan yang dibutuhkan.
"Kenapa Pak Ivan tidak menuju arah lapangan?" Antonio memperhatikan Maulana dari belakang, perhatian pria itu tertuju pada tangan kiri Maulana yang memegangi perutnya.
Antonio curiga kalau penyakit Maulana kambuh, tapi kalau baru kambuh, pria itu tidak akan terlihat selemah itu, mungkinkah tadi saat di sekolah? Dan alasan Maulana masih di UKS karena itu?
"Kenapa Pak Ivan tidak jujur si? Misalnya tadi dia sakit kan aku bisa membantunya? Gitu tadi aku bonceng juga tidak mau, sebenarnya Pak Ivan ini orangnya seperti apa?" Antonio bicara dengan nada frustasi bercampur keheranan, ia ingin membantu Gurunya itu, kalau bisa menjadi tempat bersandar atau bercerita seperti dirinya menjadikan Maulana tempat cerita.
Maulana menurunkan kecepatan motor sportnya saat mendekati rumah, lalu dengan hati-hati ia mengarahkan motor ke tempat parkir. Walaupun rasa sakit di perutnya mulai mengganggu, dirinya berusaha untuk tidak menunjukkannya dan memarkirkan motor dengan gerakan yang stabil. Setelah motornya terparkir dengan baik, Maulana mematikan mesin dan menghela napas, berusaha untuk mengurangi rasa sakit yang semakin intens. Ia lalu turun dari motor, menahan sakit di perutnya, dan berjalan menuju rumah.
Antonio mengikuti apa yang dilakukan Wali Kelasnya itu, tanpa bicara, pria itu mengikuti langkah kaki Maulana hingga mereka sampai di halaman rumah.
Saat Maulana memasuki halaman rumah, langkahnya sedikit lebih lambat dari biasanya. Napasnya masih terasa berat, dan nyeri di perutnya belum sepenuhnya mereda. Namun, sebelum sempat menarik napas dalam untuk meredakan ketidaknyamanan, suara langkah cepat terdengar dari dalam rumah, Fira berlari ke arahnya, senyumnya lebar, matanya berbinar penuh kebahagiaan.
Tanpa ragu, Fira melompat ke dalam pelukannya, seperti yang selalu dilakukan. Tubuhnya yang ringan seolah melayang, dan dalam sekejap, lengannya melingkari leher Maulana, penuh dengan kehangatan yang biasa di bawa. Tapi kali ini, Maulana merasakan sesuatu yang berbeda.
Tubuhnya refleks menangkap Fira, seperti kebiasaan yang sudah melekat selama ini, namun gelombang nyeri langsung menghantamnya keras. Seolah ada arus listrik yang menyalak dari perutnya, menjalar ke seluruh tubuh.
Rahangnya mengencang, napasnya tercekat, dan untuk sesaat, dunia terasa berputar lebih cepat dari yang di harapkan. Tapi di antara semua itu, ia tetap menahan Fira erat dalam pelukannya, tak ingin mengecewakan momen bahagia yang terpancar dari wajah Istrinya.
Keringat mengalir di pelipisnya, dan sesaat harus mengatur keseimbangan agar tidak terjatuh. Tapi di balik rasa sakit yang menghantamnya tanpa ampun, ada sesuatu yang membuatnya bertahan, kehangatan Fira, tawa kecilnya, cara pria itu mendekapnya dengan penuh kasih. Ada kebahagiaan di sana, sesuatu yang mengalahkan nyeri yang merongrong tubuhnya.
Maulana menarik napas dalam, mencoba mengendalikan gemuruh di dalam dirinya, lalu dengan suara yang sedikit berat ia berkata, "Sayang, kamu menunggu Mas ya?"
Dan di saat itu, meski tubuhnya masih dipenuhi rasa sakit, ada kebahagiaan kecil yang membuat semuanya terasa lebih ringan. Bahkan ketika nyeri itu masih ada, ia menemukan kekuatan dalam pelukan seseorang yang paling di cintai.
Maulana menyesuaikan pijakannya sebelum melangkah, memastikan keseimbangan tubuhnya tetap terjaga saat membawa Fira masuk ke dalam rumah.
Setiap langkahnya terasa seperti ujian, nyeri di perutnya seolah mencengkeram lebih kuat, tapi ia berusaha tidak menunjukkan tanda-tanda kelemahan.
Fira masih menggelayut di bahunya, tertawa kecil, jari-jari tangannya bermain di kerah kemeja Maulana tanpa menyadari betapa sulitnya menahan diri agar tidak meringis.
Setelah melewati ambang pintu, udara di dalam rumah terasa jauh lebih sejuk dibandingkan panasnya terik di luar. Maulana menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan ketegangan di tubuhnya.
Ia melangkah perlahan menuju sofa di ruang tamu, berusaha menjaga posturnya tetap tegak. Saat sampai di depan sofa, dengan hati-hati ia menurunkan Fira, melepaskan pelukannya dengan perlahan agar tidak terlalu membebani tubuhnya yang masih terasa lemah.
Begitu tubuh Fira menyentuh permukaan sofa, gadis itu langsung mengayunkan kakinya riang, matanya berbinar melihat Maulana. "Mas baru pulang, ya?" tanyanya, masih penuh semangat tanpa menyadari ketegangan di wajah Maulana yang berusaha ditutupi.
Maulana hanya tersenyum tipis, lalu menegakkan tubuhnya sambil mengusap peluh di pelipis. "Iya, Mas mau ganti baju dan sholat dulu. Setelah itu mau ke lapangan bersama Antonio ," ujarnya pelan, suaranya sedikit berat.
Maulana mendudukkan diri di sofa, ikut bersandar di sofa, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam permukaan lembut yang memberikan sedikit kelegaan, meskipun nyeri masih membara di dalam.
Fira, tanpa menyadari keadaan Maulana, langsung bergerak spontan. Dengan gerakan cepat, bersandar ke sisi kanan Maulana, tubuhnya menekan tanpa perhitungan, sementara jemarinya sibuk menjelajahi layar ponsel.
Dentuman kecil terasa di tubuh Maulana, beban Fira yang tiba-tiba menyentuh bagian sampingnya seperti hentakan yang tak terduga. Tarikan halus muncul di sudut bibirnya, hampir tidak kentara, sementara matanya berkedip sedikit lebih lambat dari biasanya, seakan berusaha menahan impuls nyeri yang menyengat di dalam. Napasnya tertahan sesaat, sebelum akhirnya keluar dengan keheningan yang nyaris tidak terdengar. Dadanya naik sedikit lebih pelan, menyusun ritme yang terkendali untuk mengabaikan rasa sakit yang semakin terdesak oleh tekanan tubuh Fira.
Otot-otot di lengannya menegang sejenak, refleks dari tubuh yang berusaha menyesuaikan tanpa benar-benar ingin bergerak. Jika dirinya berpindah, bisa jadi justru membuat Fira menyadari sesuatu yang tidak ingin di ungkapkan. Maka ia memilih diam, membiarkan denyutan di perutnya tetap bersemayam, berharap bahwa dalam beberapa menit, efek injeksi yang diberikan Fransis akan mulai meredakan gejolak ini.
Ruangan terasa biasa saja, hanya ada suara ketukan jemari Fira di layar ponselnya, beberapa detik sekali terdengar suara pemberitahuan, tapi di dalam tubuh Maulana, ada perang kecil yang sedang berlangsung. Antara ingin menyesuaikan posisi, atau tetap diam dan menahan. Satu sisi wajahnya meredup sedikit ketidaknyamanan yang tidak ingin terbaca terlalu jelas, tapi tak sepenuhnya bisa disembunyikan.
Melihat betapa ceroboh Fira hingga membuat Maulana terlihat tidak nyaman, Antonio berjalan mendekati gadis itu."Fir, bisakah kamu pindah posisi?"
Fira mengangkat pandangan ke arah Antonio, menatapnya penuh tanda tanya.
"Ada yang ingin ku bicarakan dengan Pak Ivan." Antonio tidak jujur, ia hanya tidak ingin melihat Maulana merasa tidak nyaman.
Antonio tidak menyalahkan Fira, gadis itu memang terbiasa manja dan seenaknya, tapi sekarang, dalam pandangan mata Antonio, Maulana sedang sakit dan itu karena penyakit sirosis hati akibat virus aneh bukan karena hepatitis, namun virus buatan manusia yang pernah disuntikan ke dalam tubuhnya dan sekarang sudah parah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
Roman d'amourDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
