Episode 111(121)

20 3 0
                                        

Fira duduk di salah satu meja kantin, kepalanya masih tertunduk memikirkan soal matematika miliknya, ia mengangkat tangan menutupi wajahnya sendiri, rasanya sangat memalukan jika Rangga sampai menunjukkan pada Maulana.

Fira tidak dapat membayangkan bila seorang Ivan Maulana Rizky yang memiliki otak cerdas bahkan bisa mendirikan perusahaan sendiri, juga menjadi seorang Guru SMA lalu memiliki seorang Istri tidak pandai pelajaran Matematika.

Fira menggelengkan kepalanya kuat, jantungnya masih berdebar kencang, ia langsung bangkit dari tempat duduknya, menyingkirkan tangan dari wajah.

Otak Fira terus berputar tentang lembar soal matematika, ia memutar tubuh hendak berjalan keluar namun diurungkan dan kembali duduk.

"Kamu kenapa, Sayangku, Cinta ku yang paling cantik?" Antonio merasa heran dengan Fira, ia dari tadi memperhatikan gadis itu dari meja kantin.

Fira terkejut, ia menoleh pada Antonio kemudian kembali berdiri dan berjalan mendekati Antonio, gadis itu duduk di depan Antonio.

"An, aku ..." Fira ragu untuk mengatakannya.

Antonio menatap Fira penasaran."Kamu kenapa?"

Fira menghela nafas."Aku khawatir kalau Pak Rangga menunjukkan soal matematika ku pada Mas Ivan."

Antonio menghela nafas lega."Kirain apa, Fir. Biarin aja keles, ngapain juga kamu pikirin." Ia kembali mengaduk mie Ayam miliknya.

"Tapi ..." Fira masih sangat khawatir.

"Udalah, nggak usah dipikirin. Pesan makan aja, biar nggak lapar." Antonio menyumpit mie Ayam lalu memasukkan ke dalam mulut.

Fira masih diam dengan ekspresi panik, Antonio menggelengkan kepala melihat sikap gadis itu."Nggak baik terlalu memikirkan sesuatu, Pak Ivan kan Suamimu, jadi nggak apa dong kalau Pak Ivan tahu kemampuanmu."

Fira mengangguk, apa yang dikatakan Antonio memang benar, tapi tetap saja hatinya merasa sangat khawatir dan malu sendiri.

***

Maulana menyerahkan kembali lembar soal matematika pada Rangga kemudian bangkit dari tempat duduknya."Sudah saya berikan koreksi pada jawaban yang salah itu, Pak Rangga."

Rangga mengangkat kepala, tersenyum dengan rasa terimakasih pada Maulana."Terimakasih, Pak Ivan. Tapi ..." Ia memperhatikan wajah Maulana semakin pucat.

"Pak Ivan mau kembali ke rumah sakit?"

"Tidak, Pak Rangga. Saya ke ruang kesehatan saja, mau istirahat di sana." Maulana menjawab dengan sedikit lemah.

Rangga mengangguk."Baik, hati-hati Pak Ivan."

Maulana mengangguk sedikit, setelah itu melangkahkan kaki menuju pintu, ia hampir jatuh saat namun segera berpegangan pada dinding.

Di depan pintu, Sui masih berdiri menunggu Maulana, ia langsung menghampiri pria itu dan membantunya berdiri tegak saat melihat sahabatnya itu hampir terjatuh.

「ジョン、大丈夫ですか?」( Jhon, kamu baik-baik saja?" Sui memapah Maulana, wajah pria itu sangat pucat dan berkeringat di keningnya.

Maulana mengangkat pandangan menatap Sui."「大丈夫だよ、ちょっと弱いだけだよ」("Tidak apa, hanya sedikit lemas saja)."

Sui mengangguk."「わかったわ」とフランシスは言った。「保健室に連れて行かなきゃ。フランシスがそこで待ってるわ。」(" Ok, Fransis bilang, aku harus membawamu ke ruang kesehatan. Fransis menunggu di sana)"

Maulana mengangguk."Hn."

Rangga selesai merapikan soal matematika kelas 3F, ia bangkit dari tempat duduknya lalu keluar dari kelas.

Waktu menunjukkan pukul 10:30, jam istirahat telah berakhir, bel berbunyi tanda masuk kelas.

Setelah menyelesaikan suapan terakhir, Fira dan Antonio bangkit dari tempat duduknya."Aku traktir kamu, Fir."

"Ha?" Fira sedikit terkejut, sikap Antonio terhadapnya seperti seorang kekasih namun dirinya punya seorang Suami dan sangat mencintai Suaminya, rasanya sangat tidak enak hati.

"Sudalah, tidak apa-apa." Antonio segera mengeluarkan uang 100 ribu dari saku kemejanya lalu berjalan ke pemilik kantin untuk membayar.

Antonio kembali mendekati Fira."Ayo kembali ke kelas." Ia meraih tangan Fira lalu menggandengnya. Dalam hati Antonio sangat senang karena bisa dekat dengan gadis pujaan hatinya, ini pertama kali dirinya sungguh jatuh cinta, hanya saja pada Istri orang.

Dari kantin untuk menuju kelas 3F harus melewati depan kelas 3A, di depan kelas 3A terlihat Kevin bersama dua orang temannya berdiri sambil bersedekap dada, tatapannya dingin ke arah Antonio.

Antonio dan Fira berhenti di depan mereka, Fira menatap Kevin heran, anak seorang Mafia bisa sekolah di SMA Dirgantara, itu yang ia dengar dari rumor yang beredar.

"Mau apa?!" Antonio bertanya dengan malas.

Kevin maju selangkah."Kamu sudah melihat berita di TV?"

Antonio tersenyum mengejek."Kamu memblokir jalan hanya untuk menanyakan ini?"

"Bukan, aku hanya ingin memberi peringatan pada kalian. Jika kamu berani macam-macam denganku, akan ku buat seperti dalam berita di TV itu." Kevin berkata dengan penuh ancaman.

"Di atas langit masih ada langit, Mas Kevin. Mas Kevin jangan terlalu sombong, lagi pula ini adalah negara hukum, jika Mas Kevin ingin mencelakai seseorang, pasti akan kena hukum polisi." Dengan polos dan lugu Fira bicara.

Kevin mengalihkan perhatian pada Fira."Kamu jangan banyak bicara, jika bukan karena kamu adalah Istri dari Pak Ivan, aku pasti akan menghamili mu."

"Siapa yang berani ingin menghamili wanita Ketua?!" Sui berjalan dengan dingin mendekati Kevin, meski ia tidak selancar orang Indonesia asli dalam berbahasa Indonesia, namun dirinya tahu dan bisa diajak bicara Bahasa Indonesia.

Fira dan Antonio mengalihkan perhatian pada sosok pria berambut hijau itu, Antonio memandang Sui dengan penuh tanda tanya.

Sui menoleh pada Fira."Nona, silahkan Anda dan teman Anda pergi ke kelas. Saya yang akan mengurus anak ini."

Fira mengangguk, ia meraih tangan Antonio dan menyeretnya pergi, dirinya merasa takut setiap kali di dekat Sui.

"Fir, dia siapa?" Antonio bertanya sambil berjalan ditarik Fira.

"Jangan dekati Paman itu, dia dingin dan susah diajak becanda." Fira menjawab sambil terus menarik tangan Antonio.

Sui menatap Kevin dingin, ia mengangkat tangan menampar wajah Kevin dengan keras."Berani menghina Istri Ketua sama saja dengan menghina Ketua, siapapun yang berani menghina Ketua, harus ma-."

"Hijau!" Ucapan Sui terpotong dengan suara Fransis memanggil dirinya dengan sesuai warna rambutnya yaitu warna hijau.

Sui mengangkat kepala memandang Fransis yang berada di lantai 3."Jangan main pukul anak orang!" Fransis segera berlari menuruni tangga, Sui masih asli dan menjadi ketua salah Yakuza di Jepang, kalau tidak segera dihentikan kemungkinan akan membuat nyawa Kevin melayang.

"Kevin, kamu pergi ke UKS, Pak Fransis obati lukamu. Sekalian kamu introspeksi diri, jangan sampai bicara seperti itu lagi pada Fira." Fransis membantu Kevin bangun dari posisi terjatuhnya, tamparan Sui sangat kuat hingga membuat anak 17 tahun terjatuh.

Kevin masih syok, tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar dan dingin meski Ayahnya berada di dunia hitam namun berselimut putih.

Kedua teman Kevin membantu Kevin berjala menuju UKS di lantai 3.

Suami Terbaik 2 Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang