Episode 113

16 2 0
                                        

"Kalian para Guru memperlakukan kami kelas 3F dengan sebelah mata! Apa karena kami beda! Lihatlah dia..." Antonio menunjuk Mita menggunakan jari telunjuk tanpa menoleh.

"Usia 17 tahun tapi sudah jadi Janda, tidak boleh sekolah karena keadaan ekonomi keluarga dan terpaksa menikah dengan orang yang lebih tua." Antonio bicara dengan penuh emosi.

"Kalian setuju mendirikan kelas 3F untuk menyelamatkan anak-anak yang putus sekolah akibat keadaan yang memaksa! Tapi kalian juga yang memperlakukan kami seperti anak tiri!"

Edo memalingkan muka, kedua tangannya berpegangan pada dinding, jantung berdebar melihat kemarahan Antonio, ia bahkan tidak memiliki kesempatan untuk bicara.

"Kalian berfikir kami anak berandalan, tapi lupa kalau si Kevin kelas 3A itu tidak lebih baik dari ku!" Antonio menggebrak meja membuat seluruh isi kelas terkejut.

"Sudah selesai marah-marah?" Maulana berdiri di depan pintu kelas, menyenderkan tubuh pada daun pintu, tatapan mata safir ke arah Antonio.

Tubuh Antonio menegang, ia memejamkan matanya mengatur emosi, setelah menoleh pada Maulana dengan bibir tersenyum manis.

"Hehehe." Antonio menggaruk kepalanya yang tidak gatal."Kenapa Pak Ivan bisa datang si?" batinnya kesal, kalau ada Maulana, ia tidak bisa melampiaskan amarahnya.

Maulana menghela nafas, ia menegakkan kembali tubuhnya lalu berjalan mendekati Antonio, bibir tersenyum manis dan tangan bergerak menyentuh telinga Antonio setelah itu menariknya.

"Akh... Sakit!" Antonio berteriak kesakitan.

"Apakah kamu lupa apa yang tadi Bapak katakan?" Maulana terus bicara tanpa memperdulikan teriakan Antonio.

"Tidak, Pak. Saya ingat, tidak boleh tidak menghargai Guru. Tidak boleh ribut di dalam kelas, tidak boleh bersikap tidak sopan pada Guru. Sakit, Pak!" Antonio memegangi tangan Maulana, berusaha melepaskan tangan pria itu di telinganya namun gagal.

Maulana melepaskan telinga Antonio."Apa yang tadi kamu lakukan?" Maulana bicara dengan santai.

Tidak ada jawaban dari Antonio, ia sibuk mengelus telinganya.

"Jika kamu merasa keberatan dengan sikap Gurumu, kamu bisa bicara baik-baik, tidak perlu mengeluarkan sikap preman kamu di dalam kelas." Maulana kembali bicara. Pandangan Maulana beralih pada seluruh murid.

"Karena kalian tidak mendengarkan dan tidak mematuhi peraturan dari Bapak, sekarang kalian semua keluar dari kelas lalu lari 10 kali putaran!" Maulana menyeringai dingin saat bicara.

10 putaran halaman tidak terlalu berat, namun tetap melelahkan karena halaman SMA Dirgantara tidak terlalu besar namun juga tidak kecil.

"Pak, saya tidak ikutan." Naira angkat tangan, ia tidak bisa membayangkan dirinya harus lari 10 putaran di halaman sekolah.

Maulana mengalihkan perhatian pada Naira."Apakah kamu ingin nanti malam ke rumah Bapak?"

Mata Naira langsung berseri-seri."Iya, Pak."

"Untuk menulis surat An-nisa." Maulana menyelesaikan kalimatnya.

Ekspresi Naira berubah seperti ingin menangis."Ya jangan dong, Pak."

"Jadi sekarang kalian keluar dari kelas  dan lari 10 putaran di halaman!" Maulana bicara dengan nada lebih keras dan tegas.

Dengan berat hati, seluruh murid kelas 3F keluar dari kelas lalu mulai berlari mengelilingi lapangan.

Maulana memperhatikan sang Istri, sebenarnya ia tidak tega namun tetap harus bersikap adil dalam menentukan hukuman.

Dalam satu kelas itu semua seperti keluarga, jika ada yang berbuat salah maka harus ada yang mengingatkan bukan malah kerja sama dalam bersikap kurang ajar terhadap seorang Guru.

Sebagai seorang murid harus punya tatakrama dan sopan santun pada Guru, jika seorang Guru melakukan kesalahan, murid boleh mengingatkan namun tetap harus mengutamakan akhlak.

Maulana berdiri sambil bersedekap dada di depan kelas 3F, pandangan mata tidak sedikitpun beralih dari Fira, gadis itu terlihat bersemangat dan bahagia, ia yakin dulu pernah jadi juara lomba lari.

"Pak Ivan." Edo berdiri di samping Maulana.

Maulana mengalihkan perhatian pada Edo."Ya, Pak Edo."

"Saya dengar Pak Ivan sakit, kenapa Bapak bisa ke sini?" Edo penasaran.

"Saya tidak tega melihat murid-murid saya, mereka butuh bimbingan." Maulana kembali mengalihkan perhatian pada murid-muridnya, bibirnya tersenyum melihat Antonio masih sempat bertengkar dengan Andrian.

Pandangan Edo berubah sendu, ia merasa bersalah sendiri, apa yang dikatakan Antonio ada benarnya.

Murid kelas 3F sejak dulu adalah murid khusus, bukan karena kenakalan atau kurang cerdas, namun karena kenyataan pahit yang harus mereka terima hingga tidak mampu bersekolah.

Ada yang terpaksa menikah demi memenuhi kebutuhan hidup, ada pula dinodai oleh laki-laki bejat dan harus putus sekolah, ada juga harus menggantikan saudaranya menikah sedang usianya masih SMA.

Yusuf sebagai Kelapa sekolah merasa iba dengan penderitaan mereka, karena itu ia membuat kelas khusus untuk siswa seperti itu, namun setahun belakangan ini sejak Antonio masuk sekolah, para Guru kewalahan.

Antonio mempengaruhi kelas 3F untuk bersikap kurang ajar, saat mendapatkan hukuman justru Gurunya dibuat masuk rumah sakit, ada juga yang terkena gangguan mental.

Yusuf bingung dan frustasi, ia meminta Maulana menjadi pengajar karena tahu bahwa kekuatan dan Maulana juga memiliki kekuasaan hingga tidak akan ada yang bisa mengancamnya.

Antonio semakin liar saat para Guru memperlakukan murid kelas 3F berbeda, dipandang hina dan rendah, namun setelah Maulana datang, kelas 3F mulai berangsur membaik.

Edo merasa tersindir dengan ucapan Maulana, seorang yang sedang sakit harus datang untuk para murid karena rasa tidak tega, suatu tanggung jawab yang besar dan tidak bisa diwakilkan pada yang lain.

"Pak Ivan, Bapak terlalu khawatir. Di sini banyak para Guru, Bapak sendiri yang mengatakan bahwa murid kelas 3F bukan hanya anak-anak Bapak, tapi anak semua Guru di sini."

Maulana tersenyum miring."Kenyataannya Bapak sendiri terpojok mengatasi Antonio, Pak Rangga harus telpon saya karena tidak sanggup mengatasi murid kelas 3F." Maulana menoleh pada Edo.

Edo menghela nafas."Kalau begitu harus bagaimana, Pak? Bapak pasti juga mendengar dari Pak Yusuf dan Guru yang lain bagaimana kelakuan Wali Murid kelas 3F itu. Anaknya dihukum, orang tua tidak terima. Tapi saat Bapak yang menghukum, tidak ada yang berani protes."

Edo frustasi sendiri, ia juga merasa heran dengan para Wali Murid, bedanya apa dengan semua para Guru?

Maulana terkekeh sendiri."Sudalah, Pak. Bapak tenang saja, semua akan baik-baik saja."

"Saya berharap begitu." Edo mengalihkan perhatian pada para murid. Satu persatu mereka kembali masuk ke dalam kelas setelah menjalankan hukuman, ada yang langsung duduk selonjor di lantai, ada juga yang rebahan di atas meja.

Maulana masuk ke dalam kelas, menatap mereka lucu."Apakah lelah?"

"Iya lah, Pak." Antonio duduk menyender di bangku."Capek, Bapak si kejam sekali."

Maulana berjalan mendekati Antonio."Nanti malam Bapak terakir kamu makan di rumah."

Antonio langsung menegakkan tubuhnya, matanya berbinar mendengar ucapan Maulana."Saya boleh tidur juga dengan Fira?"

Maulana mendengus."Katakan lagi!"

Antonio nyengir dan meralat."Tidak jadi, Pak."

Suami Terbaik 2 Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang