Waktu menunjukkan pukul 15:00, kelopak mata perlahan terbuka menunjukkan netra safir, suara dering ponsel membangunkan dirinya dari mimpi indah setelah bercinta dengan sang Istri.
Kelopak mata itu turun memperhatikan sosok gadis cantik yang masih tertidur dalam pelukannya, ia tersenyum lembut lalu mengecup pelan puncak kepala Istrinya.
Perlahan Maulana memindahkan kepala sang Istri dari lengannya ke bantal, kemudian merubah posisi menjadi duduk di tepi ranjang.
Maulana menggerakkan tangan meraih ponsel yang terletak di meja kecil sampai tempat tidur, terlihat nama Ayah tertampil di layar ponsel.
Maulana menjawab sambungan telpon tersebut."Assalamualaikum, Ayah."
"Van, kenapa kamu tidak kembali ke rumah?" Mizuruky Sinya duduk dengan kaki diletakkan di atas meja kerja, di tangannya terdapat puntung rokok yang masih menyala.
Maulana melirik sang Istri, ia menghela nafas mendengar pertanyaan Sinya, apakah pria itu lupa seminggu yang lalu telah melecehkan Fira?
Sebagai seorang anak dirinya tidak akan melawan, namun sebagai seorang Suami, dirinya harus melindungi sang Istri, Sinya dan Fira tidak bisa tinggal dalam satu atap.
"Van, Ayah sudah bilang, Ayah tidak ada niat apapun pada Istri mu. Kenapa kamu lebih memilih wanita yang baru kamu kenal dalam beberapa minggu dibandingkan Ayahmu ini?"
"Ayah, Meski aku dan Fira baru mengenal beberapa minggu, tepatnya 3 Minggu. Tapi Fira tidak pernah berkhianat padaku, dia setia dan selalu jujur padaku. Sebaliknya Ayah dan Ibu, apakah kalian menyembunyikan sesuatu dari ku?" Maulana mengingat kembali ucapan Carlos Santana tentang sebutan Ayah yang pria itu katakan padanya.
Maulana belum bertanya pada Catherine, dirinya akan membahas ini bertiga bersama Sinya.
Mizuruky Sinya menurunkan kakinya dan menegakkan tubuhnya, ia mematikan batang rokoknya di atas asbak.
Terkejut dan curiga kalau Maulana telah bertemu dengan Carlos Santana dan Santana mengatakan hubungan biologis antara mereka.
Tubuh Sinya menegang, suara tercekat di tenggorokan."Van, apa yang kamu bicarakan? Ayah selalu jujur padamu, bahkan keburukan Ayah saja kamu tahu."
Maulana mengusap wajah kasar kemudian menjawab,"Nanti malam aku akan ke mansion Mizuruky bersama Ibu, aku mau mandi dulu."
Dahi Sinya semakin berkerut curiga."Apa yang kamu lakukan dengan Fira?"
"Apa yang aku lakukan dengan Istri ku? Kenapa Ayah ingin tahu?" Maulana tidak habis pikir dengan Sinya, pria tua itu sepertinya sedang mencurigai dirinya.
"Maksud Ayah, kamu jangan melakukan hal yang menyakiti Fira. Dia masih kecil, jangan sampai dia hamil." Sinya berkata dengan menurunkan nadanya, tangannya mengepal menahan gejolak dalam dada.
Perlahan kelopak mata kecoklatan terbuka, ia bergeser mendekat pada sang Suami dan memeluk pinggang pria itu dari belakang.
"Kenapa Istri ku tidak boleh hamil, Ayah?! Ayah jangan berfikir macam-macam lagi!" Maulana menutup panggilan telefon dengan kesal, ia mengatur nafas untuk meredakan amarahnya setelah itu menurunkan pandangan menatap lengan kecil yang ada di perutnya.
Maulana tersenyum lalu menggenggam lengan mungil itu dengan lembut, Maulana memutar tubuh menoleh pada sang Istri."Sayang, kamu sudah bangun."
"Hmm, aku terbangun mendengar Mas marah-marah. Mas bertengkar dengan Ayah?" Perlahan Fira duduk lalu menaruh kepala di bahu sang Suami.
"Tidak, Sayang. Mas hanya memberi pengertian saja pada Ayah, Mas tidak ingin kamu diperlakukan tidak baik lagi oleh Ayah," jawab Maulana dengan lembut.
Fira merasa tersentuh dengan ucapan sang Suami, ia mengangkat kepalanya lalu menatap paras tampan berkulit putih di depannya.
"Apakah Mas sedang membelaku?"
Maulana bangkit dari tempat duduknya, memutar tubuh menatap sang Istri yang masih duduk di atas tempat tidur dengan mata masih ngantuk.
"Ayo berdiri, Mas gendong kamu ke kamar mandi."
Fira mengangguk, ia pun berdiri dan berjalan ke tepi ranjang kemudian mengulurkan ke arah tangan pada sang Suami.
Maulana mengulurkan tangan meraih tubuh mungil tersebut, menggendongnya seperti seorang balita.
"Kamu adalah Istri Mas, kamu kehormatan Mas juga, Mas tidak akan membiarkan siapapun menyakiti mu sekali pun itu orang tua Mas sendiri." Maulana melangkahkan kaki menuju kamar mandi.
"Tapi seorang anak harus berbakti terhadap orang tua, Mas. Seorang Suami bahkan tidak bersedia membela Istrinya di hadapan Ibunya." Fira memeluk leher sang Suami dan menaruh kepala di dekat leher Suaminya.
"Ya memang tidak perlu, Sayang. Kalau seorang Istri bersikap tidak sopan terhadap Ibu dari Suami, seorang Suami harus menasehati Istrinya dengan baik dan sabar juga menggunakan kalimat yang baik, hingga tidak akan menyakiti hati Istri itu." Maulana mengulurkan tangan menggeser pintu kamar mandi lalu menutupnya kembali.
"Itu juga tidak perlu dilakukan di depan Ibu dari pihak laki-laki, begitu juga sebaliknya. Jika Ibu dari pihak laki-laki menyakiti hati atau fisik seorang Istri, maka sebagai Suami tetap harus melindungi Istrinya tanpa harus menyakiti hati si Ibu. Seorang Suami bisa memberi pengertian pada Ibunya dengan mengutamakan rasa hormat sebagai seorang anak, ingatlah bahwa Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi dan harus bersikap adil antara keduanya, tidak boleh menyakiti salah satu dari dua wanita itu."
Maulana meletakkan tubuh sang Istri dengan lembut di bak mandi berukuran besar.
Maulana ikut masuk ke bak mandi, menyandarkan tubuhnya di bak."Kita berendam sebentar, Sayang."
***
Leaf, Tree, Fransis dan anak buah Fransis duduk di ruang kerja Maulana menunggu kehadiran pemiliknya.
Fransis melirik jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 15:15 menit, ia menghela nafas karena bosan menunggu.
Fransis menoleh pada Tree, wanita itu terlihat serius dengan ponselnya."Tree."
Tree mendongakkan kepala mengalihkan perhatian pada Fransis."Bos."
"Kamu pergi ke kamar Ketua, panggil dia!" Fransis memerintah dengan nada jengkel.
"Baik." Tree bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan keluar melewati beberapa kursi.
***
Fira berdiri di depan lemari baju mengambil busana muslim warna biru dengan hiasan manik-manik di bagian dada, ia sangat suka semua baju -baju pemberian Maulana.
"Mas, aku ambilkan baju untuk Mas juga ya?" Fira menoleh pada sang Suami, Maulana berdiri dengan handuk masih melilit pinggang.
Maulana mengangguk."Kamu pakai saja busana dulu."
Fira mengangguk, ia pun segera mengganti baju mandi dengan busana muslim yang baru diambil dari lemari pakaian khusus miliknya.
Tok...
Tok...
Tok...
Maulana menoleh ke arah pintu, kemudian berjalan ke arah pintu. Ia mengangkat tangan memutar kenop pintu, terlihat Tree berdiri di depan pintu kamarnya.
Tree terdiam dengan pandangan terpesona melihat tubuh telanjang dada Maulana, kulit putih mulus dengan dada bidangnya, otot-otot perut membentuk 8 persegi, rasanya sangat ingin menyentuh tubuh tinggi tegap di depannya.
"Jagalah pandangan matamu! Kalau kamu masih terus menatapku dengan pandangan seperti itu, aku akan mencongkel matamu." Maulana tidak suka ada yang menatap tubuhnya dengan tatapan mesum selain Istrinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
RomansaDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
