Tree menundukkan kepala dengan rasa takut, tapi tidak dapat dipungkiri ini pertama kali dirinya melihat tubuh putih mulus dan berotot di depannya, senang dan tidak tahan ingin menyentuh.
Namun semua itu tidak mungkin dilakukan karena nyawa jadi taruhan."Ketua, Bos menunggu Ketua di ruang kerja Ketua."
Maulana mengangguk."Katakan pada Fransis, aku akan kesana setelah sholat Asar."
"Baik, Ketua." Tree tidak segera pergi, dalam hati sangat ingin mengangkat pandangan menatap tubuh Maulana lagi.
Maulana menghela nafas, ia pun menggerakkan tangan menutup pintu kamarnya.
Tree mendesah kecewa, dengan berat hati dia memutar tubuh dan meninggalkan tempat itu.
Maulana berjalan mendekati sang Istri, gadis itu sudah mengenakan mukenah warna biru langit dengan renda cantik bermotif bunga.
"Aku sudah menyiapkan baju untuk Mas." Fira menunjuk pada setelan sarung dan baju taqwa biru di atas tempat tidur.
Maulana tersenyum lalu meraih baju yang telah disiapkan oleh sang Istri kemudian mengenakannya.
Maulana berjalan ke tengah kamar tempat sajadah merah sudah digelar oleh sang Istri saat persiapan sholat Asar.
Fira berdiri di belakang sang Suami, menatap punggung pria itu tidak percaya, mantan Mafia kejam bisa menjadi Imam sholat.
Namun ia juga tidak bisa pungkiri bahwa Umar Bin Khattab juga pernah melakukan perbuatan kejam dan hampir membunuh Nabi Muhammad tapi pada akhirnya beliau adalah sahabat Nabi yang paling membela Nabi.
Fira tidak bisa fokus dalam sholat, ia senyum-senyum sendiri membayangkan impiannya jadi kenyataan, punya Suami mantan Mafia tampan dan bucin.
Setelah salam, Maulana memutar tubuh menghadap Istri."Mau ngaji?"
Fira menggeleng."Tidak, tadi Mas sudah ditunggu oleh Mbak siapa tadi. Sepertinya dia sangat ingin meniduri Mas."
Ekspresi Fira berubah kesal, ia bahkan memalingkan muka enggan menatap paras tampan Suaminya.
Maulana tersenyum kecil."Tapi hanya kamu yang ingin Mas tiduri." Ia berkata sambil tersenyum.
Fira kesal tapi juga senang, ia berdiri lalu melepaskan mukenah dan melipatnya dengan rapi."Mas, aku boleh tidak jalan-jalan sama Nita?"
Fira menaruh mukenah di tempatnya lalu memutar tubuh berjalan mendekati Maulana, pria itu masih duduk bersila di tempatnya.
"Boleh, tapi kamu bawa supir ya? Mas khawatir ada yang mengganggu mu di tengah jalan." Maulana berdiri lalu mengambil sajadah merah miliknya dan melipat sajadah itu, ia berjalan ke lemari lalu menyampirkan sajadah tersenyum di gantungan baju, setelah itu melepas peci dan menaruhnya di almari bagian atas.
"Baiklah." Fira memutar tubuh mengikuti setiap gerakan sang Suami.
Maulana berjalan mendekati Fira, menatap gadis itu dengan seringai mesum."Apakah mau lagi?"
Fira mendengus sebal, pria itu sangat ahli menggoda."Mas, aku bahkan tadi sampai ketiduran karena lelah. Mas mesum sekali!"
Maulana terkekeh pelan."Baiklah, Mas minta maaf. Kamu bersiaplah, Mas akan minta Sui mengantar mu. Kebetulan dia dan Istrinya kemari."
Fira tidak tahu siapa Sui dan siapa Istri Sui, ia hanya tahu mereka adalah orang -orang Maulana.
"Aku terserah Mas saja."
Maulana tersenyum."Baiklah, Mas temui Fransis dan orang-orang Demon God dulu."
Fira mengangguk."Hati -hati, mereka sepertinya sangat bahaya."
Maulana tersenyum tipis, ia mengangguk kemudian berjalan keluar meninggalkan kamar.
Maulana tahu kalau anggota Demon God sangat berbahaya apalagi pimpinan mereka dan itu adalah dirinya, namun itu semua adalah masalalu.
Maulana berhenti sejenak di koridor, ia menggerakkan tangan berpegangan pada dinding, rasa nyeri kembali menghantam perutnya.
Maulana berusaha menenangkan diri, menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan.
"Van!"
Kelopak mata safir itu terangkat melihat sosok sahabat blonde berjalan ke arahnya, ia merasa sangat bersyukur Allah mengirimkan Fransis saat penyakitnya kambuh.
Fransis memapah tubuh Maulana, membantu pria itu berjalan dan duduk di salah satu sofa ruang.
"Kamu tidak minum obat dari ku?" Fransis mengeluarkan suntikan dari dalam saku jasnya.
Maulana memandang heran Fransis, pria itu kemana-mana selalu membawa suntikan yang telah berisi obat di dalamnya."Kenapa kemanapun kamu membawa suntikan itu?"
"Karena aku punya pasien brengsek, sudah tahu sakit tapi masih sok kuat." Fransis memberikan suntikan pada Maulana.
"Dengar ya! Aku akan mengikuti mu kemanapun kamu pergi, kecuali kamu membawa obat sendiri." Fransis masih belum berhenti mengomel.
Pria berambut blonde itu berdiri sambil bersedekap dada, matanya mendelik galak menatap Maulana.
"Jangan berlebihan, kenapa aku harus membawa obat kemanapun?" Maulana menghela nafas, ia menyandarkan punggung pada sofa, malas setiap kali mendapatkan omelan dari Fransis.
"Karena kamu orang sakit, Van! Aku setuju tidak memberitahukan penyakit mu pada keluarga mu karena ..." Fransis diam seketika saat melihat Fira berdiri tidak jauh darinya.
Maulana mengerutkan kening melihat ekspresi aneh Fransis, ia pun mengikuti arah pandang Fransis dan ikut terkejut melihat Fira berdiri mematung tidak jauh dari mereka.
Perlahan Maulana bangkit dari tempat duduknya, meski rasa nyeri belum sepenuhnya reda namun ia tidak ingin sang Istri tahu tentang kondisi fisiknya.
Maulana berjalan mendekati Fira, ia menghela nafas bersiap untuk berkata jujur dan meminta maaf.
"Mas, Kak Sean berkelahi! Mama telpon aku, Mama menangis melihat video yang dikirimkan nomer tidak jelas, Mas." Fira panik dan cemas, air matanya mengembung di pelupuk mata.
Maulana menarik sang Istri ke dalam pelukannya."Sayang, kamu tenang dulu. Kamu tunjukan video itu pada Mas, Mas akan suruh orang mencari keberadaan tempat Kakakmu."
Maulana menghela nafas lega karena ternyata Istrinya tidak mendengar ceramah rohani Fransis.
Fransis mendengus sebal melihat Fira, namun ia juga tidak bisa menyalahkan gadis itu karena Maulana sendiri yang tidak memberi tahu yang sebenarnya.
Maulana melepaskan pelukannya pada sang Istri, menggerakkan tangan menghapus sisa air mata di pipi Istrinya.
"Sudah, jangan menangis lagi. Mas sedih jika kamu menangis."
Fira mengangguk."Tapi Mas akan bantu Kak Sean kan?"
"Tentu saja, Sayang." Maulana sedikit membungkukkan tubuh, tangan kanan memegangi perutnya.
"Mas kenapa?" tanya Fira khawatir melihat Maulana kesakitan sambil memegangi perutnya.
Maulana kembali menegakkan tubuhnya dan tersenyum."Tidak apa-apa, Sayang. Nanti juga baikan sendiri."
"Mas yakin?" tanya Fira lebih serius.
"Iya, Istriku." Maulana meraih tangan sang Istri lalu menggenggamnya pelan."Sudah, ayo sekarang ke ruang kerja Mas. Mas akan melacak nomer ponsel itu dan keberadaan tempat itu."
"Memangnya Mas bisa?" tanya Fira tidak yakin.
"Tentu saja Suamimu ahlinya." Fransis berjalan mendekati Fira dan Maulana.
"Dulu dia tukang mencari keberadaan Pengkhianat atau musuh yang sembunyi, kemampuan Suamimu itu setara dengan agen rahasia negara."
Maulana menoleh pada Fransis."Jangan berlebihan, mana mungkin aku setara."
"Aku tidak berlebihan, aku hanya bicara fakta." Fransis kembali bicara dengan nada meyakinkan.
Fira tersenyum bangga dengan sang Suami, rupanya meski pria itu pernah menjadi Mafia namun Mafia kelas atas bukan geng motor, itu yang dipikirkan olehnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
RomanceDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
