Maulana membawa istrinya ke ruangan yang dipenuhi dengan komputer dan layar yang menampilkan berbagai informasi. Ruangan itu tampak seperti pusat komando yang canggih, dengan berbagai peralatan teknologi yang mutakhir. Istrinya terlihat sedikit takut dan penasaran saat melihat semua peralatan itu.
Maulana langsung menuju ke salah satu komputer dan mulai mengetik dengan cepat. Layar-layar di sekitarnya mulai menampilkan gambar-gambar CCTV dan data lainnya yang terkait dengan lokasi Sean. Maulana memantau layar-layar itu dengan seksama, mencari tanda-tanda keberadaan kakaknya.
"Mas, apa yang Mas lakukan?" tanya Fira dengan penasaran.
"Mas mencari Sean," jawab Maulana singkat, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. "Mas punya sistem pelacakan yang canggih di sini. Jika Sean ada di dalam jangkauan, Mas bisa menemukannya."
Maulana terus memantau layar-layar dan mengetik perintah-perintah baru ke komputer. Tiba-tiba, salah satu layar menampilkan gambar CCTV yang menunjukkan sosok yang mirip dengan Sean. Maulana langsung fokus pada layar itu dan mulai memperbesar gambar.
"Ya, Mas menemukannya!" seru Maulana dengan gembira. "Sean ada di lokasi itu. Mas akan pergi ke sana sekarang juga."
Istrinya terlihat lega dan khawatir pada saat yang sama. "Mas hati-hati," katanya. "Aku tidak ingin Mas terluka."
Maulana mengangguk dan langsung menuju ke pintu. "Mas akan kembali dengan Sean," katanya sebelum meninggalkan ruangan.
"Tunggu!" Fira berjalan mendekati sang Suami yang sudah berada di ambang pintu.
Maulana menghentikan langkah kakinya, menatap sang Istri dengan lembut."Kenapa?"
"Aku ikut." Fira menatap Maulana dengan tatapan memohon.
"Jangan sembarangan! Kamu wanita lemah yang manja mau ikut menyelamatkan Kakakmu, kamu lihat bukan di layar tadi? Kakakmu diikat dalam sebuah ruangan, bagaimana kalau ada penjahat di sana." Fransis berseru sambil menyiapkan senjata api miliknya, setelah itu menyelipkan senjata api itu di balik jasnya.
"Van."
Maulana mengalihkan perhatian pada Fransis, sebuah senjata api melayang dari tangan Fransis ke arahnya, dengan cepat dan tepat Maulana menangkap senjata api tersebut.
Fira terkejut melihat senjata api, ia merasa takut kalau senjata api itu mengenai dirinya.
Fransis menghela nafas panjang."Gitu saja takut." Ia berjalan mendekati Maulana.
Fira menoleh pada Fransis."Aku bukan kalian yang terbiasa dengan benda semacam itu."
Maulana memeriksa senjata api tersebut, ia tersenyum senang karena sudah disetel dengan baik oleh Fransis.
Maulana mengalihkan perhatian pada Fira, mengangkat tangan menyentuh puncak kepala sang Istri."Sayang, Mas akan berusaha menyelamatkan Sean. Kamu di sini saja bersama Tree dan yang lainnya."
"Tapi..." Fira ingin protes, namun diurungkan saat melirik Fransis dan mendapat pelototan dari pria berambut blonde itu.
"Percayalah, Sean akan baik-baik saja." Maulana kembali berkata dengan suara lembut dan lebih meyakinkan.
"Lagipula anak kecil, melihat tampilan di layar tadi, aku tidak yakin Sean diculik oleh preman kampung biasa. Bagaimana kalau Sean dibawa oleh anak buah Carlos Santana?" Fransis sedikit menunduk dan memiringkan kepala menatap Fira.
"Kamu tidak bisa berkelahi, takut pada senjata api, kalau kamu disana juga hanya akan jadi beban."
Fira menahan kekesalan mendengar dirinya dianggap beban, tapi apa yang dikatakan Fransis ada benarnya, hanya saja dirinya masih belum rela.
"Istriku, jika kamu merasa ingin ikut, Mas akan membawa mu ikut serta. Mas akan berusaha melindungi mu." Maulana bicara dengan lembut.
Fira merenung sejenak, ia mengangkat kelopak matanya menatap sang Suami."Aku ikut."
Maulana mengangguk sedangkan Fransis sangat kesal.
"Baiklah, Mas ganti baju dulu." Maulana menarik tangannya dari kepala sang Istri sebelum berbalik dan pergi meninggalkan tempat tersebut.
Fransis pergi ke ruang kerja Maulana sedangkan Fira duduk di ruangan itu sambil memperhatikan seorang pria yang diikat pada tiang dalam layar monitor, ia khawatir pada sosok itu meski sering membuat dirinya dan kedua orang tuanya jengkel.
"Kak Sean, sabar ya, sebentar lagi aku dan Mas Ivan akan menyelamatkan Kak Sean."
***
Maulana membuka pintu lemari pakaian, mengambil kemeja hitam serta jaket kulit hitam dan celana jeans serta kaca mata hitam.
Kacamata milik Maulana adalah kacamata hitam yang elegan dan futuristik, dengan desain yang ramping dan minimalis. Namun, di balik desain yang sederhana itu, kacamata ini dilengkapi dengan teknologi canggih yang memungkinkan Maulana untuk mendeteksi keberadaan musuh dan objek berbahaya.
Lensa kacamata ini dilengkapi dengan teknologi augmented reality yang dapat menampilkan informasi tentang lingkungan sekitar, seperti lokasi musuh, objek berbahaya, dan bahkan kondisi lingkungan. Selain itu, kacamata ini juga dilengkapi dengan sensor inframerah yang dapat mendeteksi perbedaan suhu, sehingga Maulana dapat mendeteksi keberadaan manusia atau objek tertentu.
Kacamata ini juga dilengkapi dengan teknologi deteksi senjata yang dapat mendeteksi keberadaan senjata tajam atau senjata api yang tersembunyi. Dengan teknologi ini, Maulana dapat lebih siap dan waspada dalam menghadapi situasi berbahaya.
Dengan kacamata ini, Maulana dapat memiliki keunggulan taktis dalam menghadapi musuh dan dapat membuat keputusan yang lebih tepat dalam situasi yang genting. Kacamata ini benar-benar menjadi alat yang sangat berharga bagi Maulana dalam menjalankan misinya.
Maulana kembali nenutup pintu lemari, setelah itu berjalan ke sisi lemari dan mengangkat tangan menekan tombol, kemudian terbuka sebuah ruangan rahasia.
Ruangan rahasia di dalam kamar Maulana adalah tempat yang sangat unik dan tersembunyi. Dinding kamarnya tampak seperti dinding biasa, namun dengan mekanisme tersembunyi, sebuah pintu rahasia terbuka, memungkinkan Maulana untuk masuk ke dalam ruangan yang sangat aman.
Di dalam ruangan rahasia itu, terdapat berbagai jenis senjata api dan senjata tajam lainnya yang tersimpan dengan rapi. Senjata-senjata itu terlihat terawat dengan baik, dan Maulana dengan hati-hati memeriksa dan memeliharanya.
Ruangan itu juga dilengkapi dengan sistem keamanan yang canggih, seperti kamera pengawas dan sensor gerak, untuk memastikan bahwa tidak ada yang dapat masuk tanpa izin. Selain itu, ruangan itu juga memiliki fitur-fitur lain seperti meja kerja untuk membersihkan dan memelihara senjata, serta fasilitas untuk melakukan latihan menembak secara virtual.
Maulana merasa sangat nyaman dan aman di dalam ruangan rahasia ini, karena ia tahu bahwa tidak ada yang tahu tentang keberadaannya selain dirinya sendiri. Ruangan ini adalah tempat di mana Maulana dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan dan ancaman yang mungkin datang.
Maulana memilih senjata api yang bernama Glock 19. Glock 19 adalah pistol semi-otomatis yang populer di kalangan penegak hukum dan militer karena keandalan dan akurasinya. Senjata ini memiliki desain yang ramping dan ringan, membuatnya mudah dibawa dan digunakan.
Maulana memilih Glock 19 karena keandalannya dalam situasi tempur dan kemampuan untuk menembakkan peluru dengan cepat dan akurat. Dengan senjata ini, Maulana merasa lebih siap untuk berjaga-jaga bila musuh menggunakan senjata api.
Glock 19 juga memiliki fitur-fitur seperti penguncian pelatuk yang aman dan kemampuan untuk memasang aksesoris seperti lampu sorot atau laser sight. Maulana yakin bahwa dengan Glock 19, ia dapat menghadapi situasi berbahaya dengan lebih percaya diri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
RomanceDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
