Suasana meja makan tidak seperti biasanya, kali ini lebih rame karena kehadiran anak buah Fransis.
Maulana menyuruh anak buah Fransis ikut duduk di meja makan, karena di ruang makan itu ada banyak meja makan dengan ukuran panjang dengan kursi berjajar.
Anak buah Fransis makan dengan diam dan hati-hati, mereka semua sangat takut kalau sampai menyinggung Maulana.
Fransis sendiri telah menunjukkan pada mereka seperti apa kekejaman dan bengisnya seorang Ivan Maulana Rizky/Mizuruky Ivan yang dulu dikenal sebagai Jhon William saat masih memimpin pasukan Demon God.
Diam-diam mereka melirik Maulana, Maulana yang dikatakan Fransis sangat jauh berbeda dengan Maulana yang sekarang makan satu ruangan dengan mereka di meja makan, terutama cara memperlakukan seorang gadis bernama Firanda Firdaus.
Leaf mengira kalau Fira adalah wanita simpanan Maulana, meski Fransis mengatakan bahwa Fira adalah Istri Maulana, namun dalam dunia gelap bisa jadi itu hanya wanita simpanan atau wanita malam.
Leaf diam-diam memperhatikan Fira, ia merasa tertarik dengan gadis itu, ada rasa ingin mencicipi tubuh mungil itu, tentunya setelah Maulana bosan.
"Ketua, Istri Ketua sangat cantik." Leaf tidak bermaksud sungguh -sungguh memuji, namun memberi isyarat untuk bisa mencicipi Fira.
Fira tersipu malu, ini pertama kalinya dirinya dipuji oleh seorang pria selain Maulana dan Antonio tentunya.
Maulana mengangkat kelopak matanya menatap Leaf dingin, Leaf menelan ludah sendiri melihat tatapan mata itu, ia merasa kalau Maulana akan membunuhnya.
Leaf mengalihkan perhatian pada Fira, ia pikir jika bertanya pada Fira akan lebih baik dari pada bertanya pada Maulana.
"Nona, jika Ketua sudah bosan, bagaimana kalau datang saja padaku? Aku bisa membayar mu dengan harga mahal."
Ucapan Leaf terdengar di telinga Maulana, ia melihat ekspresi sedih dan merasa terhina dari sang Istri, Maulana tidak suka ada yang membuat Istrinya bersedih atau merasa direndahkan.
Maulana bangkit dari tempat duduknya, berjalan dengan langkah kaki tenang serta seringai bengis.
Ia mendekati Leaf yang duduk di depan Fira, berdiri di belakang pria itu, Maulana mengangkat tangan memegang kedua bahu Leaf sambil berkata dengan suara dingin,"Menurut mu, Leaf. Hadiah apa yang ingin kau minta dari ku?" Maulana mencengkram kuat bahu Leaf, namun bibirnya tetap tersenyum.
Fransis menggelengkan kepala melihat sikap mata keranjang Leaf, ia sudah memperingatkan untuk tidak menggoda Fira, sekarang malah membuat gadis itu hampir menangis.
Tubuh Leaf menegang dengan keringat dingin membasahi tubuhnya."Ke-Ketua, saya tidak akan melakukan sekarang, saya akan menunggu sampai Ketua bosan pada wanita itu."
Fira sangat kesal dengan ucapan Leaf, ia memiliki nama dan bukan wanita malam yang menjalin hubungan dengan laki-laki secara haram.
Fira bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan dengan marah ke arah Leaf, ia memperhatikan peralatan makan di atas meja, lalu mengambil centong sayur lalu menghantamkan centong sayur itu ke kepala Leaf.
"Dasar pria kurang ajar! Kau pikir aku wanita murahan yang bisa habis manis sepah dibuang?!"
Maulana melepaskan cengkraman tangannya pada kedua bahu Leaf, mundur beberapa langkah sambil menahan tawa melihat Fira memukuli Leaf.
Leaf merasa kepalanya sakit dipukul Fira, ia bangkit dari tempat duduknya lalu menatap galak gadis itu, tangannya terulur ke leher Fira lalu mencengkram kuat leher kecil itu.
Mata safir Maulana berkilat tajam, dengan cepat kilat ia memukul tangan Leaf lalu menarik tangan itu dan membanting tubuh Leaf ke lantai dengan keras.
Tidak sampai di situ, Maulana mengunci tubuh Leaf hingga tidak bisa bergerak, sebelah tangan Maulana mengambil pisau belati yang terselip di pinggangnya lalu meletakkan di leher Leaf dengan tatapan mata membunuh.
Pupil mata Leaf ketakutan ketika ujung belati itu menyentuh kulit lehernya, ia tidak mengerti kenapa Maulana lebih membela seorang wanita malam daripada anggotanya sendiri.
Fransis menghela nafas panjang lalu berkata,"Fira, hentikan Suamimu. Anak buah ku bisa kehilangan nyawa, aku minta maaf atas nama Leaf."
Fira menoleh pada sang Suami, ia pun merendahkan tubuh lalu memeluk lengan pria itu lembut."Mas, jangan bunuh dia. Dia sudah sangat ketakutan hanya dengan melihat tatapan mata Mas Ivan."
Maulana melirik sang Istri kemudian mengalihkan perhatian para Leaf, ia mengangkat sudut bibirnya melihat wajah pucat pasi Leaf, dirinya sama sekali tidak ada niat membunuh Leaf hanya saja sangat marah melihat Istri kecilnya ketakutan karena tercekik.
"Aku beri tahu padamu, siapapun kamu, jika kamu berani menyentuh Istri ku, aku pasti melenyapkan mu!"
Leaf mengangguk ketakutan, ini pertama kalinya melihat sendiri kekejaman seorang Jhon William mantan ketua Gagak Hitam.
Maulana menyimpan kembali belati miliknya lalu bangkit dari tubuh Leaf sambil membantu sang Istri berdiri.
Leaf dibantu Tree dan beberapa temannya bangkit dari posisi tengkurep nya, matanya masih menatap takut pada sosok Maulana.
Fira meraih belati di tangan sang Suami, itu adalah belati mainan yang dibeli untuk keponakannya, belati mainan itu hilang dan ternyata di tangan sang Suami.
"Kenapa belati mainan ini di tangan Mas?" Kedua alis Fira hampir menyatu saat bertanya.
Dalam sekejap eskpresi Maulana berubah, ekspresi dingin di wajahnya berubah menjadi lembut dan teduh.
Maulana mengangkat belati di tangannya, memperhatikan belati mainan tersebut kemudian tersenyum."Tadi Mas menemukan belati ini di lantai sebelum ke meja makan, Mas ambil saja siapa tahu punya anak orang."
Leaf mengedipkan matanya tidak percaya kalau ternyata dia diancam menggunakan belati mainan, ia bahkan sangat ketakutan sampai rasanya hampir kencing di celana.
Fira mengambil belati itu lalu menyimpannya dan berkata,"Ini untuk keponakanku, dia bukan orang kaya jadi tidak punya mainan. Aku membelikan beberapa mainan untuknya, salah satunya adalah belati ini."
Maulana mengangguk mengerti."Baiklah, Mas minta maaf."
Mata safir itu memperhatikan leher sang Istri yang sedikit merah akibat cekikan dari Leaf, rasanya ia sangat ingin mematahkan leher Leaf.
Fransis merasakan aura dingin dari Maulana, ia pun langsung bangkit dari tempat duduknya dan berkata,"Aku akan obati leher Istrimu. Jangan marah lagi."
Fira menyentuh lehernya, masih terasa sakit dan takut, ia merapatkan diri pada sang Suami, dirinya merasa sekarang rumah ini tidak aman lagi.
"Mas, kenapa mereka masih di sini? Apakah mereka akan menyakitiku lagi?" Fira menatap Maulana takut, ia berharap Suaminya bisa mengusir anak buah Fransis.
Maulana diam mengepalkan tangan menahan amarah dalam hati, ia merasa gagal membuat Istrinya merasa aman dan nyaman bersama nya.
"Tidak, saya dan kita semua tidak akan menyakiti Nona besar." Tree segara menjawab sebelum Maulana murka lalu pura-pura menyuruh Fira pergi dan membuat perhitungan dengan mereka semua, ingatlah bahwa seorang Suami bisa melakukan apapun demi kehormatan seorang Istri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
RomanceDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
