Episode 14

136 47 7
                                        

Suami Terbaik — Episode 14

Langkah Maulana mantap, jas hitam berkilau dengan taburan berlian di dada seolah memantulkan cahaya dari setiap sudut ruangan. Fira, yang berdiri di sampingnya, tertegun. Matanya membesar, jemarinya bergetar saat perlahan mengulurkan tangan, menyentuh permukaan jas itu dengan hati-hati, seakan takut kilau mewah itu akan lenyap bila disentuh terlalu keras. 

Ia menahan napas, lalu kalimat penuh kekaguman meluncur dari bibirnya, lirih namun sarat dengan rasa takjub: 

"Subhanallah Walhamdulillah Laillahaillallah Allahu Akbar. Sungguh barang yang sangat bagus, ini pertama kalinya aku melihatnya." 

Maulana menoleh, sebelah alisnya terangkat. Ekspresi istrinya baginya terlalu berlebihan, namun ia tahu—bagi seseorang yang jarang bersentuhan dengan dunia kemewahan, reaksi itu adalah hal yang wajar. 

Dengan suara tenang, ia menegur lembut, seakan ingin menurunkan gejolak yang sedang berkecamuk di hati Fira: 

"Sayang, jangan terlalu mengagumi perhiasan dunia. Ini hanya sebuah jas biasa, tidak perlu sampai seperti itu." 

Tangan Fira terhenti, jemarinya menggantung di udara. Pandangannya mendongak, menatap wajah sang suami dengan sorot mata tajam, alisnya hampir menyatu, menyimpan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kekaguman. 

"Aku mengagumi, tapi aku tidak memakainya. Beda dengan Paman, Paman bilang tidak mengagumi, tapi memakainya. Kenapa hanya bisa bicara tapi tidak melakukannya?!" 

Kata-kata itu meluncur seperti panah, membuat Maulana terdiam sejenak. Ia menatap istrinya dengan heran, mencoba memahami maksud di balik kalimat yang penuh sindiran itu. 

"Jadi maksudmu... Apakah Suamimu ini harus memakai jas yang ada di pasaran itu?" tanyanya, nada suaranya mengandung keheranan sekaligus sedikit tantangan. 

Fira menghela napas, seakan menyerah pada perbedaan pandangan yang tak mungkin disatukan. Bibirnya tersenyum tipis, namun matanya masih menyimpan kilau ketidaksetujuan. 

"Sudahlah, orang kaya memang beda. Sekarang kita mau kemana?" 

Kini giliran Fira yang mengalihkan arah percakapan, seakan ingin menutup perdebatan yang tak akan menemukan ujung. 

Maulana menatapnya, lalu menjawab dengan nada tenang, penuh kepastian: 

"Bukankah tadi kamu ingin ikut ke pemeran amal?" 

Fira mengangguk pelan, wajahnya kembali teduh, meski hatinya masih menyimpan riak yang belum reda. 

"Paman benar, baiklah. Ayo." 

Mereka melangkah bersama, meninggalkan ruangan yang masih dipenuhi kilau berlian dari jas hitam itu. Namun bukan cahaya permata yang menyinari hati Fira, melainkan percikan rasa ingin tahu dan pertanyaan yang belum terjawab tentang dunia kemewahan yang kini mulai menyentuh kehidupannya. 

Fira menggandeng lengan sang suami dengan erat, seolah ingin menegaskan bahwa kini tidak ada lagi jarak di antara mereka. Persatuan dua tubuh itu menghapus rasa canggung yang dulu sempat menghantui hatinya, meski sikap garang Maulana tetap tak berkurang. 

Maulana mengangguk pelan, diam-diam tersenyum melihat tingkah istrinya. Hanya sebuah kalung—The Arkavia Stars—yang mampu membuat gadis itu bersedia sepenuhnya menjadi istri yang sesungguhnya. 

Langkah mereka ringan, namun tiba-tiba berubah berat ketika pandangan mata Maulana menangkap sosok Nadia bersama Sinya. Pasangan suami istri beda usia itu berjalan berlawanan arah, bergandengan tangan dengan mesra. 

Fira semakin mengeratkan pelukan pada lengan sang suami. Kenangan pahit saat Nadia mencoba mempermalukannya di meja makan kembali terngiang, membuat hatinya bergetar. 

Suami Terbaik 2 Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang