SMA Dirgantara
Keributan terjadi dalam kelas 3 F, Rangga saat itu sedang dibuat kewalahan menghadapi sikap kurang ajar Antonio, pria itu bertengkar dengan Andrian.
Rangga berdiri di depan kelas memandang mereka frustasi, berkali-kali ia menghela nafas."Kenapa Pak Ivan belum datang? Kalau mereka dengar Pak Ivan sudah datang, pasti mereka akan diam dan kelas bisa kondusif."
Pandangan Rangga beralih pada Angga, pria itu seperti biasa mengeluarkan peralatan mak up. Rangga beralih pada murid perempuan, Naira sibuk menjambak rambut Zayda dan yang lain sibuk dengan sendirinya.
"Bagaimana cara Pak Ivan selama ini bisa mendisiplinkan mereka? Hanya dengan mendengar Pak Ivan di kantor, mereka akan diam." Rangga sungguh frustasi.
Ia mengeluarkan ponsel lalu menghubungi Maulana, di rumah sakit saat Maulana hendak merebahkan diri di atas tempat tidur, ponsel miliknya berbunyi.
Fira mengambilkan ponsel milik sang Suami lalu menyerahkan pada pria itu, Maulana menerima dengan rasa terimakasih."Assalamualaikum, Pak Rangga."
"Pak Ivan, Bapak kenapa belum datang? Biasanya Bapak tidak pernah terlambat." Rangga berjalan ke kursi meja Guru, duduk di situ sambil memperhatikan murid -murid kelas 3 F.
Dari telpon Maulana mendengar keributan di dalam kelasnya, pasti Rangga kewalahan menghadapi mereka."Pak Rangga, apakah Pak Antonio membuat masalah lagi?"
Rangga menghela nafas, ia mengusap wajahnya dengan kasar."Pak, aku sudah berusaha. Mereka berkelahi, Bapak segera datang ke sini sajalah."
Maulana menghela nafas pelan, ia diam sejenak memikirkan ucapan Rangga, memang tidak mudah menghadapi murid kelas 3F, bahkan sekolah hampir mengeluarkan mereka semua.
"Baiklah, saya akan segera kesana." Meski tubuhnya masih lemah, perutnya belum sepenuhnya terasa nyaman, tapi ia tidak tega membiarkan Rangga mengurus kelas 3F sendiri sedangkan Guru lain sudah angkat tangan.
Maulana mematikan sambungan telpon, ia menoleh pada sang Istri."Sayang, tolong ambilkan baju Mas ya."
"Mau kemana?!" tanya Fransis galak.
Fira mengangguk, ia mengambilkan kemeja dan celana milik sang Suami lalu menyerahkan pada pria itu.
"Murid kelas 3F membuat masalah lagi." Maulana meraih kemaja dan celana dari tangan Fira.
"Tapi kondisimu belum pulih, kamu yakin bisa sampai ke sekolah dengan baik-baik saja?" Fransis tidak akan percaya jika sahabatnya itu bisa, namun jika Maulana mengatakan mampu, maka dirinya tidak akan memaksa.
"InsyaAllah." Setelah memakai baju lengkap, Maulana meminta tolong Fransis melepaskan selang infus di tangannya.
Fransis hanya bisa pasrah, ia pun melakukan dengan hati-hati setelah itu dirinya pergi menemui dokter yang bertanggung jawab dan harus menandatangani surat pernyataan.
Sui menyiapkan mobil untuk Maulana, Fira terpaksa berganti seragam sekolah, padahal tadi sudah izin namun saat dirinya memeriksa nomor, ternyata malah izin pada Suami sendiri.
Fransis ikut satu mobil dengan Maulana, kali ini ia harus menjadi dokter pribadi yang baik, artinya harus cerewet.
SMA Dirgantara
Mobil Maybach hitam masuk ke dalam halaman sekolah, Sui memarkirkan mobil di tempat parkir.
Maulana keluar dari mobil, ia menutup kembali pintu mobil, sedangkan Fira keluar dari pintu mobil sebelahnya.
Fira berjalan mendekati sang Suami."Nanti aku akan izin pada Pak Rangga alasan ku telat."
"Memang tadi kamu tidak izin?" tanya Fransis di belakang Fira.
"Sudah, tapi aku kirim pesan ke Wali Kelas 3F." Fira menundukkan kepala, rasanya memalukan hingga lupa bahwa Wali Kelas 3F adalah Ivan Maulana Rizky.
Maulana tersenyum kecil, ia tahu semalam sang Istri sangat panik dan tadi pun pikirannya belum jernih hingga lupa bahwa Wali Kelas 3F adalah dirinya.
"Tidak apa, sudah ayo kita ke kelas."
Fira mengangguk, ia mengangkat kepala menatap sang Suami lalu menggesekkan kepala di lengan pria itu manja.
Kelas 3F
Angga naik ke atas meja lalu mengintip jendela kelas, ia segera turun kemudian bicara dengan lantang."Pak Ivan sudah datang!"
Serempak seluruh murid baik laki-laki maupun perempuan merapikan tempat duduk dan kembali ke tempat duduk masing-masing, bahkan Antonio dan Andrian yang sedang berkelahi harus berhenti demi keamanan.
Maulana membuka pintu kelas 3F saat telah sampai di depan pintu."Assalamualaikum." Suaranya tidak sekuat seperti biasanya, sedikit lemah dan memang tubuhnya masih terasa sangat lemah.
"Walaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." Serempak seluruh murid membalas salam Maulana.
Rangga tercengang melihat betapa mudah dan patuh murid kelas 3F setelah Maulana datang, dirinya dan beberapa Guru lainnya bahkan angkat tangan menghadapi mereka.
Maulana melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas diikuti oleh Fira di belakangnya, gadis itu berjalan mendekati Rangga."Pak Rangga, maaf saya telat. Saya tadi menunggu Mas Ivan di rumah sakit, sebenarnya saya sudah kirim pesan ke wa Bapak, tapi saya salah nomer."
Rangga mengangguk juga terkejut karena ternyata Maulana masuk rumah sakit."Baiklah, kamu boleh duduk di bangku mu."
Fira tersenyum lega kemudian berjalan ke tempat duduknya, sementara itu Rangga langsung bangkit dari tempat duduknya dan mempersilahkan Maulana untuk duduk."Pak Ivan, saya tidak tahu kalau ternyata Bapak sedang sakit."
Maulana duduk di kursi meja Guru, jika tubuhnya tidak terasa sangat lemah dan mual, ia pun tidak ingin membiarkan Rangga berdiri."Tidak apa-apa, Pak Rangga."
Rangga mengangguk, ia masih memperhatikan wajah pucat Maulana, ada perasaan bersalah dalam hati.
Sebagai seorang Guru, dirinya tidak bisa mendisiplinkan murid kelas 3F, tapi tahun ini kelas 3F Sangat sulit diatasi hingga Yusuf membawa Maulana sebagai Guru baru sekaligus sebagai Wali kelas 3F.
"Pak Rangga silahkan lanjutkan mengajar." Maulana mempersilahkan Rangga.
Rangga mengangguk, ia pun mulai mengajar."Buka buku kalian halaman 100."
Maulana diam memperhatikan murid-muridnya, terkadang ia merasa murid kelas 3F sangat lucu, saat dirinya berada dalam kelas meski dalam keadaan kurang sehat, mereka tetap diam hingga suasana kelas menjadi kondusif.
"Besok lomba gerak jalan tingkat Kecamatan." Maulana memberitahu murid-muridnya setelah Rangga selesai menerangkan dan memberi soal matematika.
"Pak Ivan, Bapak kenapa kelihatan pucat? Apakah semalam Bapak tidak bisa tidur karena memikirkan saya?" Naira bertanya dengan sungguh-sungguh. Gadis itu ahli membuyarkan konsentrasi seluruh kelas tentang lomba gerak jalan.
Maulana tersenyum kecil."Semalam Bapak tidur tanpa memikirkan mu."
"Hahahaha." Antonio tertawa mengejek."Kamu kalau menghayal jangan terlalu tinggi, Mak Lampir!"
Naira melirik Antonio galak, ia mengambil pulpen milik Fira lalu melemparkannya ke Antonio."Siapa yang kamu panggil Mak Lampir?!"
Antonio mengelak hingga lemparan Naira mengenai Angga.
Maulana menghela nafas melihat sikap Naira dan Antonio, mereka sering bertengkar namun terlihat seperti sepasang kekasih yang saling mencintai."Sudah, kalian berdua jangan bertengkar lagi. Kalian dengarkan Bapak bicara."
"Baik, Pak," jawab Antonio dan Naira bersamaan.
Perlahan Maulana bangkit dari tempat duduknya, sedangkan Rangga duduk di kursi meja kosong belakang Andrian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
RomanceDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
