Catherine dan Sinya menunggu jawaban dari Maulana, mereka tidak akan memaksa namun berharap Maulana tetap bersama mereka.
Maulana bangkit dari tempat duduknya, menoleh pada sang Istri."Sayang, ayo sholat Isya dulu."
Fira mendongakkan kepala menatap sang Suami."Mas belum memberikan jawaban pada Ayah."
"Jawaban apa? Bukankah sudah jelas, tidak mungkin seorang anak meninggalkan orang tuanya." Maulana menjawab sambil tersenyum.
Sinya bersorak kegirangan, ia bangkit dari tempat duduknya lalu berlari menghampiri Maulana dan memeluk tubuh buah hatinya."Kamu benar -benar anak yang baik."
Maulana menghela nafas."Ayah, lepaskan aku."
Maulana melepaskan pelukan Sinya."Ayah, Ayah yang sudah menjagaku dan Ibu, aku tidak mungkin memilih seorang pria yang hanya menitipkan benih pada seorang wanita tanpa bersedia bertanggung jawab."
"Tapi Mas, bukankah artinya Mas harus berbakti pada orang itu?" tanya Fira dengan suara rendah.
"Mas tidak tahu untuk hal ini." Maulana menghela nafas berat."Bagaimana cara berbakti terhadap orang seperti itu? Jika Mas diminta kembali ke Jerman dan menggantikannya memimpin Demon God, Mas akan menolak dengan tegas. Karena itu melanggar perintah Allah."
Maulana kembali duduk."Nabi Ibrahim meninggalkan keluarganya setelah nyata keluarganya tetap menyembah berhala, bahkan Allah tidak mengizinkan siapapun umat Muslim mendoakan agar kafir, meskipun saudaranya. Sedangkan yang terjadi pada Nabi Ibrahim, adalah semata karena janji yang dibuat."
"Dalam surat At Taubah ayat 114
وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ ۚ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ
Adapun permohonan ampunan Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah dia ikrarkan kepadanya. Maka, ketika jelas baginya (Ibrahim) bahwa dia (bapaknya) adalah musuh Allah, dia (Ibrahim) berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim benar-benar seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." Maulana menoleh pada Fira.
"Jadi kalau pada Carlos Santana, Mas tidak harus melakukan apapun selain menghormati, namun dia adalah seorang ketua Mafia aktif, Mas tidak memiliki kewajiban apapun untuk taat dan tetap bersamanya."
Maulana menggerakkan tangan meraih tangan sang Istri."Ayo sholat Isya dulu."
Fira mengangguk, ia pun bangkit dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Di depan ruang kerja, Nita dan Nadi tersenyum menyambut Maulana, di tangan mereka terdapat nampan berisi kue kering.
"Van, kamu pasti lelah, lihatlah." Nadia menunjukkan nampan berisi kue kering.
"Mama Nadia buatkan kue untuk mu, pasti Fira tidak membuatkan keu seperti ini kan?" Nadia melirik Fira sinis.
"Maaf, Mama Nadia. Aku tidak terlalu suka kue seperti ini, kue milik Istriku jauh lebih enak." Maulana menolak sambil tersenyum dingin.
Fira menoleh pada sang Suami, ia tidak merasa pernah membuatkan kue apapun untuk pria itu.
"Kalau begitu, minumlah jus ini, Mas. Aku yakin Fira tidak bisa membuatnya." Kali ini Nita maju selangkah mendekati Maulana, berbicara dengan senyum menggoda.
"Aku tidak tertarik, satu lagi ..." Maulana menyipitkan mata menatap Nita."Panggil aku Pak Ivan, bukankah sekarang kamu juga murid kelas 3F."
Mata kecoklatan Nita menegang, tidak terima tapi juga tidak berani melawan."Tapi ini bukan di sekolah."
Maulana mengangguk."Kalau begitu anggap aku anak mu, panggil aku Ivan, dan..." Maulana mengangkat tangan menunjuk pada Sinya yang masih berada di ruang kerja dan menatap Nita kesal."Jangan buat Suamimu kesal, jadilah Istri yang baik dan berbakti pada Suami."
Maulana kembali berjalan melewati Nita dan Nadia, tidak lupa membawa sang Istri.
Fira tersenyum senang karena Maulana tidak termakan ucapan mereka."Mas, jika Mas ingin kue seperti itu, aku bisa membuatkan?"
Maulana tersenyum manis."Bukankah kue di dalam kain bajumu lebih enak."
Kening Fira berkerut memikirkan ucapan sang Suami, wajahnya bersemu merah saat menyadari kemesuman pria itu.
"Dasar mesum."
"Itu sudah bawaan lahir, Sayang." Maulana terkekeh kecil mendengar gerutuan sang Istri.
"Kamu mau makan di sini atau di luar?" tanya Maulana sambil membuka pintu kamarnya.
"Kalau di luar, apakah Mas tidak keberatan?" Fira mengikuti Maulana masuk ke dalam kamar.
Seminggu berlalu sejak mereka tidak tinggal di Mension Mizuruky, kamar mereka tidak berubah hanya bersih dan rapi.
"Sholat adalah kewajiban bagi setiap umat Islam." Maulana melepaskan jaket hitam khusus miliknya lalu meletakkan di atas tempat tidur.
"Dalam Al Qur'an surat Hud ayat 114
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ
Dirikanlah salat pada kedua ujung hari (pagi dan petang) dan pada bagian-bagian malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik menghapus kesalahan-kesalahan. Itu adalah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah)." Maulana memutar tubuh memperhatikan sang Istri, gadis itu seperti tidak mendengarkan saat dirinya melantunkan Ayat Al Qur'an tentang perintah sholat.
Fira duduk di sofa mewah warna merah ruangan tersebut, matanya memperhatikan kamar mewah dan indah itu, meski kamar di rumah yang sekarang tidak kalah mewah, tapi baginya tetap lebih indah di Mansion Mizuruky.
Maulana berjalan mendekati Fira, sedikit membungkuk lalu mencium pipi putih itu."Ayo sholat jamaah sama Mas," katanya sambil tersenyum.
Fira mengangguk, ia bangkit dari tempat duduk lalu mengalihkan perhatian pada sang Suami."Setelah itu Mas akan ajak aku makan di luar?"
Maulana mengangguk."Iya."
"Yey." Fira bersorak kegirangan, setelah itu ia segera pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Maulana menyusul sang Istri untuk mengambil air wudhu, sementara itu di luar, Nadia dan Nita sama-sama kesal.
Mereka sangat heran dengan Maulana, pria itu sama sekali tidak menggubris mereka berdua.
Sinya mendekati Catherine."Istri ku, bagaimana kalau malam ini kamu tidur dengan ku?"
"Bagaimana dengan kedua Istri Mas itu?" Catherine menunjuk Nadia dan Nita menggunakan pandangan matanya.
Sinya menghela nafas."Biarkan saja mereka sibuk mengejar Ivan, mereka juga akan kecewa sendiri."
Catherine mengalihkan perhatian pada Sinya, menatap pria itu heran."Mas tahu mereka tidak mencintai Mas sama sekali, tapi kenapa masih ingin menikahi mereka?"
Sinya tertawa kecil."Tubuh mereka enak dinikmati." Ia kembali tersenyum memandang Istri pertamanya."Kalau dulu kamu tidak pernah diperkosa oleh bajingan itu, aku mana mungkin mau mendua."
Catherine memalingkan muka."Aku juga tidak mau seperti itu, kalau Mas masih merasa kecewa, Mas bisa menceraikan ku."
"Mana mungkin, aku tahu kamu tidak salah. Tapi sebagai laki-laki aku merasa tidak suka, karena itu aku tidak akan pernah menceraikan mu! Aku mencintaimu, kamu mencintaiku. Lagipula aku tidak bisa kehilangan Ivan, bagi ku dia tidak bersalah dan tidak pantas diperlakukan sebagai anak haram." Suara Sinya berubah sendu, ia pun tidak mengerti tentang hatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
RomanceDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
